Mendalami Ilmu Maiyah tentang Kedewasaan yang Seimbang

Foto: Adin (Dok. Progress)

Apabila kita mendengar kata ‘dewasa’, yang pertama kali terbersit di alam pikiran sudah pasti mengarah kepada usia. Tetapi, kata dewasa memiliki makna yang luas sesuai konteks kalimat yang digunakan. Bisa jadi dewasa mengindikasikan waktu, kematangan berpikir, atau sifat yang menunjukkan ciri dewasanya.

Untuk membatasi makna dari dewasa yang sangat luas, dalam tulisan ini saya akan lebih fokus pada apa itu “kedewasaan” menurut pemaknaan dan pengklasifikasian subjektif saya yang saya ambil dari pengalaman bermaiyah.

Kedewasaan sendiri menjadi kata sifat sesudah kata ‘dewasa’ karena telah mendapatkan imbuhan “ke-an”. Sifat dewasa sendiri tidak bisa dipatok hanya dengan rentang usia. Karena sifat dewasa ini merupakan sebuah keadaan diri/ahwal dari suatu proses kejadian. Anak kecil mungkin sudah memiliki kedewasaan pada titik tertentu. Juga sebaliknya, orang tua mungkin memiliki ciri kekanak-kanakannya. Kedewasaan tidak berbeda jauh dengan kata-kata sifat lain dalam konteks spiritual, seperti iman, sabar, ikhlas, yang merupakan suatu capaian yang bersifat naik-turun atau dinamis.

Sesuatu yang sifatnya dinamis memiliki ciri mudah didefinisikan atau dikriteriakan bahkan diupayakan untuk dapat memiliki sifat-sifat tersebut. Namun, hal yang sulit dari sesuatu yang dinamis adalah menjaganya agar seimbang, atau tidak goyah. Celakanya, apabila kita mempertahankan suatu sifat itu, dapat menimbulkan potensi lain bagi orang-otang tertentu yang memandangnya sebagai sesuatu yang idealis. Oleh karena itu, kata sifat termasuk kedewasaan ini nantinya akan sangat bergantung kepada kesadaran akan posisi dalam satu titik ruang dan waktu (empan papan).

Melihat karekteristik dari kata dewasa itu sendiri yang sangat luas. Oleh karena itu, untuk mempermudah dalam pembentukan karakter yang menunjukkan sikap kedewasaan, maka sikap ini akan dibagi ke dalam 3 bagian: pertama, dewasa secara intelektual; kedua, dewasa secara mental; dan ketiga, dewasa secara spiritual. Dari ketiga bagian ini apabila diselaraskan, harapannya akan menghasilkan kedewasaan yang seimbang dan mewujud pada moral atau akhlak pribadi yang lebih baik dalam melaksanakan tugas kekhalifaan, utamanya dalam konteks habluminannaas.

Intelektualitas yang Dewasa

Mayoritas anak-anak masih belum bisa terlalu memiiki kontrol atas keinginan mereka. Belum bisa menimbang secara tepat kapan keinginan mereka dapat terpenuhi kecuali karena ada perhatian atau perlindungan dari orang yang lebih dewasa. Dewasa secara intelektual ini akan sangat terkait dengan pola yang harus ada dalam konteks kepemimpinan. Yang lebih dewasa menjadi pemimpin bagi yang belum dewasa. Yang belum dewasa juga merasakan aman dan nyaman ketika mendapat perlindungan dari yang lebih dewasa.

Dalam serial pilot bangsa, bisa dilihat bahwa sikap kedewasaan ini akan masuk dalam porsi 10% atas. Untuk mengetahui bagaimana dewasa secara intelektual, saya mengambil khasanah ilmu dari Mas Sabrang tentang 4 pola berpikir, yaitu deklaratif, kumulatif, serial, dan paralel. Dan 4 pola berpikir ini erat kaitannya dengan 4 hal yang dibutuhkan kita untuk memilih seorang pemimpin, yakni siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah.

Pola pikir deklaratif memiliki ciri penggunaan kata “atau”, dengan kata lain pola ini hanya mengambil salah satu dari dua atau beberapa pilihan yang tersedia. Misalnya rambutan atau salak, baju dan sepatu atau tas, iya atau tidak, benar atau salah. Dari beberapa contoh opsi tersebut, insting atau naluri manusia akan memilih salah satu atas apa yang mereka anggap dapat menambah kenikmatannya. Nantinya, pola deklaratif ini sangat identik dengan sikap utama yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin, yakni siddiq atau jujur dalam menentukan suatu pilihan.

Pola deklaratif ini memiliki kelemahan jika opsi yang tersedia merupakan sebuah data pendapat. Dia hanya akan mengambil salah satu yang dianggap sesuai dengan seleranya hingga menutup kemungkinan atas data atau pendapat yang lain. Oleh karena itu, pola deklaratif ini nantinya akan berkembang menjadi pola kumulatif yang memiliki ciri penggunaan kata “dan”. Orang yang berpola pikir kumulatif mulai mampu mengambil beberapa pilihan.

Dengan kata lain orang yang memiliki pola pikir kumulatif mulai bisa dipercaya mengemban sebuah amanah. Mulai bisa menyediakan diri untuk menampung berbagai macam pendapat dan mengembannya. Meskipun, harus dengan melewati proses banyak menghitung dan mempertimbangkan.

Kemudian pola kumulatif ini berkembang menjadi serial dengan penggunaan pola “jika-maka”. Orang yang berpola-pikir serial ini mulai bisa membaca konsekuensi atau akibat dari pilihan jalan yang diambilnya, sehingga memungkinkannya menjadi seorang yang tabligh. Orang yang sudah mencapai  bisa berpikir secara serial, setidaknya dia sudah mengantongi 3 sifat yang mesti dimiliki sebagai seorang pemimpin.

Yang terakhir pola pikir paralel, yakni dengan penggunaan pola yang sama dengan serial (jika-maka) tapi banyak. Maka dari itu orang yang sanggup berpikir secara paralel tergolong ke dalam orang yang fathonah atau cerdas. Apabila seseorang mampu membaca diri dengan terbiasa niteni pola-pola pemikiran yang dipakai. Maka bisa dikatakan dirinya sudah dewasa secara intelektual.

Mentalitas yang Dewasa

Intelektualitas tanpa diimbangi dengan mentalitas ibarat macan ompong. Tidak ada keberanian untuk mengaktualisasikan apa yang sudah dimiliki. Kalaupun mental hanya dianggap sebagai sebuah kesembronoan atas sesuatu yang idealis, hal tersebut tak lebih hanyalah sebuah penilaian yang datang dari luar diri kita. Oleh karena itu, dari dalam diri kita perlu dengan baik meniti pembangunan mental yang dewasa.

Mendapati dari nilai Maiyah bahwasanya ada tiga hal yang bisa menjadi sebuah proyeksi dari mental yang dimiliki, yakni garis, bidang, dan ruang. Orang yang memahami konsep garis sebagai pembacaan mental diri didapat dari pengalaman jasad yang dialami sehari-hari, di mana pembacaan “jika-maka” atau sebab-akibatnya sangat sederhana.

Sedangkan orang yang memahami konsep bidang sebagai kumpulan garis-garis akan membaca proses sebab-akibat sebagai sebuah pola yang membutuhkan alat bantu akal sebagai proses mengolah data atau informasi yang didapat. Perbedaan dua hal tersebut dapat diumpamakan, kalau orang dengan konsep garis mendapati gatal di kulit, maka ia akan segera menggaruknya. Sedangkan orang dengan konsep bidang, apabila mendapati gatal sebagai suatu ketidaktahuan, maka ia akan menggaruknya dengan mendengarkan, belajar, ataupun bertanya.

Yang ketiga adalah manusia dengan konsep ruang, yakni orang yang sudah banyak mendapati pengalaman-pengalaman bidang sehingga akan berevolusi sehingga memungkinkan dirinya sebagai manifestasi sebuah ruang. Karena, sudah mendapati banyak sudut pandang dari pengalaman bidang. Kita sering keliru bahwa konsep manusia ruang adalah manusia yang mampu menjadi wadah atau menampung berbagai jenis orang. Padahal, konsep ruang di sini lebih mengarah ke manusia yang pandai menata atau meletakkan suatu barang/benda/perabot sesuai pada tempatnya.

Hingga akhirnya yang terlihat dari konsep ruang adalah aktualisasi mental diri, bukan pemaksaan kebenaran, kebohongan, pertengkaran, permusuhan, atau perdebatan. Melainkan sebuah keterbukaan, kejujuran, kemesraan, keharmonisan, dan keindahan. Karena itu, Mas Sabrang pernah menyampaikan bahwa untuk menjadi manusia yang memahami konsep diri sebagai ruang mungkin membutuhkan lebih banyak waktu lagi untuk kembali direnungkan.

Dewasa Secara Spiritual

Dengan mengambil perumpamaan tingkatan laku dalam Islam, dewasa secara spiritual dapat dibagi menjadi 5 klasifikasi, yaitu dewasa secara syariat, tarekat, hakikat, makrifat, dan mahabbah atau cinta. Dewasa secara syariat berciri sifatnya alamiah dan sesuai dengan ketentuan qodrat-Nya. Jika kita melihat usia sebagai tingkat kedewasaan, hal ini tergolong dalam kategori dewasa secara syariat. Kita tentu tidak asing dengan penciptaan kita sebagai manusia yaitu tidak lain hanya untuk beribadah kepada Allah Swt. (QS: 51:56)

Akan tetapi, dalam ilmu yang didapati dalam syariat, perlu sebuah aktualisasi yang nantinya akan mewujudkan dewasa secara tarekat. Di sini dibutuhkan banyak pengendalian diri karena sulit untuk mempresisikan laku dengan kata yang biasa diucapkan. Iman dan taqwa sangat ditempa dalam tarekat karena harus eling lan waspada, setidaknya untuk berkomitmen terhadap diri sendiri. Dalam hal taqwa atau sikap waspada dibutuhkan kesungguhan laku, namun ujian dalam tarekat adalah saat kita dipertemukan pada opsi atau pendapat yang memiliki prosentase kebenaran yang sama sehingga berpotensi mengendurkan kesungguhan saat lelaku. Misalnya, ada perintah untuk bersungguh-sungguh dalam ketaqwaan (3:102). Namun, disisi lain, Allah Swt. juga memberi opsi untuk bertaqwa sesuai dengan kemampuan masing-masing (64:19).

Dewasa secara hakikat pernah didapati dalam Maiyah. Mbah Nun pernah berpesan bahwa dewasa merupakan keseimbangan batin, yakni memiliki banyak pengetahuan dan penerimaan dalam membaca wujud-wujud kewajaran sosial, serta mengutamakannya di atas kewajaran pribadi. Oleh karena itu, dewasa hakikatnya lebih bersifat arif (mengetahui ke dalam) sebagai wujud pembelajaran diri. Kalaupun dewasa dimaknai sebagi sesuatu yang ‘alim (mengetahui secara meluas), perlu kelengkapan sifat hakim (kebijaksanaan).

Mbah Nun pernah mengungkapkan sebuah harapan bahwa semoga kita diberi perlindungan dari orang-orang ‘alim yang tidak bijaksana. Karena lebih baik baik dipimpin oleh orang yang dianggap bodoh tapi bijaksana daripada yang ‘alim tapi tidak bijaksana.

Lalu, terdapat dewasa secara makrifat. Intisari nilai kedewasaan dengan konteks makrifat ini juga didapati dari Mbah Nun, bahwa dewasa merupakan kebesaran jiwa serta memadainya wawasan pada suatu pihak yang bersalah dan bisa melihatnya akan menjadi suatu hikmah. Karena apapun kebenaran yang dimiliki manusia memiliki batas atau limitasi. Efeknya akan dapat dilihat dari kebiasaan untuk lebih memilih opsi untuk memaafkan daripada membalasnya. Kalaupun terbesit rasa membalas itu pun karena kelemahan dan ketidakberdayaan, dengan penuh pertimbangan dan kesadaran akan dipasrahkan kepada Allah Swt. yang sejatinya memiliki dirinya.

Dan yang terakhir dari dewasa secara spiritual adalah sikap dewasa yang penuh dengan cinta. Tapi cinta di sini lebiih mengarah ke kebiasaan menahan diri dengan menggunakan prinsip puasa. Dengan prinsip puasa, kita tidak secara otomatis dan naluriah menuruti keinginan. Kita mengenal perhitungan, sopan santun, dialektika hubungan, dan masih banyak lagi. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan kembali sebelum mengambil suatu keputusan.

Lima bagian dewasa secara spiritual ini sesungguhnya juga sangat identik dengan 5 jalan kenabian yang seringkali disampaikan oleh Alm. Syaikh Nursamad Kamba. Kalau dieskalasikan, kelima hal ini akan bermula dari kedaulatan diri sebagai syariat pondasinya, tazkiyatun-nafs atau penyucian diri sebagai upaya bertarekat, kearifan dan kebijaksanaan merupakan buah hakikatnya, amanah adalah cahaya makrifatnya, dan cinta sebagai dominasi rasa yang terwujud dalam berbagai kebiasaannya.

Setidaknya beberapa pengklasifikasian di atas merupakan hasil tadabbur diri saya pribadi atas ilmu-ilmu yang telah ditebarkan di Maiyah. Ketika saya memunguti ilmu-ilmu tersebut, saya hanya mencoba untuk menata agar lebih mudah untuk dipelajari dan dipahami susunan dan wilayah-wilayahnya bagi para pejalan Maiyah yang lain. Sekalipun, saya berkeyakinan bahwa tulisan ini masih jauh dari akurat, tetapi sekurangnya bisa mendorong penelitian dan pengembangan.

Toh, sebenarnya tidak ada ilmu yang hasilnya tidak memudahkan, namun kita banyak mendapati bahwa pengetahuan ilmu sendiri berbeda dengan pengetahuan data yang bisa diidentifikasi dengan nilai atau skor. Berbicara mengenai ilmu mungkin sangat mudah, namun yang menentukan keberhasilan diri dari memahami sebuah ilmu bukanlah nilai atau skor dari orang lain, melainkan bagaimana perubahan laku diri yang terwujud setelah mendapati ilmu-ilmu tersebut. Dan semua itu bersifat arif (ke dalam) dan hanya diri sendiri yang sebenarnya mengetahui. Wallahu a’lam bish-showab.

Lainnya