Memastikan Kebahagiaan Dalam Hidup

Majelis Ilmu Kenduri Cinta Jakarta edisi November 2021
Dok. Kenduri Cinta.

Mbah Nun menyambung apa yang disampaikan oleh Ustadz Noorshofa, “Cita-cita setiap manusia itu semestinya adalah menjadi manusia yang berhati Muhammad dan berakal seperti Rasulullah Saw”. Mbah Nun menjelaskan kembali bahwa Muhammad bin Abdullah adalah manifestasi puncak dari penciptaan Allah yang paling sempurna. Semua informasi yang disampaikan oleh Rasulullah Saw itu selalu utuh. Ketika Malaikat Jibril mendatangi Muhammad bin Abdullah saat masih kecil, kemudian membelah dadanya untuk dibersihkan dari segala macam penyakit, Mbah Nun berpandangan bahwa peristiwa tersebut merupakan penegasan bahwa akal Muhammad bin Abdullah sudah sempurna. Malaikat Jibril hanya perlu melalukan sedikit maintenance dalam dada Muhammad bin Abdullah.

“Mulai malam ini, kita harus berusaha untuk selalu berhati Muhammad. Sudah pasti tidak bisa sekualitatif beliau, tetapi kita harus bisa mengacu kepada hati beliau,” Mbah Nun melanjutkan. Mbah Nun kemudian mengutip salah satu ayat yang juga selalu dibaca saat sebelum shalawat; Laqod jaaakum rasuulun min anfusikum aziizun ‘alaihi maa anittum bi-l-mu’miniina rouufurrohiim. Salah satu ayat yang Allah sendiri menegaskan bahwa kehadiran Rasulullah Saw merupakan salah satu implementasi dari Rahman dan Rahiimnya Allah dengan mengutus seorang Rasul dari kalangan manusia itu sendiri.

Sifat-sifat Rasulullah Saw; Shiddiq, Tabligh, Amanah, dan Fathonah dijelaskan oleh Mbah Nun bahwa sifat-sifat tersebut merupakan satu kesatuan. “Anda tidak mungkin mampu untuk Tabligh jika tidak memiliki sifat Shiddiq. Untuk mencapai sifat Amanah, Anda harus terlebih dahulu Shiddiq dan Tabligh. Sehingga kemudian Anda menjadi Fathonah,” Mbah Nun menjelaskan.

“Malam ini, saya juga membawa tema; Memastikan kebahagiaan”, lanjut Mbah Nun. Menurut Mbah Nun, bahagia itu merupakan sebuah kepastian. “Coba Anda perhatikan di sekitar Anda saat ini, apa yang tidak membuat Anda bahagia?,” tegas Mbah Nun. Kita semua dilimpahi rezeki dari Allah yang sudah disertai dengan kebahagiaan. Dari persoalan yang kecil saja, saat kita makan, kita sudah tidak dibebani oleh Allah tanggung jawab untuk mengurai kandungan dari makanan yang kita makan. Secara otomatis, gizi dalam makanan tersebut diurai oleh sistem pencernaan kita.

Saat kita menanam jagung, misalnya. Kita tidak dibebani tanggung jawab untuk ikut menumbuhkan jagung tersebut hingga menjadi pohon lalu berbuah jagung. Dalam waktu yang bersamaan, Allah memerintahkan makhluk-makhluk-Nya untuk turut serta bekerja menumbuhkan jagung tersebut.

Mbah Nun kemudian mengingatkan kepada jamaah Maiyah yang hadir malam itu bahwa setiap individu harus mampu berdaulat untuk jangan pernah sekalipun apa yang terjadi di sekitar kita saat ini, baik yang bersumber dari media massa, media sosial atau apapun saja yang sampai mengganggu batin dan mengorbankan energi dalam hati kita, yang kemudian mengakibatkan kita menjauh dari Allah dan Rasulullah Saw. Maka di awal tadi Mbah Nun menekankan akan pentingnya kita memiliki hati Muhammad Saw.

Mbah Nun kemudian kembali menukil salah satu ayat dari Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 18; wa in ta’uddu ni’matallahi laa tuhshuuhaa. Allah sendiri memberikan garansi bahwa jika sekalipun kita melakukan perhitungan atas nikmat Allah, maka tidak pernah sekalipun kita mampu menghitungnya. Karena begitu banyak nikmat dari Allah Swt yang sudah dilimpahkan kepada kita.

Dok. Kenduri Cinta.

“Allah menggembirakan kita, kenapa kita tidak bahagia?,” Mbah Nun melanjutkan, dalam dua tahun terakhir kita semua, jamaah Maiyah tidak terkecuali terdampak situasi pandemi Covid-19. Tapi, kita bisa melihat di sekitar kita, angka kriminalitas tidak naik secara drastis. “Kalian tetap bisa makan, ya nggak? Wis pokok’e sak iso-isone, mesti ono ae rejekine,Mbah Nun meneruskan.

Mbah Nun sedikit mentadabburi kembali Surat An-Nuur ayat 35, bahwa salah satu pedoman hidup manusia itu agar berjuang untuk mencapai tingkat yudhli’u walaw lam tamsashu naar. Tanpa harus dipantik terlebih dahulu, potensi dalam diri kita mampu kita keluarkan untuk kemaslahatan bersama.

Maiyahan malam itu tentu belum bisa seperti Maiyahan seperti biasanya yang selalu dipuncaki hingga jam 3 dinihari, bahkan menjelang Subuh. Dalam situasi pandemi ini kita masih tetap harus mempertimbangkan kanan-kiri kita. Salah satu harapan kita bersama tentu saja, saat semua sudah kembali berjalan normal, kita bisa kembali Maiyahan Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki, Cikini.

Salah satu pesan yang juga disampaikan oleh Mbah Nun pada malam itu adalah bahwa ketika kita menghadap Allah polos saja, tanpa hiasan-hiasan, tanpa make-up. “Kalau sama Allah itu kita polos saja, pokok’e lakoni ae. Hanya butuh keikhlasan, ndak perlu jadi orang pintar di hadapan Allah,” Mbah Nun memungkasi.

Lainnya