(Sinau Puasa, bag. 13)

Manfaat Biopsikologi Puasa

Image by Ehimetalor Akhere Unuabona on Unsplash

Setelah sekian kali belajar menulis yang dipaksa oleh Mas Helmi, maka jujur saya harus mengucapkan terima kasih kepadanya. Karena, dengan paksaan tersebut, otak saya menjadi dinamis dan memerintahkan sel-sel saraf di otak untuk berpikir, memerintahkan mata untuk melihat dan membaca literatur, memerintahkan diri sendiri untuk memahami apa yang terjadi pada diri sendiri selama menjalani puasa, dan kemudian otak saya memerintahkan jari-jari saya untuk menulis buah pikiran dan kesimpulan saya ke atas keyboard.

Padahal sudah sekian tahun yang lalu Cak Nun selalu menasihati untuk menulis. Apapun! Cerita, pengalaman, ide, kritik, dll, pokoknya apapun yang kita tulis akan berguna, setidaknya untuk tetap menjaga mood, dan jadikan menulis ini sebagai rutinitas sehari hari. Sebab kalau tak dilakukan secara rutin, otak kita tidak dipaksa untuk berpikir, akhirnya menjadi karatan. Selain itu, ide yang ada di dalam benak kita, kalau tak dituangkan segera, maka ide tersebut akan lenyap.

Sampai pada pencarian, saya menemukan sebuah hadits disabdakan Rasulullah Muhammad Saw, “Berpuasalah, maka kamu akan sehat.” (HR Thabrani). Saya tergelitik untuk berselancar lebih jauh dan lebih dalam lagi tentang puasa dan sehat ini. Di tulisan sebelumnya saya menulis tentang konsep autofagi yang menjadikan Yoshinori Ohsumi, sang penemu konsep ini, mendapatkan penghargaan Nobel di bidang kesehatan pada 2016.

Karena desakan Mas Helmi dan saran Cak Nun tadi, ditambah susana Ramadhan tahun ini saya mencoba menganalisis tubuh saya sendiri, badan wadag saya sendiri, apa yang terjadi selama berpuasa ini. Di samping itu, saya mencari artikel-artikel yang menunjang untuk bahan saya menuliskan sesuatu yang berhubungan dengan perubahan biopsikologi yang terjadi akibat puasa dan saya hubungkan dengan kondisi tubuh saya.

Nah, dari penulusuran itu saya mendapatkan artikel dari situs artikel medis, bahwa penelitian tentang puasa dilakukan tidak hanya pada manusia langsung. Yang dilakukan dengan mengukur perubahan dari parameter-parameter biologis dan kimia tubuh, akan tetapi penelitan dilakukan pada hewan coba.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Sadat di Kairo, yang dilakukan oleh beberapa peneliti dari institusi yang berbeda, seperti: departemen biokimia, departemen anatomi dan embriologi, fakultas kedokteran hewan, dan bahkan melibatkan semacam BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan)-nya Kairo. Mereka meneliti dampak puasa intermiten terhadap perubahan yang terjadi di dalam tubuh, baik aspek fisik maupun biokimiawinya.

Hasilnya adalah bahwa puasa menimbulkan pengaruh terhadap penurunan berat badan yang signifikan. Puasa juga meningkatkan daya serang terhadap benda asing (virus atau bakteri), fungsi fagosit dari sel netrofil (sel darah yang bertanggung jawab dalam perang melawan jasad renik) meningkat. Puasa meningkatkan hormon yang berguna bagi tubuh baik pengaruh fisik maupun psikis yaitu serotonin dan norepinefrine.

Dari penelitian lain diperolah bahwa manfaat puasa meningkatkan juga hormon lainnya. Selain itu, puasa menyebabkan perubahan yang menguntungkan dari parameter faal hati dan ginjal secara signifikan. Secara ringkas kesimpulannya adalah bahwa puasa mempunyai pengaruh yang menguntungkan untuk kekebalan, peningkatan neurotransmitter dan parameter biokimia lainnya.

Pada tingkat manusia, penelitian yang meneliti puasa dengan perubahan biologi sel didapatkan manfaat puasa di tingkat badan wadag sampai ke tingkat seluler. Kondisi kekurangan nutrien karena berpuasa itu justru akan menciptakan kondisi yang sangat menguntungkan tubuh manusia itu sendiri. Yaitu terciptanya suasana autofagi. Melalui mekanisme–yang dijelaskan oleh si pemenang nobel 2016–yaitu autofagi, sel mempunyai kemampuan untuk membersihkan dan memperbarui dirinya sendiri, serta melindungi dirinya dari bahaya virus dan bakteri yang menimbulkan infeksi. Ibarat motor yang sudah jadi rongsokan, maka dari rongsokan tersebut akan diambil part-part yang masih berguna yang bisa dipakai untuk reparasi motor lain yang rusak yang membutuhkan part tersebut. Sebuah analogi yang enggak pas bener sih sebenarnya.

Saya pun kemudian teringat kata-kata Cak Nun pada suatu acara Maiyah, ‘wareg kuwi apik, ning yen kewaregen kuwi ora apik’ (kenyang itu bagus, tapi kalau kekenyangan menjadi tak baik). ‘ngelih kuwi apik ning yen kaliren kuwi ora apik’ (lapar itu bagus, akan tetapi kalau kelaparan menjadi tidak bagus).

Setelah menjalani pencernaan yang berulang-ulang atas kalimat Cak Nun di atas, baru saya temukan bahwa kalimat tersebut mengandung makna fisik, biologis dan juga makna sosial juga tentunya makna spritual.

Lho… kok bisa?

Kondisi lapar (baca: puasa) akan memicu sebuah mekanisme repair di dalam tubuh melalui sebuah proses yang disebut autofagi. Nah bagaimana sebuah proses autofagi tersebut bermanfaat bagi tubuh? Proses autofagi yang optimal adalah yang tidak terjadi secara ekstrem. Artinya, seseorang harus dalam kondisi lapar tetapi tidak boleh kelaparan atau sama sekali tidak makan sehingga proses autofaginya berlebihan tidak terkendali. Sebaliknya pula seseorang tidak boleh pula terlalu banyak dan selalu kenyang sehingga mematikan proses autofagi.

Temuan konsep dan proses autofagi ini memberi inspirasi kepada kita tentang perubahan biopsikologi tubuh manusia karena puasa. Lepas dari pahala puasa Ramadhan yang itu merupakan hak prerogatif Allah. Kalau ibadah lainnya selain puasa kita bisa mengharap harap pahala, tetapi untuk puasa Ramadhan ini, Allah punya hak prerogatif memonopoli puasa kita.

Temuan konsep autofagi ini digunakan dan bermanfaat dalam pencegahan (bahkan mungkin treatment) penyakit-penyakit neurodegeneratif, yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif, penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan kemampuan memproses informasi, serta mempengaruhi perilaku, terutama pada lansia.

Maka tidak heran kalau kita temui seorang ibu yang sudah sepuh, tetapi beliau ahli puasa, maka daya ingat serta fungsi kognitifnya masih sangat bagus! Inilah penjelasannya. Serta inilah kenapa puasa dijadikan alternatif penyembuhan dan pencegahan dari penyakit-penyakit tersebut. Tetapi, dalam melakukan suatu hal tentu disarankan tidak berlebih-lebihan. Ada pula tatacara dan batasan-batasan untuk melakukan puasa ini. Tidak berlebih-lebih dan juga tidak minimalis.

Beberapa orang dari para Sahabat datang ke rumah Rasulullah Saw menanyakan kepada istri beliau tentang ibadah beliau. Kemudian salah seorang di antara sahabat mengatakan, “Aku bertekad akan melakukan shalat selamanya.” Seorang yang lain menyahut, “Aku akan berpuasa selamanya tanpa berbuka.” Seorang lainnya menyambung, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.

Lalu Rasul datang, “Apakah kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Adapun aku, demi Allah, aku adalah manusia yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa. Akan tetapi aku sholat dan tidur, berpuasa dan berbuka. Aku menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk di antara umatku.” (HR Bukhari).

Ada PR lagi tentang hal ini yang berhubungan dengan sabda Nabi tentang mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.

Kembali saya teringat kalimat Cak Nun tadi. Ah Cak Nun atau Mbah Nun memang seseorang yang selalu memberi PR kepada para anak-cucunya agar menelaah makna kalimat-kalimatnya, yang maksudnya supaya para anak-cucunya berpikir.

(bersambung)

Lainnya