Membeli Komunitas

Foto: Adin (Dok. Progress)

Sekolah saja tidak pernah cukup. Kata-kata dari Andreas Harefa yang menghipnotis saya untuk tidak mau sehari-hari saya sekadar kuliah tok. Karena itu di semester-semester awal dulu saya keranjingan aktif di banyak kegiatan di luar kampus, utamanya adalah kegiatan seputar entrepeneurship. Salah satu diantaranya saya bergabung di sebuah komunitas entrepeneurship paling top di Indonesia saat itu.

Untuk bergabung di komunitas yang didirikan oleh Purdi E. Chandra kala itu tidaklah gratis. Saya harus merogoh kocek yang bagi saya tidak sedikit. Kurang lebih empat kali lipat dari uang saku bulanan saya. Itu saja adalah nilai setelah saya berhasil melobi diskon: Setengah harga.

Ini adalah pengalaman pertama kali saya mendapatkan pendidikan kewirausahaan yang kontinu dan intensif. Disamping saya juga kerap mengikuti berbagai seminar kewirausahaan ketengan di luar.

Selain mendapatkan materi di kelas, benefit yang saya dapatkan dari bergabung dengan komunitas tersebut adalah mendapatkan kesempatan networking. Berada di satu wahana dengan begitu banyak rekan-rekan pengusaha pemula. Sebagian anggota komunitas adalah penguasaha yang lebih mapan. Dan tidak sedikit pula para mentor yang begitu welcome, hingga sudah seperti saudara sendiri bahkan hingga hari ini.

Setelah berlalu bertahun-tahun, hari ini rekan-rekan komunitas yang seangkatan ada yang sudah makin moncer usahanya, ada yang beralih jadi pejabat pemerintah, ada yang jadi anggota Dewan, dan lain-lain. Kemudian kalau dipikir-pikir, betapa murahnya dulu ongkos yang saya bayarkan untuk membeli komunitas.

Walaupun secara nominal saat itu cukup besar, saya memutuskan untuk merogoh kocek dengan terlebih dahulu berpikir matang-matang, ternyata sekarang menjadi bagian dari komunitas tersebut adalah sebuah benefit besar dibandingkan ongkos yang harus saya bayarkan. Interaksi pengetahuan, pengalaman kolaborasi termasuk belajar dari keberhasilan dan kegagalan satu sama lain adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang.

Ekosistem Tumbuh Bersama

Waktu terus berjalan, saya tetap concern di dunia entrepreneurship. Hingga akhirnya pada masa-masa lulus kuliah, saya berkenalan dengan sebuah konsep yang bagi saya baru, yakni social-entrepeneurship.

Kewirasusahaan berbasis sosial adalah spesialisasi yang amat menarik bagi saya waktu itu. Beruntung waktu itu saya terpilih ikut mendapat beasiswa dari British Council untuk mengikuti sejumlah program social-entrepeneurship mereka. Mulai dari belajar konsep social-business hingga program documentary-journalism.

Pada social-entrepeneurship inilah, saya merasa menemukan way of life saya. Terjun di dunia social-entrepeneurship berarti memilih untuk berada di sebuah ekosistem yang bertujuan untuk bersama-sama menjadi lebih maju dengan jalan meningkatkan produktivitas sumber daya yang dimiliki masing-masing. Visi untuk maju bersama-sama itu keren, begitu pikir saya.

Ini adalah gagasan yang menakjubkan menurut saya. Sebab social-entrepeneurship sama sekali berbeda dengan konsep sosial murni di mana kita berposisi menjadi penolong dan pihak lain menjadi pihak yang harus ditolong. Namun, tidak demikian pada gagasan social-entrepenurship, di sini yang terpenting adalah bagaimana membangun ‘kolam’ bersama-sama.

Eksosistem sebuah social-entrepeneurship adalah ruang tumbuh bersama di mana semua komponen di dalamnya mempunyai peran yang sama-sama penting untuk membangun sebuah kemajuan bersama-sama. Meskipun tidak dipungkiri, aksi peran sosial murni juga bukan hal yang jelek. Bahkan berbagai inovasi social project hari ini begitu banyak bisa dijumpai. Tak harus kita punya banyak uang, cukup jadi makelarnya saja bisa, jadilah makelar sedekah. Bangun kantor yang bagus, distribusikan harta orang kaya untuk orang miskin, jadilah kantor donasi. Termasuk berbagai program hibah CSR perusahaan yang tak lagi melulu memberikan ‘ikan’ melainkan lebih suka memberikan ‘kail’ berupa kegiatan-kegiatan fasilitasi pemberdayaan.

Namun demikian, spirit tumbuh bersama inilah yang amat menjiwai laku aksi saya di medio 2014 awal-awal saya bersentuhan dengan kerja-kerja pengorganisasian di Simpul Maiyah. Kali itu adalah pelaksanaan Silaturahmi Nasional Penggiat Maiyah. Momentum silatnas ke-1 yang diikuti Simpul-Simpul Maiyah se-Nusantara. Pertemuan tersebut menghasilan kesepakatan-kesepakatan Bersama berupa empat butir piagam Baturraden:

  1. Penggiat adalah pelaku daur belajar atas permasalahan yang dialaminya sendiri di mana masalah itu berhubungan dengan permasalahan simpul Maiyah atau permasalahan lingkungan terdekatnya
  2. Simpul Maiyah menyempurnakan embrio perangkat adatnya menjadi perangkat pembentuk adat yang lengkap dan kokoh.
  3. Antar simpul Maiyah menjadi narasumber satu sama lain.
  4. Wilayah kerja penggiat Maiyah adalah pada pembangunan kekuatan komunitas, sebagai benteng terakhir dari pendudukan globalisasi.

Ya, pemahaman saya bertambah lagi bahwa arti penting dari penguatan dan penumbuhan komunitas bukan hanya karena semangat tumbuh bersama itu indah, tetapi juga karena kita sudah dikepung oleh pendudukan globalisasi. Dan kekuatan komunitas adalah benteng terakhirnya.

Embrio Perangkat Adat

Ibaratkanlah ekosistem sosial kita berada adalah sebuah suku adat. Maka identifikasi embrio-embrio potensi yang ada di dalamnya, meliputi peran-peran kepakaran, potensi-potensi untuk dieksplorasi adalah langkah pertama yang penting. Mengenali kekuatan SDM dan SDA di circle kita sendiri, untuk kemudian semua itu ditumbuhkan bersama-sama menjadi perangkat pembentuk adat.

Setiap dari kita memilih menjaga peran tertentu, menjadi perangkat untuk menjalankan fungsi tertentu, menjadi perangkat pembentuk adat. Semakin lengkap anatomi peran, semakin kokoh kekuatan komunitas kita.

Maka berbicara mengenai perangkat adat tidak melulu harus menentukan siapa kepala sukunya. Itu cukuplah di suku adat Mojok saja. Melainkan, bagaimana satu sama lain memikirkan peran sokongan yang mungkin terjadi. Contoh praktikal yang baru saja saya jumpai, baru-baru ini seorang kawan di studio fotonya membuka program foto gratis produk kuliner. Maka, satu persatu kawan-kawan dekat yang berkecimpung di dunia usaha kuliner ditawari untuk bergegas mengambil kesempatan itu.

Dari peristiwa menawarkan jasa foto produk gratis saja, andai dilakukan sensus ekonomi internal komunitas, berapa reduksi pengeluaran yang terjadi? Ini adalah definisi praktikal dari membentengi komunitas dari pengaruh globalisasi.

Kawan lain yang ahli design grafis, tidak memasang tarif yang tinggi apabila rekan-rekannya membutuhkan logo. Kawan lain lagi yang programmer, untuk kebutuhan tertentu cukup mengganti kopi saja lunas. Yang ahli akuntansi, mengajari membuat neraca dan laporan laba-rugi probono. Dan seterusnya. Perilaku semacam ini adalah hal lumrah di sekitar kita. Hanya saja karena minim apresiasi sehingga seakan-akan bukan merupakan hal yang begitu memiliki arti penting bagi ekosistem kita.

Adapun, syarat bagi kita menjadi satu kesatuan wilayah adat adalah adanya kesadaran satu teritorial. Pak Toto Raharjo pada diskusi Mafaza Eropa akhir Juli lalu kembali menggarisbawahi bahwa selain teritori yang berarti kesamaan wilayah tinggal—satu kompleks perumahan, satu dusun, dll, kesamaan cara berpikir juga merupakan teritori tersendiri.

Dan bukankah di Maiyah kita memiliki rasa bersama-sama karena adanya kesamaan cara berpikir? Itu adalah modal membangun teritori. Maka, jangan pernah Lelah menumbuhkan embrio-embrio potensi masing-masing menjadi perangkat pembentuk adat.

Begitulah, komunitas itu tidak gratis. Ada harga yang harus dibayar untuk membelinya. Harga yang tidak melulu uang, melainkan harga berupa kesungguh-sungguhan bergembira, kesungguh-sungguhan mensyukuri ekosistem yang keberadaannya bertujuan untuk memberdayakan diri kita.

Lainnya