Membaca Surat dari Tuhan (8)

Photo by Masjid Pogung Dalangan on Unsplash

Ada dilema bagi orang tua dulu ketika anaknya bergerak dari balita menuju masa anak-anak dan remaja. Membiarkan anak anak itu menikmati masa indah dalam hidup dengan bermain-main sepuasnya atau mengintervensi masa bermain mereka dengan upaya pendidikan dan pengajaran di rumah atau di masjid atau malah memanfaatkan waktu luang anak-anak dengan mengajak atau memerintahkan mereka untuk bekerja.

Bermain, belajar dan bekerja. Itulah tiga dunia yang tersaji di hadapan anak zaman dahulu. Tentu yang paling banyak porsinya adalah waktu bermain. Saya mengalami masa kanak-kanak, masa anak-anak dan remaja dengan kesibukan dan keasyikan berada di tiga dunia itu bergantian. Kadang suntuk bermain kemudian terpaksa masuk dunia belajar dan pagi-pagi benar habis Subuh saya terlempar ke dunia kerja, masuk pasar Legi Kotagede untuk kulakan dagangan yang akan dipajang di warung sembako keluarga. Kadang masuk pasar kalau pas pasaran Legi dengan membawa ayam jago atau babon yang harganya lumayan mahal. Dijual dengan sudah diberi patokan harga oleh orangtua. Uang hasil penjualan ayam dipergunakan sebagai modal, untuk membeli dagangan warung sembako dan untuk membayar uang sekolah.

Tiga dunia yang tersaji untuk dimasuki anak-anak zaman itu bukanlah dunia yang eksak dan eksklusif. Dunia luwes dan inklusif. Orangtua dan anaknya sama-sama bermain dan memainkan tiga dunia sesuai kebutuhan. Belajar memang wajarnya di sekolah atau di masjid, tetapi belajar ilmu hidup termasuk Ilmu ekonomi bisa di pasar dan rumah.

Bermain biasanya dilakukan di halaman sekolah, di halaman rumah, atau di lapangan olahraga, tetapi anak-anak zaman saya bisa bermain secara improvisasi di masjid di sela mengaji, di pasar tradisional waktu Jum’at Legi pagi atau di sepanjang jalan pulang sekolah dan di sepanjang sungai Gajah Uwong. Rasa-rasanya tidak sia-sia ayah-ayah kami anak kampung dulu memanggul senjata mengusir Belanda dan Inggris yang ingin menjajah lagi setelah Jepang kalah perang melawan sekutu. Kami generasi kelahiran tahun 1950-an bisa menikmati kemerdekaan dalam arti seluas-luasnya. Menikmati kemerdekaan bermain, kemerdekaan belajar dan kemerdekaan bekerja. Juga menikmati kemerdekaan dalam beragama.

Tetapi kebebasan yang melimpah ruah seperti ada kelemahannya. Yaitu ketika saya mengaji di masjid Gedhe Kotagede, bertahun-tahun saya tidak bisa mengkhatamkan Al-Qur’an padahal umur makin bertambah angkanya dan saya dalam waktu singkat akan harus hadir sebagai generasi pengganti pengasuh pengajian anak-anak. “Arep dadi guru ngaji kok durung katam Qur’an, ngisin-ini,” kata Ayah yang waktu itu bertindak taktis dengan melarang saya mengaji di masjid Gedhe Kotagede. Ayah kemudian mengajar dan menghajar saya mengaji di rumah, di sebuah ruang di bagian timur.

Ayah menyiapkan sebuah mushaf Al-Qur’an baru yang masih menguarkan bau tinta cetak. Juga sebuah tongkat rotan sebesar ibu jari tangan. Mushaf saya paham gunanya. Tongkat rotan? Untuk apa? “Ya, untuk saya pukulkan ke meja kalau kau baca Al-Qur’annya salah”.

Mulailah malam itu, istilah SH Mintardja dalam Nagasasra Sabuk Inten, saya memasuki masa pembajakan diri. Tiap malam seperti masuk dalam gua dan diajar serta dihajar dengan penuh disiplin mengaji. Maklum, Ayah pernah nyantri di pesantren Wonokromo Pleret dan pernah cerita kalau ada Kiai yang unik, caranya memasukkan ilmu dia ke santri bandel adalah dengan memutar-mutar tongkat rotan lalu tongkat itu sesekali bergerak cepat memukul jidat atau bathuk santri yang dipilih oleh Kiai itu. Kabarnya santri yang kena pukul tongkat rotan itu kemudian menjadi santri yang mahir membaca kitab kuning. Dia menjadi santri yang pintar.

Sebagai anak zaman modern saya kurang percaya dengan kisah seperti itu. Tetapi ketika di antara malam mengerikan itu saya tersendat membaca kitab suci dan secepat kilat Ayah memegang tongkat rotan lalu dengan keras memukul meja saya kaget sungguh dan bacaan saya jadi lancar. Bahkan pernah ketika suasana menjadi amat tidak kondusif karena saya lupa dengan contoh membaca dari Ayah, tongkat rotan itu marah dan bergerak ke jidat saya.

Ayah lalu mengulang memberi contoh membaca ayat itu, dan saya menirukan sambil menangis sebagai protes. Tetapi, mirip dengan pelatih pasukan komando, Ayah tidak menurunkan wajah sangar menjadi lembut. Hanya saya dengar Ibu berjalan hilir mudik di balik dinding bambu, gelisah. Mau menolong saya tidak berani. Sebab orang tua saya sudah ada kesepakatan untuk tidak saling mengintervensi dalam mendidik anak.

Ketika Ayah menerapkan metode Mbah Ajar Dewantara berupa niteni dan niroake dengan keras seperti ini, Ibu tidak mungkin melakukan upaya untuk mengoreksi.

Sebenarnya metode Mbah Ajar Dewantara ini baik-baik saja, tetapi Ayah dengan kreatif mengkombinasi dengan metode pendidikan militer. Dan saya menjadi objek percobaan metode gabungan ini. Hasilnya, dalam waktu satu tahun saya khatam Al-Qur’an dan diperbolehkan lagi datang ke pengajian anak-anak di masjid Gedhe Kotagede, sebagai pengasuh atau guru ngaji, bukan sebagai murid. Tentu teman-teman seangkatan saya yang sudah khatam Al-Qur’an lebih dahulu menyambut kedatangan saya. “Tambah bala,” kata mereka.

Waktu berjalan terus, sambil menjadi guru ngaji untuk anak-anak, saya terus naik kelas sekolahnya. Di sekolah guru agama diajari ilmu tafsir dan waktu itu saya tertarik dengan nama-nama Surat Al-Qur’an yang kalau diterjemahkan adalah nama hewan. Ada surat Al-Baqarah yang artinya Lembu. Di dalamnya ada kisah tentang bagian dari badan lembu pilihan yang dapat menjadi sarana atau instrumen untuk membaca kembali data forensik dari sebuah kejahatan. Di dalam surat Al-Baqarah juga ada ayat tentang nyamuk.

Ada surat lain yang diberi nama Surat Al-An’am, binatang ternak, surat An-Nahl, lebah. Surat An-Naml, semut. Surat Al-‘Ankabut, laba-laba. Surat Al-Fiil, gajah. Disebutkannya hewan-hewan ini selalu berkenaan dengan momentum spiritual historis. Surat dengan ayat-ayat faktual sekaligus simbolik dan bermakna transendental tentang hadirnya hewan di tengah hiruk pikuk sejarah manusia dan alam semesta ini bagi saya cukup menarik.

Ketika membaca ayat-ayat yang mengisahkan hewan pilihan Tuhan ini imajinasi saya sering bergerak bebas dan membayangkan bagaimana akrab pergaulan antara nabi yang rasul, apalagi yang Ulul Azmi dengan Tuhan. Ada komunikasi yang langsung, tentu dengan menggunakan bahasa wahyu yang langsung masuk ke dalam kesadaran para nabi itu.

Pasti ada maksudnya semua ini. Ketika dalam surat-surat dari Tuhan yang disampaikan adalah kisah tentang momentum penting yang melibatkan hewan tertentu pasti ada maksudnya. Dengan pendekatan ayat kitab suci sebagai sumber inspirasi, saluran gagasan aspiratif, sekaligus menyimpan potensi aplikasi kita bisa mentadabburi ayat-ayat ini dengan saksama dan maksimal.

Yogyakarta, 10-11 Juni 2021.

Lainnya