Memetakan yang Esensial dan yang Kontinjensi

Majelis Ilmu Bangbang Wetan Surabaya, 21 November 2021
Dok. bangbang Wetan

Berangkat dari pesan Mbah Nun di Padhangmbulan edisi Oktober lalu, bahwa ke depan kita diminta mengusahakan mewiridkan Hasbunallah sebanyak-banyaknya, karena menurut Mbah Nun kita ke depan akan menemui kejutan-kejutan, Majelis Bangbang Wetan edisi November (21/11) mengusung tema “Hujan Deras Hasbunallah” untuk keberangkatan kita Sinau Bareng memetakan permasalahan yang kita hadapi, beserta pertolongan Allah di setiap permasalahan hidup kita yang selama ini kita alami dan sadari.

Pada suasana malam yang mendung di Kayoon Heritage, Jl. Kemiri 19-21, Genteng, Surabaya, Majelis Bangbang Wetan dihadiri jamaah yang terundang pada pertemuan Majelis Shalawat dan Wirid Rolasan yang berlangsung pada malam 12 penanggalan Jawa. Selain itu, jamaah ada juga yang mengikuti berjalannya majelis dari siaran langsung kanal youtube Bangbang Wetan.

Pada sesi awal diskusi, saya memoderatori majelis dengan meminta beberapa perwakilan jamaah untuk berbagi pengalamannya dalam mengarungi permasalahan hidupnya. Pertanyaannya kemudian, peran dan kehadiran Allah melalui Maiyah yang seperti apa pada masing-masing pengalaman jamaah yang membantu menemukan solusi dari permasalahan yang kita hadapi?

Pengalaman Jamaah Menemukan Pertolongan Allah Melalui Maiyah

Mas Hilmi dari Surabaya menyampaikan bahwa selama pandemi dirinya mengalami hujan deras permasalahan. Dari keinginannya menikah sampai mengalami gangguan dari atasan dalam aktivitasnya sebagai seorang guru. Hilmi menyampaikan bahwa atasan di tempatnya mengajar orangnya mudah marah, apalagi ketika atasan itu mengalami ‘datang bulan’, Hilmi sering mendapat dampak kemarahannya tanpa sebab dan sering disalahkan meskipun dia tidak merasa melakukan kesalahan.

Dalam menghadapi permasalahan di tempat mengajarnya itu, setiap pagi sebelum berangkat Hilmi menyempatkan mewiridkan bismillah la haula wa quwwata illa billah, untuk memantapkan hati bahwa tanpa kekuatan dari Allah kita tidak bisa menjalani permasalahan. Dalam menghadapi permasalahan-permasalahan terutama di sekolah, Hilmi memilih jalan Allah yang disampaikan Mbah Nun di Maiyahan yaitu ngalah. Dari sikap hidup ngalah itu, Hilmi bersyukur karena dibukakan solusi dan kemudahan menghadapi masalah itu.

Pengalaman menarik selanjutnya berasal dari Dwiki Bergas Prasetyo, yang dipanggil Bergas. Sebelum kenal Maiyah, Bergas mengaku dirinya dulu pernah terjerumus dalam pergaulan teman-teman SMA yang sering mabuk-mabukan. Karena sungkan menolak ajakan dari teman-teman SMA-nya, Bergas tidak bisa lari dari kehidupan ‘gelap’-nya, yang dia sendiri mengistilahkannya sebagai aktivitas mbledos. Bergas merasa bahwa perjalanan hidupnya dulu mirip dengan salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw, yang bernama Nuaiman. Bahwa menurut Bergas, Nuaiman adalah seorang pemabuk namun suka shalawatan. Bahkan Bergas mengaku bahwa dirinya mabuk sambil bershalawat.

Dalam hati Bergas merasa capek melakukan aktivitas mabuk sampai suatu ketika pada momen mbledos-mbledos-nya ketika mendengar adzan Shubuh, Bergas mewiridkan la ilaha ilallah sesuai anjuran Mbah Nun. Setelah itu Bergas mengambil air wudhu dan shalat Shubuh sambil nangis memohon kepada Allah untuk disembuhkan dari ‘penyakit’ suka mabuk yang dideritanya.

Seiring berjalannya waktu, ternyata Allah menjawab permohonan Bergas, dengan pertanda salah satu teman SMA Bergas yang sering mengajak mabuk itu merasa kecewa kepada Bergas. Dari situ pertemanannya renggang dan dari situlah Bergas mulai bisa berjarak dengan aktivitas mabuknya. Pada ruang sunyinya karena ditinggal oleh teman karib SMA-nya, ada salah satu teman yang mengajak Bergas shalawatan di majelis shalawat dan wirid Rolasan pada momen Maulid Nabi tahun lalu. Pada momentum hadir pada Majelis Rolasan itulah akhirnya Bergas menemukan kenyamanan untuk terus bermaiyah dan mengaku jatuh cinta dengan Maiyah setelah mendengar nomor KiaiKanjeng, salah satunya, Jalan Sunyi.

“Ternyata shalawatan dengan sadar itu enak, daripada shalawatan dengan mledos”, ungkapnya sambil tertawa bahagia.

Persentuhan Pengalaman Hidup Jamaah dengan Ayat Al-Qur’an

Sepengalaman dengan Bergas, yang mengalami kenakalan remaja termasuk mbledos adalah Karisma pemuda asal Simo Gunung Barat Tol Surabaya Barat. Ia menemukan kecocokan apa yang dialami dan carinya selama ini dengan apa yang disampaikan Mbah Nun terutama pada wirid In lam yakun bika ‘alayya ghadlabun fala ubali, terhadap apapun segala permasalahan yang Karisma alami asal Allah tidak marah maka dia tak peduli. Wirid itu yang menurutnya bisa menenangkan dirinya ketika menghadapi gejolak masalah. Apalagi seiring berjalannya waktu Maiyahan, dia bertemu dengan ayat Yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah. Irji’ii ilaa rabbiki raadhiyatan mardhiyyah. Pada ayat itu dia mentadabburi bahwa jika ingin mempunyai hati yang tenang, maka kita harus ridha terhadap segala cobaan dan ketentuan Allah, baru meminta ridha Allah.

Kedua bekal itu yang dia pegang betul dalam menjalani hidup. Maka dia bersyukur bahwa melalui Mbah Nun dia dituntun untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an dalam menjawab permasalahan hidup ini. Dia menyadari bahwa ayat-ayat Tuhan yang ada di dalam Al-Qur’an merupakan bekal semua manusia dalam menjalani hidup.

Ada pengalaman jamaah yang tidak kalah menariknya dari Bergas. Dia bernama Yul dari Gresik. Pengalaman hujan deras permasalahan yang terasa berat bagi Yul terjadi Agustus kemarin. Pasalnya pada Agustus kemarin istri Yul meninggal. Satu tahun menikah, tiga minggu setelah menikah istri Yul dianugerahi sakit gagal ginjal. Sebelas bulan Yul bolak-balik menemani sang istri cuci darah ke rumah sakit, sampai pada akhirnya meninggal pada akhir Agustus.

Pada posisi yang terasa berat menjalani ujian dari Allah itu, Yul ingat dawuhe Mbah Nun bahwa dalam posisi seberat apapun menjalani ujian dari Allah, kita harus ridha dan ikhlas. “innalillahi wa inna ilaihi rajiun, terhadap segala cobaan dari Allah kita harus ridha dan ikhlas menerimanya, serta segala cobaan itu kita pasrahkan kembali ke Tuhan. Kita kembalikan kepada Tuhan, karena kita menyadari bahwa apapun cobaan yang diberikan ke kita adalah bentuk kasih sayang Allah, dan Allah tahu bahwa kita kuat menjalaninya,” tegasnya.

Cobaan yang dialami dia pahami sebagai bentuk kasih sayang Tuhan kepadanya, sehingga pada akhirnya Yul bisa menerima itu semua dengan ikhlas.

Sebelum menuju pembahasan inti yang akan dibersamai Mas Sabrang, Mas Acang, dan Mas Aminullah, Girikustik membawakan nomor dari Dewa 19 untuk mengiringi perjalanan para narasumber dari transit menuju panggung membersamai kita sinau malam itu. Girikustik ini adalah sekumpulan pemuda yang berteman sejak SMA dan sama-sama punya hobi bermusik.

Selain hobi bermusik, mereka juga mempunyai hobi mendukung klub sepakbola. Klub Persebaya yang pada akhirnya mempertemukannya dengan sekumpulan orang yang sama mendukung klub Persebaya dan sekaligus gemar shalawatan dan Sinau Bareng di setiap Maiyahan berlangsung. Maka perkumpulan pendukung klub Persebaya dan yang gemar Maiyahan menamakan entitasnya sebagai Bonek Maiyah.

Tidak Putus Asa Terhadap Kemurahan Allah

Menuju sesi pembahasan inti, Mas Acang nglemeki pembahasan dengan sedikit pemahaman bahwa Hasbunallah yang menjadi tema malam itu ‘kan yang dimaksudkan adalah pertolongan Allah, sedangkan menurut sepemahaman Mas Acang, Hasbunallah itu bermaksud cukuplah Allah. Mengutip tulisan Kebon (108 dari 241) berjudul “Hanya Allah. Tapi Allah Tidak Hanya.” bahwa yang dimaksud cukuplah Allah itu mau ditolong atau tidak oleh Allah, ya cukup. Tinggal bagaimana kita memaknai Hasbunallah itu.

Dok. bangbang Wetan

Menurut Mas Acang, wajar saja kalau kita sambat atau putus asa terhadap keadaan yang kita alami seperti sekarang ini, tetapi yang tepat ‘kan tidak boleh adalah berputus asa terhadap kemurahan Allah.

Perihal permasalahan yang kita alami yang seakan-akan tidak pernah selesai, menurut Mas Acang masalah itu tidak berdiri sendiri. Setiap masalah itu saling berkaitan satu sama lain. Mas Sabrang mengistilahkan permasalahan yang terjadi itu sebenarnya saling berkaitan sebagai wicked problem.

Mas Sabrang merespons tema dengan mengajak memecahkan kembali apa yang sebelumnya disampaikan Mas Acang tentang permasalahan yang sebenarnya saling berkaitan. Pemahaman dasar dari Mas Sabrang merespons tema tentang pertolongan Tuhan, jika pertolongan Tuhan kita ikrarkan berarti ada kemungkinan Tuhan tidak menolong. Apakah selama ini Tuhan tidak pernah menolong? Kalau mau berbicara tentang bantuan Tuhan, tidak pada spesifik waktu. Menurut Mas Sabrang bantuan Tuhan terjadi setiap saat dan di semua tempat.

Esensial dan Kontinjensi

Mas Sabrang mengistilahkan Esensial dan Kontinjensi untuk memetakan pemahaman kita terhadap pertolongan Tuhan. Kontinjensi itu ada atau tidak ada, bisa. Sedangkan Esensial itu harus ada. Misalnya kalau kita berbicara ‘sepiring’. Sepiring bisa ada sepiring nasi goreng atau tempe. Nasi goreng atau tempe itu kontinjensi, artinya boleh ada atau boleh tidak ada. Tapi kalau kita berbicara sepiring, harus ada piringnya. Kita tidak bisa berbicara sepiring tempe jika tidak ada piringnya, itulah esensial.

Kalau kita berbicara bantuan Tuhan, seolah-olah bantuan Tuhan bagian dari kontinjensi. Kita menyangka bantuan Tuhan kadang ada, kadang tidak. Padahal keberadaan kita di sini, esensialnya harus ada support dari Tuhan.

Misalnya kalau Tuhan tidak mengizinkan, tidak membuat jagat raya dan membuat jarak bumi dengan matahari pas: bumi jika kejauhan dengan matahari akan kebanyakan es, jika terlalu dekat kebakaran, bumi berputarnya pas sehingga ada musim, hal itu sudah esensial, tidak mungkin ada yang namanya manusia. Tanpa support dari Tuhan tidak mungkin ada manusia dan sekaligus menghilangkan segala masalah kita termasuk menghilangkan hidup kita. Masalah hilang beserta manusianya, karena yang mempunyai masalah adalah manusia.

Mismanajemen Ciptaan Tuhan dan Ciptaan Manusia Sendiri

Karena ada hidup manusia-manusia, kemudian manusia mempunyai ciptaan-ciptaan. Manusia menciptakan kursi, uang sampai sistem pemerintahan. Ciptaan tersebut bukan buatan Tuhan, melainkan buatan manusia.

Tuhan ikut sertanya pada level dasar bahwa menyediakan kita hidup. Misalnya Tuhan memberi kita hujan, cuaca dan suhu yang tepat agar kita bisa hidup. Hujan sebenarnya bentuk pertolongan Tuhan yang tidak pernah berhenti. Bahwa nanti manusianya menggunduli hutan yang kemudian terjadi banjir itu merupakan mismanajemen kita terhadap rezeki Tuhan, itu salah kita sendiri. “Semua masalah manusia di muka bumi itu sumbernya dari manusia itu sendiri,” jelas Mas Sabrang.

Berbicara soal uang yang merupakan ciptaan manusia, menurut Mas Sabrang gunanya uang adalah ketika kita menukarkan sumber daya yang yang kita miliki dengan uang, uang ini punya nilai simpan. Sehingga ketika suatu saat ingin membeli apapun, bisa dipakai segera. Yang kemudian terjadi perputaran sumber daya yang cepat. Uang yang merupakan ciptaan manusia, baik bagi manusia karena membantu mempercepat perputaran sumber daya yang dibutuhkan.

Pertanyaan dari Mas Sabrang kemudian, apakah mungkin ciptaan manusia dimismanajemen oleh manusia sendiri? Sedangkan kita semua paham bahwa semua hal yang dimismanajemen atau tidak tepat porsinya akan menjadi racun.

Uang yang dulunya menjadi kepanjangan dari kepemilikan benda berharga, kemudian diganti kertas supaya mudah menukarnya. Waktu itu sudah jelas bahwa setiap kertas merepresentasikan ada bukti kepemilikan benda berharga. Setelah berlangsung beberapa lama, keadaan ekonomi semakin besar, menjadikan pemahaman bahwa kepemilikan benda berharga tidak penting, yang penting ada uangnya. Uang pada akhirnya tidak merepresentasikan apa-apa selain merepresentasikan kepercayaan manusia.

Kalau uang merupakan representasi kepercayaan manusia, berarti bisa dibuat kapan saja. Kalau bisa dibuat kapan saja, yang berkuasa adalah yang membuat uang itu.

Kita sudah sedemikian rupa berhubungan satu sama lain, yang ini semua merupakan perpanjangan dari yang diciptakan oleh Tuhan. Uang yang awalnya bersambung dengan kepemilikan barang berharga berupa emas misalnya. Emas yang menciptakan Tuhan, sedangkan uang yang menciptakan manusia.

Mas Sabrang menganjurkan kita untuk nge-track problem kita kebanyakan berasal dari ciptaan manusia atau ciptaan Tuhan? Kebanyakan problem yang kita alami berasal dari ciptaan manusia. Sebab Tuhan telah memberi kita sarana dan prasarana yang lengkap untuk kita hidup. Hanya saja kita tidak bisa me-manage sarana dan prasarana dari Tuhan kita karena kita rakus dan terlalu berambisi memiliki, yang berimbas kepada semua orang karena kita berhubungan satu sama lain. Kita yang tidak mempunyai kerakusan dan ambisi kepemilikan ikut menanggung imbasnya karena kita saling berhubungan satu sama lain, itu yang disebut Sistem Dinamik. Kita tahu sendiri ketika pandemi industri yang mati duluan adalah industri yang tidak esensial.

Kesempatan kadang-kadang tidak bisa dilihat bukan karena Tuhan tidak memberi, tetapi karena kita tidak bisa menangkap. Pentingnya untuk melihat sistem yang dibuat manusia adalah salah satunya untuk melihat kesempatan-kesempatan (opportunity).

Mas Sabrang ingin menyampaikan petanya bahwa Tuhan menciptakan yang esensial. Sedangkan semua ciptaan manusia adalah kontinjensi. Coba kita track problem utama dalam hidup, kita yang membuat atau Tuhan yang membuat? Kalau kita yang membuat, nomor satu sebelum minta tolong, ya berani tanggung jawab. “Kalau berhubungan dengan Tuhan yang utama adalah bertaubat,” tegas Mas Sabrang.

Kesempatan Memecahkan Masalah

Mengutip lirik lagu Insensitive dari Mas Sabrang, Mas Acang mencoba bertanya tentang fenomena mismanajemen kita dalam mengelola hidup yang berhubungan dengan keburukan yang menular, insensitive, dan ignorance.

Keburukan yang menular, menurut Mas Sabrang, berasal dari rasa iri karena melihat orang lain mencapai sesuatu yang kita tidak bisa mencapainya. Tentang ignorance bahwa orang tidak mau check-up karena takut hasilnya buruk. Hal itu diibaratkan oleh Mas Sabrang seperti burung onta. Burung onta kalau bertemu masalah atau ancaman, kepalanya ditancapkan ke dalam pasir. Anggapannya kalau dia tidak melihat masalah, terus masalah menghilang.

Kita sebagai manusia jangan seperti burung onta yang setiap menemui masalah berusaha tidak melihat masalah itu. Kalau kita kepengin tenang, menurut Mas Sabrang, pecahkan masalahnya. Karena masalah itu ada atau tidaknya, bukan tergantung kita tahu atau tidak. Sebab masalah ya masalah. Kita tidak tahu masalah itu ada, kita tahu masalah ya tetap ada.

Kesempatan memecahkan masalah bukan lewat tidak tahu, tetapi lewat tahu. Bahwa tahu masalah itu menghasilkan kita tidak tenang, memang iya. Kalau kita tidak tenang, apa yang kita lakukan dengan ketidaktenangan? Kalau ada ketidaktenangan dalam diri kita, Mas Sabrang mengajak kita untuk membereskan masalah yang menjadi pekerjaan rumah hidup kita.

Membereskan masalah menjadikan hidup kita mempunyai misi menyelesaikan masalah. Misi menyelesaikan masalah itu penting agar kita merasakan beban. Beban itu penting karena merupakan pintu dari makna. “Kalau kita tidak pernah mengalami beban, kita tidak akan pernah merasakan bahwa hidup itu bermakna. Beban itu bisa kita lihat terutama dari sudut pandang tanggung jawab,” pungkas Mas Sabrang

Belajar Sejarah dan Arketipe dari Para Nabi

Bergeser pada pemaknaan insensitive. Menurut Mas Sabrang, biasanya orang insensitive itu karena tidak tahu petanya, tidak tahu konteks. Misalnya kita dari kecil menghitung memakai aljabar. Aljabar lahir dari dunia Islam. Kita tidak menghargai aljabar karena kita merasa bahwa matematika tidak ada hubungannya dengan hidup. Jadi kita tidak sensitive terhadap harga atau tidak menghargai aljabar itu karena kita tidak tahu sejarahnya. Terhadap angka nol saja kalau kita tahu sejarah dan konteksnya, kita akan menghargai angka nol.

Dok. bangbang Wetan

Mas Sabrang mengatakan, kita perlu belajar matematika. Belajar sejarah ditemukannya angka-angka itu, kita akan menemukan signifikansi dari angka yang kita pakai tanpa kita sadari betapa berharganya. Karena kita lahir di zaman modern, semuanya sudah tersedia dan enak. Menjadikan kita tidak bisa menghargai hal-hal yang kecil. “Pentingnya belajar sejarah, agar kita bisa bersyukur,” tegas Mas Sabrang

Berbicara soal sejarah, mengapa Al-Qur’an banyak menceritakan kisah dan perjalanan hidup para nabi? Kenapa kebanyakan 25 nabi itu yang diceritakan? Mas Sabrang mentadabburinya dengan berpendapat walaupun hidup manusia peristiwanya bermacam-macam, tetapi polanya tidak begitu banyak. Dan pola-pola yang perlu kita jadikan pegangan adalah pola-pola yang dialami para nabi dalam sejarah dan pengalaman hidupnya. Sehingga kita tidak bingung ketika menghadapi pola yang sama seperti pola yang dialami oleh para nabi.

Mas Sabrang merasa bahwa 25 cerita nabi itu adalah arketipe. Arketipe adalah pola-pola dasar yang tersedia. Pola-pola dasar disediakan oleh 25 nabi beserta responsnya. “Kita mengikuti Al-Qur’an, yang di dalamnya menceritakan para nabi dan kita berpedoman padanya. Bismillah. Kita melakukan ini semua atas nama Allah. Apapun yang terjadi karena kita mengikuti Al-Qur’an yang diturunkan Allah dan mengikuti nabi yang diutus Allah. Apapun yang terjadi pada diri kita pasti tanggung jawab Allah,” Mas Sabrang memantapkan hati jamaah dalam mengambil keputusan.

Surabaya, 22 November 2021

Lainnya