Memastikan Kebahagiaan Dalam Hidup

Majelis Ilmu Kenduri Cinta Jakarta edisi November 2021
Dok. Kenduri Cinta.

Minggu malam (7/11), bertempat di halaman kediaman Ustadz Noorshofa Thohir di bilangan Sèmpèr, Jakarta Utara, Kenduri Cinta diselenggarakan secara terbatas. Pada edisi November 2021 ini, karena bertempat di kediaman Ustadz Noorshofa, secara otomatis jamaah pengajian Asy-Syakirin turut sibuk mempersiapkan Kenduri Cinta edisi November ini.

Sejak awal, dilakukan proses registrasi secara terbatas, karena memang bukan hanya sebatas registrasi. Penggiat Kenduri Cinta perlu mendata bahwa peserta yang mengikuti acara ini bukan hanya taat protokol kesehatan saja, tetapi juga mereka yang sudah divaksin. Tentu saja, tindakan preventif ini merupakan hal yang wajar di saat-saat seperti ini.

Sudah lama sebenarnya teman-teman penggiat Kenduri Cinta ingin menyelanggarakan Maiyahan di kediaman Ustadz Noorshofa ini. Set up area halaman rumah Ust. Noorshofa sendiri mengingatkan sekilas dengan suasana Maiyahan Padhangmbulan ketika masih diselenggarakan di depan rumah Ibunda Mbah Nun di Menturo. Pada akhirnya, memang jika waktunya tiba, sesuatu yang sudah dinantikan pasti akan tiba saatnya. Begitu juga dengan Maiyahan Kenduri Cinta di rumah Ustadz Noorshofa ini.

Sejak bulan lalu memang sudah dirancang bahwa di bulan November ini Kenduri Cinta akan diselenggarakan secara terbatas. Beberapa opsi tempat sudah dipilih. Taman Ismail Marzuki sendiri masih dalam proses revitalisasi, sehingga belum memungkinkan untuk diselenggarakan Kenduri Cinta Cikini seperti biasanya. Gayung bersambut, ketika teman-teman Kenduri Cinta mencari opsi beberapa lokasi untuk Maiyahan, Ustadz Noorshofa menghubungi penggiat Kenduri Cinta dan menyatakan kesediaan penggunaan rumahnya untuk lokasi Maiyahan.

Mengingat situasi pandemi yang belum sepenuhnya selesai, ada banyak hal yang harus juga dikondisikan sedemikian rupa agar acara tetap berjalan dengan lancar. Memang sejak awal Maiyahan Kenduri Cinta bulan ini dirancang secara terbatas, sehingga untuk peserta sendiri pun dibuka opsi registrasi. Tentu saja, mengingat situasi akhir-akhir ini dan juga keterbatasan area untuk menampung jamaah, perlu dilakukan pembatasan. Protokol kesehatan Covid-19 pun tetap dilakukan.

Sejak siang, cuaca di Jakarta sendiri hujan deras, hampir merata. Di Jakarta Utara sendiri, hanya mendung saja. Sempat turun hujan sebentar setelah Maghrib. Teman-teman penggiat Kenduri Cinta bersama pengurus pengajian Asy-Syakirin sejak sore sudah saling berkoordinasi untuk ketertiban dan kelancaran acara. Aparat keamanan setempat pun dilibatkan. Sejak dimulai sampai berakhirnya acara, alhamdulillah tidak turun hujan.

Rangkaian acara dimulai setelah shalat maghrib. Yasinan dan Tahlil oleh Jamaah pengajian Asy-Syakirin di depan rumah. Menjelang Isya’, Mbah Nun sudah hadir di lokasi dan menuju ruang transit di dalam rumah Ustadz Noorshofa Thohir.

Ba’da Isya’, shalawat dan maulidan dilantunkan. Suasana bulan maulid Nabi masih terasa, semua jamaah yang hadir khusyuk bershalawat bersama, kemudian dipuncaki ‘indal qiyam. Salah satu khas pengajian Asy-Saykirin di kediaman Ustadz Noorshofa adalah hidangan nasi kebuli yang disantap secara bersama-sama setelah sholawatan. Malam itu pun demikian adanya. Puluhan nampan nasi kebuli dinikmati bersama-sama. Kaffa Band membawakan beberapa lagu karya Ustadz Noorshofa untuk menemani jamaah menikmati hidangan nasi kebuli.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an, surat Al Ahzab ayat 40-48 oleh Ustadz Halimi mengantarkan transformasi menuju acara inti. Mbah Nun, Ustadz Noorshofa, Ustadz Hasan Dalil, Ustadz Musa bersama beberapa penggiat Kenduri Cinta menuju panggung. Fahmi membuka acara dengan menyampaikan beberapa landasan mengenai tema Kenduri Cinta kali ini.

Dok. Kenduri Cinta.

Ustadz Noorshofa sebagai tuan rumah kemudian melambari, “Rasulullah Saw lebih dulu merasakan penderitaan orang. Beliau merasakan betul penderitaan orang lain sebelum orang itu merasakannya.” Bagi Ustadz  Noorshofa, Rasulullah Saw sendiri merupakan pembuktian ayat Nuur ‘alaa Nuur. Cahaya di atas cahaya.

Pada satu momentum isra’, Malaikat Jibril menemani Rasulullah Saw hingga menembus langit ke tujuh. Tetapi kemudian Malaikat Jibril tidak mampu meneruskan hingga ke puncak ‘Arsy. Rasulullah Saw menuju ‘Arsy sendirian. Meskipun Malaikat Jibril sendiri diciptakan dari cahaya, namun ia tidak mampu untuk menembus batas akhir langit ke tujuh pada saat mengantarkan Rasulullah Saw.

Mengutip salah satu syair shalawat Mahallul Qiyam; Man ro’a wajhaka yas’ad yaa karimal walidain. Siapapun yang memandang wajah Rasulullah Saw akan merasakan kebahagiaan yang tidak terkira.

Lainnya