Mendapati Keindahan Ketika Menatap Langit

Image by Kristopher Roller on Unsplash

Hal yang paling tidak bisa kita hindari adalah penilaian dari orang lain atas segala hal tentang diri yang tampak di pelupuk mata mereka. Sebaik-baik upaya yang selalu kita rawat dan jaga dengan baik, belum tentu sama dengan nilai yang didapat dari pandangan segala sesuatu yang di luar diri kita. Oleh karena itu, kita butuh keyakinan agar tidak mudah goyah segala pendirian yang telah dimiliki dalam diri.

Untuk mencapai keyakinan itu sendiri bukanlah sesuatu yang mudah. Orang-orang mesti mengalami pupusnya banyak harapan yang selalu berlalu-lalang dalam angan-angan pemikiran. Ataupun merasakan segala gejolak rasa takut yang mencuat akibat segala ketidakpastian harap. Tapi, itulah medan awal yang mesti dilalui sebelum masuk ke dalam ‘yakin’ terhadap sesuatu.

Kata yakin ini sendiri sering dikata sebagai sesuatu yang memiliki satu frekuensi dengan iman. Sedangkan iman sering kita dapati sebagai sesuatu yang membutuhkan proses mengingat yang berulang-ulang. Kalau dalam bahasa Jawa iman sering dikaitkan dengan éling. Dan mengingat itu sendiri bisa diaplikasikan ke dalam benyak hal, termasuk harapan-harapan yang berlalu-lalang dalam kemerdekaan pikiran. Maka dari itu, dari banyak hal itu kita membutuhkan satu Subjek tunggal yang mesti kita ingat sebagai poros utama. Karena segala sesuatu merupakan kuasa-Nya. Karena tiada daya dan kekuatan apapun yang terjadi selain atas izin dari-Nya.

La haula wa quwwata illa billahil-‘aliyyil ‘adhim.

Kalau dilihat secara eskalasi nilai, dalam Tetes Mbah Nun “Tiga Lapis Langit Doa”, kita sudah mendapati 3 lapis langit yakni langit harapan, langit keyakinan, dan lapis kepastian. Ada satu pepatah yang menyatakan bahwa manusia mungkin bisa tetap hidup tanpa makan, akan tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa harapan. Harapan adalah salah satu bagian yang terkandung oleh perasaan cinta akan sesuatu. Dan itulah yang umumnya dialami oleh manusia.

Sedangkan kita pasti seringkali mendapatkan nasihat, jangan kita banyak menggantungkan harap kepada manusia, kecuali jika kita telah siap dengan rasa kecewa. Salah satunya adalah prasangka yang ada di paragraf awal tulisan ini. Kita tidak akan pernah bisa dinilai baik oleh semua orang. Justru semakin banyak kita mendapat prasangka, di situlah orang-orang mulai banyak yang memperhatikan diri kita. Karena tuntutan dan harapan mereka menjadi ekspektasi kepada diri kita yang dianggap lebih baik.

Setelah selesai dengan harapan, kita mendapati lapisan keyakinan. Di wilayah ini, ada sebuah frekuensi keyakinan, “mereka tidak takut dan tidak pula bersedih hati.” Mereka sudah memiliki keyakinan terhadap segala ketentuan dari Allah Swt. Dalam lapisan keyakinan, kita sudah selesai dengan urusan dualisme benar-salah, baik-buruk, hitam-putih, karena keyakinan akan menuntun diri untuk dapat lepas dari segala bentuk dualisme. Lalu kita mengambil hikmah dan pelajaran dari segala sesuatu yang terjadi. Mendapati segala bentuk nikmat, sekalipun harus didapat dari hal-hal yang tidak membuat diri sendiri nyaman.

Namun, segala sesuatu yang berlebihan atau tidak sesuai porsi juga kurang baik, termasuk keyakinan yang dimiliki. Karena nantinya keyakinan akan memiliki kelemahan berbentuk merasa benar dan tepat atas segala bentuk perilaku ataupun olah sikapnya. Oleh karena itu, dalam keyakinan, kita juga mesti membutuhkan penyeimbang berupa sikap kewaspadaan. Kalau iman adalah éling, maka waspada adalah wujud tawakkal-nya.

Tidak semua hal mampu kita ikhtiarkan. Bahkan, kesadaran akan sikap ikhtiar itu sendiri merupakan sebuah bentuk syukur atas nikmat batin yang diberikan oleh-Nya. Dengan sikap kewaspadaan, kita diarahkan untuk memahami betul bahwa segala bentuk keyakinan dan kewaspadaan dalam diri merupakan bagian kecil dari qudroh dan iradah-Nya. Kita tidak akan pernah membebaskan diri dari kedua hal itu. Sesakti dan seampuh apapun kita menghias diri, kita tidak akan pernah mengubah sesuatu yang tidak sesuai cetak biru dari qudroh dan iradah-Nya. Di situlah langit kepastian, kita sebagai manusia tidak akan pernah bisa memasuki wilayah Tuhan.

Apabila 3 wilayah itu merupakan lapisan langit, lalu apa kesan pertama kita jika melihat langit? Apakah dengan memandang birunya langit atau bintang yang jatuh, lantas harapan kita akan terkabul? Lalu bagaimana jika mendung? Kalau langit memberi keyakinan, lalu mengapa ia silih berganti antara siang dan malam? Dia menjadi perantara cahaya dan hujan. Menjadi ruang bermain bagi angin dan buliran salju. Apa yang kita dapati dari satu kata “langit”?

Ketika mendengar kata langit, saya seolah mendapat tawaran akan keindahan yang tersaji. Kalau boleh dan diizinkan menawar, maka saya akan menambahkan makna keindahan, setidaknya ke dalam 2 lapiasan langit yang mampu dijangkau oleh manusia. Keindahan yang menyelimuti kedua lapisan harapan dan keyakinan. Keindahan yang memberikan warna dan penghibur agar jiwa-jiwa kembali menemui ketenangan. Keindahan yang selalu bertaburan tidak hanya berbentuk nikmat, namun juga menyajikan rahmat.

Bukankah perjumpaan kita kelak tidak bergantung pada harapan ataupun keyakinan diri atas amal saleh yang kita lakukan sekalipun melalui proses iman dan taqwa? Tidakkah perjumpaan itu hanya akan terjadi atas perkenaan keindahan rahmat-Nya? Oleh karena itu kemarin dalam Mocopat Syafaat edisi Juni, kita juga diingatkan akan kehendak-Nya dengan selalu berpijak pada insyaAllah dan meneguhkan keyakinan atas Rahmat Allah atas segala sesuatu yang hendak kita katakan dan lakukan. 

Dan semoga saja, dari penjelajahan langit harapan serta keyakinan, kita mendapati bahwa tiada keindahan itu didapat tanpa menghasilkan jiwa yang muthma’innah atau tenteram.

Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d :28).

Lainnya