Melangkah dengan Pertemanan

Ilustrasi.
Foto: Adin (Dok Progress).

Ini adalah refleksi tentang kegiatan kepemudaan di desa. Awal-awal saya mulai memasuki pintu pergerakan kepemudaan itu, tahun-tahun pertama memberikan pelajaran bahwa menciptakan hal baik itu belum tentu menjadi kebaikan bersama jika hanya menyentuh satu dua orang.

Kegiatan di lingkup kepemudaan desa menjadi tidak berarti karena hanya dikerjakan oleh satu dua orang. Mulai dari ide, proses, sampai pada pelaksanaan bersumber dari satu dua orang saja, dan tidak melibatkan banyak pemuda. Ini menjadikan kegiatan ersebut hambar. Hambar untuk bisa membangun gerakan bersama. Hambar untuk menumbuhkan semangat bergerak atau berkegiatan.

Dari tahun-tahun awal beranjak menuju tahap evaluasi yang menghasilkan kesimpulan bahwa kita memerlukan teman-teman baru. Maka, perlu menemui satu persatu pemuda yang berpeluang mau, minimal diajak berbicara tentang kegiatan kepemudaan. Dari bertemu perlahan-lahan menjalin pertemanan. Dari pertemanan lalu membuka sumber dan gelombang gerakan-gerakan bersama. Seingat saya, mulai dari barat-timur dan utara-selatan penjuru desa perlahan-lahan saya menemui calon teman-teman baru. Menyaring kabar siapa-siapa yang bisa dan berpotensi untuk diajak berteman.

Berteman adalah menjaga silaturahmi. Meski tidak bisa bersua fisik, karena pada tahun-tahun itu saya masih menyelesaikan kuliah di Surabaya, tapi dengan alat komunikasi yang ada saya mencoba tetap mengetahui kabar dari teman. Dan apalagi bisa ada di sekitarnya saat teman sedang berada di titik bawah. Kondisi eperti ini adalah kebersentuhan hati yang sangat bisa mempererat pertemanan.

Dari pertemanan itu kita dan teman-teman bisa mewujudkan kebaikan bersama. Saling menguatkan, saling percaya, dan saling-saling yang baik lainya. Sebelum terjalinya pertemanan, bagi saya akan sulit bahkan tidak bisa membuat gerakan bersama, kecuali dengan modal uang yang banyak.

Fase selanjutnya, adalah menjaga. Menjaga perteman agar tetap menyala. Meski sudah tidak menjabat dalam organisasi kepemudaan, tapi pertemanan tetap ada. Dan selama pertemanan ada, tidak perlu lembaga untuk bergerak. Memang pada intinya bergerombol itu tidak memerlukan identitas lembaga, jabatan, dan sejenisnya. Hanya perlu manusia bertemu manusia.

Meski individu-individu yang ada telah dalam fase berkeluarga, namun tali pertemanan menjadi ikatan untuk saling bekerja sama. Saling menutupi lubang-lubang dalam berproses atau dalam mengupayakan sebuah kegiatan. Mungkin ini yang dinamakan gotong royong atau sejenisnya.

Dan sampai pada titik, di mana berteman menjadi sumber kebaikan, hal baik bertemu dengan hal baik. Hal baik bekerja menjadikan hal baik lainya. Berteman bukan menggurui, tapi lebih cenderung menemani. Berteman bukan menjelek-jelekan, karena yang jelek pun bisa menjadi baik. Menjelek-jelekan adalah lawan dari berteman. Siapa pun adalah calon teman baru. Semakin banyak teman, akan ada semakin besar peluang bertemunya hal baik dengan hal baik dan akan mencipta gerakan baik yang lebih besar lagi.

Setelah perjalanan memasuki pergerakan pemuda di desa, ada beberapa kesimpulan yang bisa saya angkat. Pertama, silaturahmi adalah kunci dari kebergerombolan. Bergerombol tanpa ada silaturahmi yang baik akan berimbas pada situasi yang tidak menyegarkan. Mana mungkin keadaan yang tidak menyegarkan akan menumbuhkan gerakan-gerakan baik yang ramai-ramai. Kedua, berteman adalah mengendalikan ego. Kapan dan bagaimana serta ego siapa yang lebih mufakat itu yang lebih prioritas dituntaskan. Bahkan hampir bisa saya katakan berteman adalah menghilangkan ego. Atau lebih tenarnya disebut “meniada”. Ketiga, berteman adalah persentuhan hati, dan bagi saya menyentuh hati adalah dengan satu alat, yaitu musik. Entah bagaimana mengolahnya, tapi saya menemukan bahwa musik adalah alat yang mampu menembus hati banyak orang.

Lainnya