Membaca Surat dari Tuhan (26)

Membangun Peradaban yang Adil dan Beradab

Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Dengan naik andong kami sekeluarga menuju Alun-alun Utara. Kakak, Adik, Ibu, Bu Lik duduk di belakang kusir. Saya duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja, seperti bunyi lagu anak anak. Jalan ramai. Malam libur sekolah. Banyak andong berisi keluarga dari Kotagede yang ingin menonton pasar malam Sekaten. Betapa malam mengibarkan kegembiraan bagi anak-anak dan orang tua.

Ayah, karena menjelang tengah malam nanti bertugas ronda bersama tetangga, memilih istirahat, tapi tadi pesan sama Ibu agar dibelikan martabak dan bolang-baling untuk nanti disuguhkan kepada regu ronda yang akan berkumpul di emper rumah. Andong diparkir di jalan Wijilan yang waktu itu belum jadi sentra penjual gudeg. Jadi masih sepi.

Menjelang masuk Alun-alun kami sudah disambut dengan penjual jenang yang dibumbui gula Jawa dan potongan kelapa. Penjual martabak ada di sana sini, diselingi penjual brondong. Kalau penjual bolang-baling ada stand tersendiri. Juga penjual martabak langganan Ibu kalau pulang berdagang di pasar Beringharjo. Kalau ada pasar malam Sekaten, dia buka stand di dekat penjual bolang-baling.

Stok bolang-baling panas sudah menumpuk. Kalau mau membeli tidak usah menunggu. Kalau membeli martabak perlu menunggu karena martabak digoreng berdasarkan pesanan. Kami pun tertahan sebentar di depan penjual martabak yang mahir memainkan adonan kulit martabak sehingga menjadi lebar dan langsung dimasukkan ke minyak panas lalu dimasuki campuran bumbu, daging, dan telur yang telah diaduk pekat.

Pasar malam sangat ramai. Suara dari menara siaran sangat keras, berisi pengajian diselingi pengumuman anak hilang atau ada rombongan dari anu menunggu anggota rombongan di bawah menara siaran.

Suara dari macam-macam stand, termasuk stand tong setan dan stand permainan anak-anak. Ada penjual kapal mini mendemonstrasikan kapal bertenaga lilin mengelilingi baskom penuh air. Lalu agak ke dalam ada penjual mainan burung perkutut dari tanah liat yang untuk membunyikan harus dengan ditiup. Ada rebana dari lempung, boneka anak dari kayu. Yang disukai anak laki-laki adalah senapan kayu dengan per yang dapat meletup atau yang punya putaran yang bunyinya mirip senapan mesin. Tentu, ada mobil berbentuk bus mini atau truk mini dari kayu yang dicat dengan warna meriah.

Kami masuk halaman masjid Gedhe Kauman, melihat abdi dalem menabuh gamelan Sekaten sebentar, lalu kami membeli endog abang dan nasi gurih. Dimakan ditempat ditambah minuman jeruk hangat

Waktu saya kecil, Alun-alun Utara ini sangat luas, apalagi ditambah keliling plataran masjid. Ini sudah membuat kaki-kaki kecil kami capek sehingga waktu kembali ke Wijilan kami menuju tempat yang padat pengunjung. Dan sesampai di andong, hujan turun, kami berlima di balik penutup dari lapisan kulit tebal. Perjalanan pulang, andong agak pelan. Jalanan padat dan kami semua sudah mengantuk.

Itulah cara anak kecil kampungku dulu memperingati suasana Maulud Nabi dengan nonton Pasar Malam Sekaten dan ke halaman masjid njajan nasi gurih dan membeli endog abang. Dan ketika menginjak masa remaja saya dan teman-teman mengumpulkan anak-anak pengajian dari banyak pengajian anak-anak dikumpulkan di Wetan Pasar untuk pengajian bersama. Kemudian umur bertambah, saya hadir pada pengajian Akbar di serambi masjid Gedhe Kotagede. Hadirin melimpah sampai ke halaman masjid. Yang mengisi pengajian mubaligh top pada zaman itu seperti Ki Sambang Dalan, Bu Syarifah Muhtarom, dan dari luar kota, serta dari Panitia pengajian dari PHBI atau Panitia Hari Besar Islam.

Sebentar, waktu masih belajar di SD Muhammadiyah Bodon, setiap bulan Maulud diadakan peringatan Muludan. Yang selalu saya ingat adalah momentum Muludan diadakan di ruang tengah rumah orang Kalang yang diwakafkan ke Muhammadiyah. Ruang besar mirip pendapa tetapi dibangun dengan teknik arsitektur Indish. Kami duduk lesehan, Bapak dan ibu guru duduk di sebelah ujung ruangan.

Berdirilah seorang guru yang gemuk suka mendongeng lucu, Pak Zamzuri namanya. Dia mengajak para murid menyanyikan lagu Muhammadun Basyar berbahasa Arab dilengkapi terjemahan bahasa Jawa.

Muhammadun basyar laisa kal basyari, bal huwa yaqut bainal hajari, Muhammadun basyar laisa kal basyari bal huwa yaqut bainal hajari. Njeng Nabi Muhammad iku ya menungsa, nanging ora kaya lumrahe menungsa. Njeng Nabi Muhammad kaya mutiara kang ana ing satengah-tengahing sela. (Versi lain di baris terakhir: nanging ana ing tengahe sela).

Kami para murid dengan penuh semangat menyanyikan lagu wajib di bulan Maulud ini. Hati kami gembira hari-hari itu. Apalagi ketika Pak Guru kemudian bercerita kalau Nabi Muhammad ketika kecil tidak nakal, suka membantu pemomongnya menggembalakan kambing. Anak-anak bersorak, terutama yang punya pekerjaan membantu orang tua menggembalakan kambing. Saya ikut bersorak dan bertepuk tangan karena sering membantu saudara saya yang rumahnya di Prenggan, anaknya Mbah Zen yang seusia dengan saya, menggembalakan kambing Jawa yang banyak dan kuat. Bisa menarik kereta kecil beroda dua. Kami bergantian naik kereta Ben Hur ini sambil bersorak sorak. Kambing tidak marah malah ikut gembira dan berlomba lari mengelilingi lapangan berumput bernama Lapangan Karang Kotagede ini.

Lainnya