Membaca dan Melihat Indonesia Lewat Arus Bawah

Arus Bawah adalah salah satu buku karya Mbah Nun yang fenomenal. Pertama kali terbit pada 1994. Awalnya, novel Arus Bawah merupakan cerita bersambung dengan judul Gerakan Punakawan Sebuah ‘Alam Politik Mahabharata’ yang dimuat di harian Berita Buana mulai 28 Januari sampai 31 Maret 1991. Pada 1994, cerita bersambung tersebut lalu diterbitkan sebagai novel berjudul Gerakan Punakawan atawa Arus Bawah. Selanjutnya, novel ini republished pada 2014 dan 2015 dengan judul Arus Bawah. Secara keseluruhan, novel ini menyuarakan penderitaan kaum arus bawah, rakyat kecil, akibat kesewenang-wenangan para penguasa.

Novel Arus Bawah berbeda dengan novel pada umumnya. Jika dibandingkan dengan karya-karya Mbah Nun lainnya, seperti Lautan Jilbab, 99 untuk Tuhanku, atau Slilit Sang Kiai yang kental dengan nuansa Islam, novel Arus Bawah ini hampir tak menyinggung “Islam” sama sekali. Hal ini disebabkan karena materi novel ini sendiri yang berkisah tentang kehidupan punakawan di Karang Kedempel yang dipimpin oleh Pak Kades yang otoriter dan antikritik.

Di Karang Kedempel, para Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong mencoba mencari jalan keluar atas karut-marut kondisi sosial politik di dalamnya. Tema yang diangkat dalam novel ini menitikberatkan pada masalah sosial politik yang mempunyai nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pelajaran bagi pembaca.

Novel ini mengandung kritik terhadap kondisi pemerintahan (melihat pertama kali terbit, rasanya Mbah Nun mengkritik Pemerintahan Soeharto). Melalui analogi pewayangan, penulis menggambarkan rakyat sebagai punakawan. Punakawan adalah tokoh gubahan dalang yang keluar dari pakem yang telah ada dalam kisah Mahabharata. Mereka dapat dikatakan sebagai agen perubahan.

Untuk itu pulalah keempat punakawan ini diturunkan ke Karang Kedempel untuk menjadi alternatif, membawa perubahan bagi Karang Kedempel yang terlanjur larut dan enggan untuk berubah maupun berkembang. Para punakawan ini sendiri menggugat. Dalam buku ini, Mbah Nun menyuguhkan adegan di mana para punakawan mendadak tidak nyaman dengan dirinya yang selalu patuh terhadap pemerintahan Pak Kades. Mereka hendak menggugat dan ingin mengambil alih pemerintahan.

Diceritakan, pada suatu fajar, Semar, orang yang sakti mandraguna itu, orang yang kekuatannya seperti dewa dan berhati sahaja selayaknya rakyat jelata tiba-tiba hilang. Desa Karang Kedempel mendadak ribut oleh angin, langit menjadi mendung gelap seakan siap menangisi hilangnya Semar. Tapi, tidak manusia. Penduduk desa Karang Kedempel tetap bekerja seperti biasa, berkeringat, tidur, tertawa dan bangun. Tidak ada kesedihan, atau bahkan mereka lupa rasanya bersedih.

Dari ketiga adik-adiknya. Gareng yang paling gugup tak alang kepalang. Ia bergegas lari ke rumah Petruk mengabarkan bahwa Semar menghilang. Tapi dasarannya Petruk yang selalu dingin menghadapi persoalan, alhasil mereka berdua malah adu mulut.

Kakak beradik itu sudah berkumpul, Petruk selaku tuan rumah menyilakan kakak dan adiknya untuk makan terlebih dahulu. Si Bungsu, si beruk yang wajahnya mirip monyet itu tak henti-hentinya membantah nasihat kakak sulungnya. Terlebih saat ia menanggapi hilangnya Semar dengan: “Siapa? Semar? Hilang? Hilanglah! Mampus? Mampuslah!”.

Gareng sudah tak dapat lagi menahan emosi. Ia berdiri dari duduknya, tangannya mengepal berniat menghajar si bungsu. Petruk ikut berdiri, ia pegang pundak kakaknya untuk melerai. Toh, kalau memang Gareng jadi memukul Bagong, nanti siapa yang dapat mengatasi badan sebesar itu mengamuk.

Gareng masih belum menjamah makanan sama sekali, pikiranya tersandera pada Bagong. Ia muak dengan kelakuan adiknya itu. Sedangkan Bagong sendiri, dengan lahap memakan semua hidangan di depannya tanpa sadar perseteruannya dengan Gareng.

Mulut Gareng dan Petruk tercekat saat Bagong nyerocos sambil makan menanggapi omongannya Gareng. Kedua kakaknya itu tak menyangka jika apa yang diomongkan Bagong adalah untaian kalimat penuh makna, tanpa tedeng aling-aling, faktual, substansial dan konkret. Setelah selesai bicara, Bagong mendapati kedua kakaknya itu jatuh pingsan.

“Aku harus belajar memanggil Mar kepada bapakku, dan belajar dipanggil Gong oleh anak-anakku. Bukan Mar dan Gong nya itu yang penting, melainkan proses kejiwaan yang dihasilkannya”.

Pengalaman tadi pagi bersama Petruk dan Bagong membuat Gareng mendalami apa yang selama ini ia lakukan dan pikirkan, terutama tentang keadilan dan cinta kasih. Rasanya, Mbah Nun menggambarkan bahwa Gareng pada momen tersebut benar-benar limpung. Pikiran dan jasadnya tak sekoordinasi. Ia banyak melamun, takut, marah, dan sangat kesal. Tapi ia sendiri tak tahu apa yang ia rasakan.

Gareng sempat muak dengan laku yang ia perankan. Ia banyak protes, terutama perihal keadilan dan kebahagiaan. Mengapa ayahnya tidak menciptakan pasangan yang saling mencintai jika tujuannya adalah keharmonisan. Mengapa harus diciptakan curiga. Mengapa pula harus ada penjara demi merasakan kebebasan, dan banyak hal lainnya.

Belakangan Gareng mulai paham–hal ini beriringan dengan rasa lapar yang mencekik perutnya–bahwa setiap manusia memiliki dan menjalankan perannya masing-masing.

“Kalau orang terlalu lama hidup di bawah tekanan-tekanan, yang akhirnya bisa ia lakukan hanyalah meratapi kekalahan.” (Hal 37).

Sedari tadi Petruk yang coba menenangkan kakaknya. Sepeninggal Gareng dan Bagong, malah ia yang giliran kalut. Ia sangat khawatir ke kakaknya menjadi kamanungsan dan menjadi sebentuk manusia. Kalau hal itu terjadi, selama ini yang dilakukan oleh para Punakawan akan percuma.

Terhadap itu semua, para punakawan dilarang keras kehilangan peran: terutama kekhawatiran Petruk terhadap Gareng. Pertanyaan tentang Punakawan bukanlah siapa Gareng, Petruk, dan Bagong, melainkan apa yang ia kerjakan. Yang memiliki nama Gareng, Petruk, dan Bagong bukanlah seseorang, melainkan jenis ide, gerak perilaku serta arah perjuangan hidup.

Dari Petruk, kita dapat belajar tentang sikap dingin dan kelenturan. Tak heran jika ia disebut sebagai Kyai Kantong Bolong. Nama yang menjelaskan falsafah kekosongan. Jiwa tanpa dinding sehingga tak bisa digedor. Mental tanpa tembok sehingga tak bisa dirobohkan. Kekosongan tak bisa dipukul, tak luka saat di pisau, tak ada kekuatan apapun yang bisa membuatnya berkeping-keping.

Novel ini menuguhkan pada kita banyaknya filosofi hidup, seperti “Tidak. Memangya siapa Kiai Semar itu? Kiai Semar adalah kamu, adalah kalian-kalian, adalah orang-orang Karang kedempel, interaksi nurani kalian”. (Hal. 55).

“Kiai Semar itu rakyat kecil dan Dewa sekaligus, Semar adalah Dewa segala Dewa. Ia sesepuh semua Ismoyo itu, Dewa tertinggi. Di atasya hanya ada satu: yakni Sang Hyang Wenang itu sendiri.

Dan kamu tahu, Dewa tertinggi itu Rakyat biasa. Karena memang rakyatlah Dewa Tertingi. Batara Guru atau Hyang Manikmoyo, serta apalagi para Pamong dari Karang arus Kadempel, tak lebih dari petugas sejarah seperti juga Kiai Semar juga mengambil perannya untuk bertakhta di hati nurani rakyat”. (Hal. 59)

Lewat tokoh Punokawan, kita dapat belajar bagaimana posisi manusia, khususnya menjadi pejabat ketika diamanahi sebuah jabatan dan kuasa harus menggunakanya secara shiddiq. Bukan malah seenaknya udelnya menghianati rakyat. Ibu kandungnya sendiri.

Lainnya