Memaknai Al-Malik dan Al-Quddūs

Dok. Padhangmbulan.

Pengajian Padhangmbulan bulan April 2021, yang akan digelar nanti malam, akan memaknai Al-Malik dan Al-Quddūs. Tema itu disepakati saat teman-teman Omah Padhangmbulan saat ngobrol santai bersama Cak Mif, Cak Dil dan Cak Nang di teras ndalem kasepuhan Mentoro.

Dalam pertemuan itu Cak Dil kembali menekankan bahwa 99 Asmaul Husna pasti terkait secara langsung dalam hidup kita. Selain sebagai Nama-nama Allah yang Maha Indah, setiap dan semua nama itu mengejawantah dalam diri setiap manusia.

Persoalannya, apakah kita menyadari bahwa setiap gerak langkah kita dipandu oleh Asmaul Husna? Bagaimana kita menemukan aktualisasi setiap, salah satu atau keseluruhan nama-nama itu dalam hidup keseharian? Apakah Al-Malik dan Al-Qudus sebatas Asma yang Maha Indah bagi Allah ataukah menjadi sifat baik perilaku kita?

Jamaah Maiyah tentu memahami tadabbur Rabb, Malik, dan Ilah pada surat An-Nās. Kita dipandu oleh tiga Asma Allah untuk menentukan, merespons, mewaspadai perilaku kita sendiri. Dalam situasi apapun, pesan Mbah Nun, kita membentangkan kelapangan sifat Rabb, kasih sayang, pengayoman. Kalau pun terpaksa gunakan “jurus” Al-Malik; dan apabila sangat-sangat terpaksa baru mengeluarkan “ajian” Ilāh.

Al-Malik (huruf mim dibaca pendek), artinya adalah Raja. “Kepunyaan Allah-lah kerajaan (mulk) langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Ali Imran: 189) Kalau Allah menyebut langit dan bumi sebagai kerajaan, maka Allah adalah Al-Malik, Maha Raja di antara para raja yang ada di langit dan bumi.

Kekuasaan-Nya tidak hanya meliputi langit dan bumi. Allah Swt. adalah māliki yaumiddīn. Dia adalah Pemilik, Al-Mālik (huruf mim dibaca panjang) yang menguasai hari pembalasan. Kekuasaan, jangkau wilayah, dan kepemilikan-Nya mengatasi ruang dan waktu yang manusia pasti tidak sanggup menjangkaunya. Ia memiliki wewenang meminta pertanggungjawaban kepada hamba-Nya serta mutlak berkuasa untuk mengolah, merawat, atau menghancurkan alam semesta.

Sekuat apapun kekuasaan manusia, seotoriter bagaimana pun penguasa menggenggam otoritasnya, seambisi kayak apapun seseorang ingin melanggengkan kekuasaannya, ia tak ubahnya seekor nyamuk. Ia bisa mati kekenyangan ditimbun kekuasaan, otoritarianisme dan ambisinya sendiri.

Kekuasaan, kekayaan, atau apapun anasir mental dan kepemilikan materi yang menjerat manusia dalam sikap takabur, sejatinya bukan milik manusia. Mereka yang merampas jubah Al-Malik, hancurlah dirinya.

Mungkin, karena itu, asma Al-Quddūs, Maha Suci, dipasang berdekatan dengan Al-Malik. Ini mengingatkan manusia, terutama yang berkuasa, berharta, berilmu kerap diserimpung sikap semuci, sok suci, seolah-olah suci. Bahkan lebih dari itu: oleh para pemujanya diperlakukan suci melebihi Nabi dan Tuhan.

Mereka yang dipinjami kekuasaan memang gampang terjerembab dalam kubangan merasa diri mulia, agung, tinggi derajat sambil memandang sebelah mata siapa saja yang berada di bawahnya sebagai hina, bodoh, dan ahli neraka.

Mengapa yang merampas jubah kesucian tidak malu dan merasa terhina oleh firman Allah: “Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Q.S. Al-Hasyr: 23)

Al-Malik dan Al-Quddūs, serasa menguliti kita bahwa sekecil dan sebesar apapun kekuasaan yang dipinjamkan Allah bukan alasan untuk menganggap diri paling suci, paling benar, paling mulia. Allah meminjamkan kekuasaan-Nya agar kita menjaga kesucian manusia sebagai ahsanu taqwim dengan cara mengamankan martabat dan menyelamatkan harga dirinya.

Atau teman-teman Jamaah memiliki pandangan, pendapat, pengalaman yang autentik tentang Al-Malik dan Al-Quddus, mari berbagi dan sinau bareng di Pengajian Padhangmbulan.

Lainnya