Meng-Allah Alias Tilem

FotoL Adin (Dok. Progress).

Nilai nilai Islam — keilahian, Ruhani, Nurani atau apapun istilah yang menggambarkan menuju yang sejati itu — dibawa oleh Baginda Rasulullah lewat keteladanan mulia perilaku baiknya beliau kepada siapapun, khususnya masyarakat Mekah dan Madinah pada waktu itu.

Nilai Islam yang dibawa dan disebarkan beliau tersebut mengingatkan kembali kepada manusia bahwa kesukuan, keturunan, kabilah, status sosial, kehebatan, keunggulan, kepandaian dan apapun saja yang bersifat materiil itu adalah serendah-rendahnya bahkan sehina-hinanya nilai di hadapan Allah.

Masyarakat Arab Era Jahiliyah sangat senang dengan sanjungan, pujian, penghormatan yang didasarkan pada pandangan gelar, kemuliaan turunan, kekayaan atau kepandaian dan hal-hal materialistik lainnya, sehingga siapa yang kuat dan dianggap mulia berhak dan bebas menindas yang lemah. Siapa yang mencoba membangkang akan diperangi dengan landasan penghinaan terhadap leluhur dan kemuliaan nashobiyah atau kabilahnya.

Maka tak heran zaman awal-awal Rasulullah yang mengajak pada jalan kesejatian itu, dianggap aneh, dipandang konyol bahkan dituduh sesat.

Apa itu Islam? Ajaran apaan itu yang dibawa Muhammad? Apa-apaan Muhammad memandang Manusia itu semuanya sama, tidak ada si kaya atau si miskin, si kuat atau si lemah, si pintar atau bodoh, kepala suku atau anggota. Memandang yang membedakan pada diri manusia itu terletak pada nilai ketaatan kepada Allah dan nilai kebaikan yang luas terhadap sesama manusia dan seluruh alam. Pikiran macam apa itu, pikiran orang gila! Mungkin saya juga kalau lahir di zaman baginda Rasulullah awal berdakwah, tentu akan merasa aneh bahkan tak masuk akal, dan berpikir seperti.

Islam mengajarkan kemuliaan hidup lewat jalan ketaatan hablun minallah dan kebaikan kebaikan terhadap manusia. Allah sendiri sangat bijaksana terhadap hamba yang senantiasa berproses kepada hubungan itu, sesuai kemampuan dan kapasitas hamba-Nya.

Di zaman supra modern abad 21 ini, saya mengalami apa yang dulu dialami Baginda Rasulullah, meskipun tingkatan nilai dan kualitasnya sangat jauh dari duka derita perjuangan beliau.

Di zaman yang penuh kepalsuan ini, saya dikenalkan dengan suatu forum persaudaraan tidak formal yang mengingatkan kembali tentang kesejatian, hubungan cinta dan kebersamaan manusia dengan sang Pencipta, Allah swt ( Maiyatullah), Hubungan cinta dan kebersamaan manusia dengan Baginda Rasulullah, manusia mulia teladan seluruh alam (Maiyaturrasulullah) serta hubungan cinta dan kebersamaan sesama manusia (Maiyatunnas) yang kemudian muncul sebutan istilah budayanya yang lahir dari para Jamaah dengan sebutan “Maiyah”, Maiyahan!

Adalah konsep dasar ketauhidan di dalam forum Maiyahan.

Muhammad Ainun Nadjib atau dikenal dengan panggilan mesra Mbah Nun sebagai inisiator intrinsiknya, yang diperjalankan Allah atas kesetiaan dan komitmennya memegang prinsip-prinsip hidup yang sejati dan otentik.

Tidak merasa paling Islami, paling suci dan paling benar adalah pendidikan karakter dasar di Maiyahan.

Apa itu Maiyah? Apa Sih Tujuannya Maiyah? Gak jelas banget ngumpul dari jam 20.00 malam sampai dini hari. Katanya pengajian, tapi ada yang bermain musik. Katanya shalawatan, tapi ada yang berpuisi segala. Maiyah tidak jelas dan tidak rasional.

Lontaran pertanyaan dan pernyataan semacam itulah yang membuat saya semakin yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang, yakin bahwa Rasulullah pemberi syafa’at bagi orang orang yang taat pada ajaran keteladanannya.

Semakin saya yakin bahwa memang peran Allah dalam menciptakan DNA yang merupakan bagian dari Fitrah Allah itu benar-benar nyata dan nikmat adanya serta doa cinta dan pendidikan akhlak mulia para pendahulu itu masih tetap hidup dan terus berjalan. Janji Allah itu Pasti dan terbukti. Kepastian dan terbuktinya janji Allah itu bagian dari ke-MahaGhaib-an-Nya sendiri yang hanya cukup diimani. Cahaya Muhammad terus ada membersamai manusia yang senantiasa terus berjalan menyambut itu, Baginda Rasulullah selalu hadir lewat nilai-nilai yang disambut nuraninya manusia.

Lewat Forum Sinau Bareng Maiyah mengingatkan kita kembali tentang nilai-nilai Islam yang murni dan sejati yang dibawa oleh Rasulullah Saw 15 abad yang lalu.

Kemurnian Islam yang terletak pada sehatnya akal pikiran, tertatanya hati dan baiknya kelakuan. Ke dalam diri kita menyadari akan kelemahan, kekurangan dan dosa. Ke luar diri kita sungguhkan perilaku baik nan indah.

Ada ataupun tidak adanya kata Maiyah, ada ataupun tidak adanya sebutan nama Maiyah, bagiku tak apa apa. Sebab ada tidak adanya sesuatu adalah bagian dari kemesraan Allah Yang Maha ada, yang MengAdakan dan Mentiadakan sesuatu sebebas-bebasnya Allah.

Asalkan tidak membuat Allah Marah, tidak membuat jarak menjauh dari-Nya. Tak masalah, Tidak Apa apa, ora patheken.

Menikmati dan mensyukuri anggapan peniadaan dari manusia merupakan bagian dari kelezatan iman, Allah Ash-shomad.

Orang tua para leluhur shalihin dahulu sudah melakukannya tatkala menuju senja usia atau masih muda, yang dikenal dengan istilah tilem.

Masalah yang mendasar bagi manusia adalah menjauhkan diri dari Allah, melenyapkan kehadiran Allah di dalam akal pikiran, hati meyakini adanya segala hal di luar kehendak dan kuasa Allah, padahal hanya seolah-olah.

Terima kasih Allah yang telah dan selalu menghadirkan bimbingan lewat keteladanan manusia manusia yang MengAllah dan tilem.

Terima kasih Simbah, senantiasa mengajak, merangkul, membimbing secara langsung maupun tidak langsung untuk meng-Allah di jalan Nubuwah Rasulullah.

Semoga Simbah dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan bathin dan lahir dari Allah yang Maha Bathin dan Dhohir.

Tasikmalaya, 26 Mei 2021

Lainnya