Kebon (173)

Melego Akhirat untuk Memborong Dunia

Foto: Adin (Dok. Progress).

Ibarat Isra` Mi’raj, dimensi Gus Ud Sidoarjo seakan-akan memperlihatkan sorga, sementara dimensi lumpur seolah-olah menampakkan neraka. Maha Agung dan Maha Suci Allah yang berkenan dengan kemurahan-Nya memperjalankan hamba-Nya yang hina dina ini menelusuri kegelapan yang sangat berbahaya di hutan-hutan rimba, namun kemudian menampakkan rembulan yang menyembul di antara dua bukit memancarkan cahayanya. Yang telah menyeret hamba-hamba-Nya mengembarai padang-padang pasir kesengsaraan dan keputusasaan, sabana-sabana kekejaman dan kedunguan manusia, namun kemudian dihadirkan semburat matahari dari ujung samudera.

Kehidupan adalah kelas agung di mana Allah mengajar sebagai Maha Guru. Kurikulumnya adalah di mana, ke mana, untuk apa, dan bagaimana menempuh anugerah hidup ini dari-Nya untuk kita. Allah memaparkan Sabilillah (Sabil, orientasi tentang arah dan ujung tujuan), Syariat (Syari’, tata cara dan aturan sepanjang jalan itu), Thariqah (Thariq, bagaimana menempuh perjalanan itu), Shirath (informasi pengetahuan tentang asal usul dan titik akhir tujuan yang ditempuh).

Hampir semua lingkungan komunitas saya sejak masuk Yogya selalu “tampak abangan” secara budaya. Termasuk KiaiKanjeng dan komunitas-komunitas inti yang bermarkas di Kadipiro, bukanlah kumpulan orang-orang yang klimis, rapi, beraura santri dengan gamis dan pecinya. Kalau pakai slang Yogya, mereka lebih tepat disebut gentho-gentho, atau pakai bahasa Dinasti mereka hanyalah pathak-pathak warak.

Mereka tidak memancarkan gengsi budaya sebagai kaum santri atau golongan intelektual. Tetapi tidak ada sepetak pun wilayah dalam proses sejarah mereka di mana mereka bersikap sembrono terhadap sangkan paraning dumadi. Mereka bukan orang awam yang serabutan hati dan pikirannya. Mereka bukan preman-preman kriminal yang sehari-harinya belepotan maksiat

هُوَالْأَوَّلُوَالْآخِرُوَالظَّاهِرُوَالْبَاطِنُ
وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Sesungguhnya manusia adalah pengejawentahan Allah sendiri pada level rendah dan kadar yang amat sangat terbatas. Manusia adalah tajallullah sendiri meskipun hanya KW-3Triliun lebih.  Kalau Allah “bikulli syai`n ‘Alim”, mengetahui segala sesuatu, manusia mengetahui hanya sangat sebagian kecil dan tidak mengetahui sebagian besar dari apapun dalam kehidupan dan jagat raya. Allah Maha Dhahir dan Maha Batin, manusia hanya terciprati sepertriliun serpih bahkan lebih debu dari itu.

Tetapi manusia tetap harus memperjelas pengetahuannya tentang awal dan akhir, hulu dan hilir, pangkal dan ujung. Itu harus menjadi landasan primer semua pencarian pengetahuan, eksplorasi ilmu, kurikulum sekolah, spektrum pembelajaran tingkat tinggi kampus, bebrayan kemasyarakatan dan pengelolaan Negara. Kalau manusia hanya mengambil penggalan-penggalan kecil pendek di antara rentang antara hulu dengan hilir kehidupan, antara awal dan akhir – sebagaimana memang begitulah kehidupan manusia di zaman modern yang congkak ini – maka sejatinya mereka tidak pernah berangkat pergi karena tidak mencari dari mana asal-usulnya, maka manusia pun tak akan kembali. Mereka akan pupus dan sirna di tengah jalan. Mereka berhimpun secara global, bersatu semua, di dalam kehancuran.

Serendah-rendah derajat sosial kami sejak Dipowinatan hingga Kadipiro, sejak Menturo hingga Yogyakarta, sejak ngarit hingga Maiyah, tidak akan bersedia pupus dan musnah sirna seperti itu. Kami sangat merasa ketakutan jangan sampai termasuk di antara Allah yang sepata:

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali kepada-Nya.

Apalagi kalau kelak ternyata yang dimaksud “tidak akan kembali” itu adalah neraka, sebab Allah menemui hamba-hamba-Nya di sorga.

Allah sendiri tidak memerlukan pengakuan dan dukungan manusia untuk Maha Besar dan Maha Agung. Yang dimaknai dari ayat itu adalah senantiasa menyadari bahwa para penduduk komunitas-komunitas yang saya kisahkan itu, serta semua manusia, bahkan segala makhluk – adalah kecil, kerdil, lemah, dan tak berkuasa apa-apa, bahkan atas tumbuhnya sehelai rambut kita.

Dulu saya nyantri di Pondok Gontor yang jargonnya “Berani Hidup Tak Takut Mati, Takut Mati Jangan Hidup, Takut Hidup Mati Saja”. Founding fathers dari pedoman itu luar biasa dihidayahi oleh Allah Swt. Kalau seluruh atmosfer global yang penuh kesenjangan ekonomi, penuh perbenturan nilai, egosentrisme politik dan ketidakseimbangan sosial ini membuat kita gamang dan miris untuk meneruskan kehidupan, maka Kiai Gontor berfatwa: “Mati saja”. Apalagi bersama KiaiKanjeng dan Maiyah saya menerapkan nilai, prinsip, dan pola hidup yang “gharib” hampir 100%, yang kebanyakan penduduk bumi tidak menerapkannya.

Semua penduduk bumi kalau ke Kadipiro ketemu Zaki bertanya “Berapa tarif Kiai Kanjeng sekali manggung?”, “Berapa tarif Cak Nun sekali ceramah?” Seolah-olah mereka yang akan mengundang itu kaya raya menyamai Qorun. Memang berani dan mampu membayar berapa? Apa kriteria tarif KiaiKanjeng dan saya? Multi-genre musiknya? Kreativitas penggabungan estetika globalnya? Ketahanan dan keikhlasan 30 tahun proses kreatif dan kontribusi sosialnya? Kemudian berapa harga saya? Bagaimana menentukan angkanya? Atas dasar apa? Komprehensi ilmu dan pengetahuan? Keluasan dan kedalaman wawasan? Universalitas metodologis? Bahwa tidak pernah klise atau mengungkap sesuatu yang sudah biasa diungkap? Atau cara penyampaiannya? Teknik orasinya? Kekayaan improvisasinya sesuai dengan kebutuhan dialektika sosial budayanya? All-round talentanya? Atau apanya? Berapa harga Maiyah? Berapa tarif Sinau Bareng?

Apa yang engkau materikan dan apa yang engkau tidak materikan? Apa yang jasad apa yang roh? Jasad berupa tempe, seduhan kopi, kaos atau benda lainnya mudah dirumuskan rupiahnya. Tapi ilmu? Pendalaman? Peluasan? Detailing? Penyambungan seribu titik kawruh jagat semesta manusia yang selama berabad-abad tidak pernah dipersambungkan konteks dan nuansanya?

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ
فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ

“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong”. Apakah ada yang berpikir bahwa kami rakyat kecil dan manusia-manusia lemah ini punya keberanian untuk menjual kehidupan akhirat untuk membeli kehidupan dunia?

Lainnya