Membaca Surat dari Tuhan (7)

Photo by Masjid Pogung Dalangan on Unsplash

Pada suatu malam Kamis, bertempat di sebuah rumah yang tersembunyi di antara gudang barang kiriman via kereta api dan rumah-rumah antik, teman-teman Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin (NM) sepakat untuk mendiskusikan ayat-ayat yang terdapat pada Surat Al-Maidah. Surat kelima setelah Al-Fatihah, Al-Baqarah, Ali Imran, dan surat An-Nisa’.

Surat Al-Maidah adalah Surat dari Tuhan yang isinya sangat fundamental tentang bagaimana memahami dan mengatur relasi-relasi penting antara orang-orang beriman dengan orang lain. Relasi-relasi yang lengkap. Mulai relasi teknis taktis strategis pada level teologis sampai pada level historis dan level sosiologis.

Beberapa hari sebelum pertemuan itu, saya mencoba “mempelajari” dalam arti membaca secara intensif surat ini. 

Isi surat ini cukup mengagetkan saya karena di tengah arus pemikiran yang liberal bahkan hiperliberal (yang sesungguhnya merupakan awal dari gelombang postliberalisme), di tengah arus gerakan pemikiran yang global bahkan hiperglobal (yang sesungguhnya merupakan tanda awal dari munculnya gelombang postglobalisme) dan di tengah gencarnya akhir gelombang sekularisme bahkan hipersekularisme (yang sesungguhnya merupakan wajah cerah bagi munculnya gelombang postsecularismrme) yang menyebabkan kaum Agamawan termasuk Agamawan Islam mengalami disorientasi pemikiran hampir-hampir mengalami demotivasi belajar ilmu agama serta hampir-hampir tergoda untuk mengidap penyakit disfungsi sistem agama, apa yang tersaji dalam surat Al-Maidah membangkitkan gelombang balik, secara pemikiran dan kesadaran. 

Betapa tidak, proses liberalisasi yang berlebihan, proses globalisasi yang berlebihan, proses sekularisasi yang berlebihan yang menyebabkan terjadinya jalan buntu peradaban dan kemanusiaan, oleh isi surat Al-Maidah disemprit keras keras agar dihentikan.

Pemanusiaan kembali manusia, pengagamaan kembali agama, pemerdekaan kembali kemerdekaan dalam beragama yang hakiki, dan reorientasi arah kehidupan manusia berdasar hudan, bayyinatu minal huda wal furqon, termotivasi untuk mempelajari secara produktif ilmu-ilmu kehidupan seutuhnya (Ilmu agama dan ilmu “umum” kompak manis) dan refungsionalisasi ajaran agama dan nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata di ranah privat, ranah domestik dan ranah publik sekaligus sebagaimana diisyaratkan oleh ayat-ayat dalam surat Al-Maidah menjadi prioritas utama untuk dilakukan.

Mengingat pentingnya isi surat Al-Maidah ini saya menyarankan, sebelum diskusi rutin NM, dilakukan lebih dahulu tadarus atau membaca dengan suara jahr bersama. Mengapa perlu suara jahr, bukan secara sirr dalam membaca surat Al-Maidah? Dengan membaca surat Al-Maidah secara jahr semua yang hadir akan menemukan, bertemu, dan menyerap energi ruhani ketika suara orang mengaji ini memenuhi ruangan kemudian bisa mencerahkan pikiran dan menjernihkan hati serta menenteramkan jiwa, serta makin menguatkan iman. 

Pada akhir diskusi saya mengajak teman teman NM untuk mewiridkan surat Al-Maidah secara rutin. Sebab secara intuitif saya merasa bahwa pasca reformasi (kalau sekarang pasca pandemi Corona) di mana manusia dihadapkan, dihadang bahkan ditantang oleh situasi dan kondisi yang anomalik manusia memerlukan bekal penting. Bekal itu adalah nilai dan ajaran agama yang telah dengan jelas tertulis dalam surat dari Tuhan ini. 

Isi surat Al-Maidah sungguh kompatibel dan memiliki kualitas serta kapasitas untuk menghadapi zaman yang absurd (out of harmony) dan anomalik (out of tool and loving parameter) sekarang ini.

Uniknya, surat ini disebut sebagai Surat Al-Maidah yang artinya hidangan. Hidangan kebenaran, hidangan kebaikan, hidangan keindahan, dan hidangan petunjuk dari Tuhan. Dengan menggunakan pendekatan burhani manusia dapat melakukan identifikasi masalah-masalah yang muncul di hari-hari ini. Dengan pendekatan bayani manusia dapat melakukan klarifikasi terhadap masalah-masalah yang dihadapi manusia sekarang ini. Dengan pendekatan irfani, manusia dapat melakukan konfirmasi spiritual atas terbentuknya peta masalah yang dihadapi oleh manusia sekarang ini.

Dan setelah ditelisik, ternyata tidak semua manusia berkesempatan untuk menikmati hidangan berharga ini. Sebab untuk dapat menikmati hidangan kebenaran, kebajikan, keindahan, dan hidangan petunjuk yang termaktub dalam surat Al-Maidah ini ada syaratnya.

Dan syarat utama untuk itu, manusia harus bersedia dan mantap menjadi manusia beriman atau potensial beriman. Di antara 120 ayat dalam surat Al-Maidah lebih dari 12 ayat diawali dengan ya ayyuhalladzina aamanu. Beberapa ayat diawali dengan ya ahlal kitab. Ada ayat yang mengisahkan dialog Nabi Musa dengan kaumnya.

Address ayat-ayat dalam surat Al-Maidah ini adalah kepada manusia beriman atau yang potensial beriman.

Jadi, manusia yang tidak bersedia beriman tentu punya kesulitan tertentu untuk menikmati hidangan kebenaran, hidangan keindahan, hidangan kebaikan, dan hidangan petunjuk yang secara prasmanan lezat tersaji dalam 120 ayat ini. 

Jadi memang ada baiknya mewiridkan surat ini secara rutin atau berkala, memahami artinya, melakukan tadabur makna dan mengamalkan semampunya, kita akan mendapatkan cakrawala kehidupan baru yang selain indah, nikmat juga menyegarkan. Jejak buram atau gelap dalam budaya medsos atau kuasa digital yang sering membebani batin kita segera dapat dihapus oleh kegiatan mewiridkan surat Al-Maidah ini.

Yogyakarta, 8 Juni 2021.

Lainnya