Meneladani Akal Budi Kanjeng Nabi

Majelis Ilmu Mocopat Syafaat, Rumah Maiyah Kadipiro 17 Oktober 2021
Foto: Adin (Dok. Progress)

Oktober 2021 menjadi titimangsa istimewa dalam helatan bulanan Mocopat Syafaat selama pandemi. Setelah dua bulan vakum tadi malam kembali hadir. Di samping mengudara via YouTube CakNun, Mocopat Syafaat juga bertahap membuka ruang tatap muka. Kian malam orang-orang makin mengerubungi Rumah Maiyah, Jalan Barokah, Kadipiro. Kelonggaran ini tak mengurangi disiplin protokol kesehatan.

Keinginan berjumpa fisik kepada Mbah Nun akhirnya tertunaikan. Rindu anak dan cucu jamaah Maiyah ini terlihat dari sorot mata mereka. Tatapan wajah yang terus tertuju di atas panggung. Sesekali salah seorang jamaah mengangguk, bahkan merunduk ketika Mbah Nun mengucapkan suatu kalimat. “Kita sekarang tidak berdaya pada banyak hal. Yang berdaya hanyalah Allah,” ucap Mbah Nun.

Ketika beliau menuturkan ketakberdayaan manusia, Mbah Nun mengingatkan agar presisi memandang tiga hal. Harapan, keyakinan, dan kepastian. Ketiga hal ini Mbah Nun sebut sebagai “tiga lapis langit” yang berpaut erat dengan doa. Saat manusia berdoa maka dia hendaknya meyakini seratus persen. Namun, dia tak boleh terjebak pada pemastian. Sebab, kepastian terkabulnya harapan adalah hak prerogatif Tuhan. Manusia sekadar meyakini, Tuhan memberikan kepastian mutlak.

Dialektika tiga di antara ketiga lapis tersebut Mbah Nun tempatkan sebagai kesadaran InsyaAllah. Kesadaran ini meneguhkan betapa manusia tak berdaya, nisbi, serta niscaya terikat dengan sang pencipta. Walaupun, sepanjang perjalanan, manusia kerap kali diperlakukan tidak adil. Baik oleh sistem maupun kepemimpinan korup.

Maka, kata Mbah Nun, manusia boleh mengutarakan rasa benci. “Tapi jangan sampai kebencianmu itu menjadi alat untuk melakukan perbuatan dholim. Atau melakukan ketidakadilan kepada mereka yang kamu benci,” ungkap Mbah Nun. Bila kebencian seseorang berhilir menjadi tindakan tidak adil berarti dia belum bijaksana dan presisi.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Empat sifat Kanjeng Nabi ini meliputi shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah. Keempatnya merupakan empat sifat yang disematkan para sahabat. Mbah Nun melanjutkan, di samping keempat tersebut, terdapat satu sifat yang langsung diberikan Allah kepada Kanjeng Nabi. “Allah mendefinisikan Rasulullah itu manusia mulia yang hatinya tidak tegaan. Sifat yang azizun alaihi ma anittum, harishun alaikum, bilmu’minina raufurrahim,” imbuhnya.

Tidak tega melihat penderitaan orang lain merupakan teladan yang semestinya dipakai sebagai alat ukur kualitas kepemimpinan seseorang. Mbah Nun melihat parameter ini amatlah terukur. Jauh lebih valid ketimbang ukuran klise semacam aksesibilitas, akuntabilitas, elektabilitas, dan lain-lain. Kategori tidak tega dari Kanjeng Nabi cenderung mendasar. Tidak sebagaimana ketiga yang klise sebelumnya yang acap dipakai dan diobral politikus salon.

Penghargaan atas teladan serta sifat Rasulullah ini diwujudkan Mocopat Syafaat lewat lantunan shalawat hingga pembacaan Hizib Ijazah Ihlakul A’da’ yang didalamnya meliputi Hizib Nashr, Hizib Bahr, dan Hizib Ratib Al-Atthos. Semuanya dibacakan bersama secara khidmat. Tetabuhan rebana KiaiKanjeng turut mengiringi perapalan penuh konsentrasi. “Semua ini kita kembalikan kepada Allah melalui cinta Rasulullah. Hizib ini juga menjadi upaya perang kedalam diri kita masing-masing,” ajak Mbah Nun.

Sembari bershalawat, di samping Mbah Nun juga sudah tersedia panci besar berisi pasir. Sebagai medium, serbuk pasir tersebut akan diboyong ke jamaah setelah didoakan. Masing-masing jamaah akan mendapatkan kantong plastik kecil berisi pasir.

***

Beberapa saat kemudian, Mocopat Syafaat juga membabar perihal akal agar seimbang dengan pembahasan sebelumnya. Mas Sabrang yang tadi malam juga hadir mengajak jamaah untuk serinci mungkin memposisikan akal dan kedudukan pikiran. Dia menguraikan perbedaan antara berpikir cepat dan berpikir lambat.

Foto: Adin (Dok. Progress)

Pertama, berpikir cepat seringnya ditandai oleh pertanyaan kapan dan siapa. Cara berpikir tersebut tak membuat orang berpikir lama karena jawabannya singkat dan jelas. Kedua, cara berpikir lambat mempersyaratkan pikiran runtut, logis, dan konsisten. Biasanya diperlihatkan dengan pertanyaan mengapa dan bagaimana.

Model berpikir yang sering kebanyakan orang gunakan itu mengimplikasikan sikap seseorang. Sikap gemar menghakimi biasanya tak didasarkan atas model berpikir lambat. Sebab dia cenderung lekas memberikan justifikasi tanpa pertimbangan keutuhan berpikir. Utamanya kurang melihat aspek sebab-akibat. Menurutnya, cara berpikir tersebut juga dapat dilihat dari perbedaan antara opini dan kritik.

Lebih lanjut, beliau memetakan kedua cara berpikir itu dalam persoalan mode norma dan mode ekonomi. Kedua mode ini umumnya mengejawantah dalam setiap interaksi sosial. Tidak tepat meletakkan setiap mode berakibat pada tindakan seseorang. Mas Sabrang menyebutnya sebagai selip. “Mode paling tinggi bukan keduanya. Tapi mode yang melihat dunia sebagai permainan,” ucapnya.

Mode dunia sebagai permainan mendorong seseorang lebih reflektif. Dia mampu mempertimbangkan sesuatu di luar benar dan salah. Cara berpikir tersebut membuat seseorang bijaksana menjalankan hidup karena memahami klausul kehidupan sebagai permainan.

“Maiyah ini punya mode tertentu tidak? Kan di Maiyah ini kita memandang sesuatu yang biasanya orang kebanyakan tidak memandangnya,” tanya Mbah Nun.

Melampaui mode pandang, Mas Sabrang merespons bahwa Maiyah cenderung menawarkan kesadaran. “Bahwa kesadaran ini melihat ada pilihan mode. Opsi mana yang akan dipakai sangat cair. Maiyah melihat mode bukan sebagai sesuatu yang mutlak tapi sesuatu yang sifatnya opsi.”

Foto: Adin (Dok. Progress)

Bagi Mas Sabrang, memegang erat mode berpikir tertentu membuat seseorang terjebak satu hal. Pertama dan terutama adalah terjebak pada pengulangan kesalahan mode tertentu. “Ini yang membahayakan kalau kita fix pada mode tertentu. Jadi di Maiyah mode kita letakan sebagai pilihan. Ada dua hal yang bisa kita lihat dari sini. Yakni nature dan nurture. Nature adalah ruang kemungkinan dan nurture merupakan pemberi arah kepada eksplorasi,” ungkapnya.

Paparan Mas Sabrang menunjukkan relativitas mode berpikir. Sesuatu yang barangkali berlainan dengan domain hati. Kalau menurut istilah yang disodorkan Mbah Nun: “Pikiran bisa kita urut. Dan hati bisa kita titeni.”

Menjelang penghujung Mocopat Syafaat banyak audiens yang mengudar rasa, bertanya, serta konfirmasi. Meski di pertengahan acara sempat gerimis, jamaah justru semakin menikmati suasana dan forum tumbuh bersama Mocopat Syafaat. Setelah sekian bulan tak melingkar tadi malam jamaah seperti memperoleh obat kangen. Ketenangan.

Lainnya