Kebon (105 dari 241)

Malioboro dan “Kalimah Thayyibah

Mocopat Syafaat Februari 2021.
Foto: Adin (Dok. Progress).

Beberapa nomor musik-puisi Kelompok Karawitan Musik Dinasti, yang dulu berkiprah di jagat kebudayaan Yogya antara 1977 sd 1981digelar kembali di Maiyahan rutin Mocopat Syafaat 11 Februari 2021. Yang melurahi paket yang menggunakan Gamelan Jawa Pelog itu tetap yang dulu juga: Nevi Budianto. Penabuh saronnya tetap Joko Kamto. Bonang Godor Widodo. Kendang Joko Kusnun. Gong Harry. Biola Narto Piul. Tetap seperti dulu. Tetapi untuk sejumlah keperluan khusus, Mas Gianto KiaiKanjeng membantu Saron dan Siter. Patub Letto memperkuat gitarnya Nevi untuk nomor “Berdekatankah Kita” karya Narto Piul yang dinyanyikan oleh Mbak Novia Kolopaking.

Puisi-puisi yang dikerjasamakan dengan musik Dinasti sama juga: “Tuhan, Aku Berguru kepadaMu”, “Bali”, “Nyanyian Gelandangan”, “Ngayogyakarta” alias “Lereng Merapi” lagu “country” karya Nevi Budianto.

Muatan puisi itu menggambarkan peta nilai sosial budaya masyarakat dan politik kenegaraan dan pemerintahan yang juga masih berlangsung sampai hari ini. Watak keberkuasannya, gaya rezimnya, struktur otoritasnya dan lain-lain relatif masih sama. Dalam beberapa hal yang berlangsung saat ini bahkan lebih parah, lebih canggih dan tak kentara, lebih tidak tahu malu, alias lebih tidak bermartabat.

Tetapi ada keadaan yang tampak agak lebih baik sekarang. Misalnya harmoni-paradoksal antara dunia MTQ dengan Diskotik yang digambarkan dalam puisi “Nyanyian Gelandangan”. Sekarang relatif sudah tidak ada yang seperti itu. Bisa karena budaya dan moral masyarakat sudah menjadi lebih baik. Atau kebobrokan itu bergeser ke segmen budaya yang lain. Atau sekarang lebih implisit dibanding era 1970-an.

Di awal 1970-an siswi-siswi SMA teman-teman saya, meskipun itu Muhammadiyah I (Muhi), tidak ada yang pakai jibab kecuali satu orang: Mbak Jafanaty, kakaknya sahabat saya Jafnan Tsan Affandy yang sekarang menjadi Profesor Nuklir, dulu mengajar di Jerman kemudian Malaysia. Para siswa hampir semuanya memakai rok yang tingginya antara 10-15 cm di atas lutut, sehingga “cahaya Ken Dedes” berbinar-binar di seantero gedung Sekolah dan jalanan. Roknya coklat muda, bajunya putih, kancing baju bagian atas rata-rata tidak dikancingkan, sehingga bagian dari gunung-gunung rahasia para perawan itu membayang-mayang dan membingungkan hati para lelaki.

Kebingungan itu mungkin yang membuat saya menulis puisi “Nyanyian Gelandangan”. Kenapa gelandangan? Karena saya siswa Muhi termiskin. Warna celana seragam saya tidak persis sama dengan semua lainnya, karena saya mencarinya di lesehan loakan Ngasem dan dapat seadanya. Saya tidak pakai sepatu. Rambut saya serabutan gondrong. Maka saya adalah “gelandangan”, terutama karena “bargaining power” saya sebagai pemuda sangat rendah untuk mendapatkan pacar. Untung saya sejak kelas 1 SMA sudah “nyantri” di Malioboro di “Pesantren”nya Panembahan Umbu Landu Paranggi”.

Kalau malam minggu, rata-rata teman-teman SMA saya pergi apel ke rumah pacarnya masing-masing. Saya menggelandang di Malioboro untuk menyiksa diri. Biasanya saya menelusuri Malioboro dengan sahabat karib saya penyair Linus Suryadi AG, yang menegaskan level gelandangannya dengan tidak pernah pakai sandal, apalagi sepatu. Rambut Linus gondrong tebal ke punggungnya bagaikan seekor singa raja rimba. Rambut saya potongan the Beatles, bagian depan panjang miring ke samping.

Sepanjang jalan di Malioboro selalu berpapasan atau melihat pasangan-pasangan remaja berboncengan motor atau sepeda. Rata-rata ceweknya merangkulkan satu tangannya ke pinggang lelakinya dengan erat dan mesra. Setiap kali kami berpapasan dengan “Rome Juliet” kaum muda Yogya itu yang bocor dari mulut Linus dan saya adalah pisuhan “Bajingan” atau “Asu”.  Saya belum lama sebelumnya nyantri di Gontor, tetapi produknya di Malioboro tidak pernah “Kalimah Thayyibah”. Tidak pernah ada cewek merangkul pinggang cowoknya yang membuat saya mengeluh: “Subhanallah” atau “Astaghfirullah” atau “La haula wala quwwata illa bilahil ‘aliyyil ‘adhim”. Apalagi “Allahu Akbar”.

Waktu itu Habib Rizieq belum dikenal umum dan FPI belum ada. Jadi kalau melihat cewek memeluki cowok di Malioboro, saya tidak spontan teriak: “Takbiiir!”. Juga seandainya waktu itu saya sudah punya kesadaran “hijrah” semacam itu, tak akan ada respons yang muncul. Meskipun saya memekik “Takbiiir!” berulang-kali, tidak mungkin lantas Linus sahabat karib saya menyahut: “Allahu Akbar”. Lha wong dia Katolik. Dan saya sangat dengan komunitas mudanya Linus di “Kring Kadisobo” Sleman.

Sejak kanak-kanak di Menturo dan Gontor dan waktu muda di Yogya, Dipowinatan, Kadipaten, Patangpuluhan hingga Kadipiro sekarang, memang selalu ada keadaan, peristiwa, atau situasi yang mempetakan “kami” dengan “mereka”. Tetapi kesadaran utama saya selama menjalani era-era itu adalah “kita manusia”, meskipun ada komplikasi dan perkecualian-perkecualian tertentu di dalamnya.

كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan.

Tidak pernah saya mengabaikan peringatan Allah ini:

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ
قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ
مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Justru itu merupakan bagian primer dari musahabah hidup saya. Saya menghayati dan mendalami peringatan Allah di ayat ini dengan menjadikannya sebagai kewaspadaan, semacam jurus silat tingkat tinggi, yang substansinya tidak terlalu tampak di posisi badan, kuda-kuda kaki dan gerakan tangan. Ia landasan “ruhiyah” dan perhitungan “’aqliyah”. Dengan konsistensi untuk selalu waspada, dengan keajegan kesadaran dan kepekaan di setiap waktu dan muatan ruang, saya keluar rumah tetap dengan keteguhan “Manusia adalah ummat yang satu”.

Linus, apalagi teman-teman Dinasti, Dipowinatan dan KiaiKanjeng, tetap sahabat dan saudara dalam spektrum “rahmatan lil’alamin”. Bahkan saya sangat dekat dengan keluarga Linus, Ibu Bapaknya, kakak dan adik-adiknya. Saya sering mengantarkan Linus ke sawahnya, memeriksa sejumlah hal dari tanaman pertaniannya. Bahkan sempat mandi telanjang bersama di grojogan sungai dekat sawahnya.

Dalam lengkung langit kesadaran itu pulalah diselenggarakan pergelaran kembali Musik-Puisi Karawaitan Dinasti di Mocopat Syafaat 11 Pebruari 2021 kemarin.

Lainnya