Maintenance Pohon Cinta

Photo by Dawid Łabno on Unsplash

Kalau diri dikepung gelombang situasi dan diluruk gelombang kondisi yang tidak sesuai dengan peri kehidupan dan peri kemanusiaan, lantas berakibat pada tibanya cuaca kebimbangan, cuaca kegelisahan, dan cuaca kesangsian — menimpa diri sendiri — sukar menemukan persaksian yang nilainya linieritas. Susah merancang-bangunkan algoritma-algoritma “kehadiran” majemuk. Bolehlah, kembali diteguhkan, wa Kafaa biLLAAHI Syahiidan. Bisalah, kembali dipertangguh, pesan al-Maghfurlah, Wahyu Sulaiman Rendra, “Yang jelas apapun soalnya, kita mesti bertahan. Ya, bertahan. Kalian tetap bertahan, ya”.

Sembari mematangkan pertahanan, kita kiprahkan penyisiran sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sedepa demi sedepa, dan selangkah demi selangkah: semoga diperjalankan ke wilayah sabana peluang, yang cakrawalanya bermozaik kesempatan — kalau waktu lebih setia dibanding ruang — YarzuqHU Min Khaitsu Laa Yakhtasib.

Transisi “kecerdasan buatan” global yang derapnya yap-yapan, sungguh sangat berdaya menggoncang dan menjomplangkan konstruksi kemanusiaan. Malahan, probabilitas paling buruknya berdaya mengambrukkan alam pikiran, alam batin, sekaligus alam jiwa makhluk manusia.

Kejangkepan-kejangkepan high quality yang terperam di wilayah kedalaman, “mustahil” beralihwahana sebagai controller atas apa-apa yang outside dan controller atas siapa-siapa yang outsider. Tetapi, kalau penganalisisan rumus “permainan dan sendau gurau” sungguh diketahui, dipahami, sekaligus direnungi dengan daya keoptimalan yang faktual-aktual-sungguh-konsisten-setia-utuh – sehingga “diterbitkan” pemahaman yang dialektis dan komplementer, untuk mentransformasikan matriks serupa: “Permainan dan Sendau Gurau”. Transformasi itu, bisa saja bernilai menggeser sudut pandang, menambah rentangan jarak pandang, menarik-ulur lipatan-lipatan pandang, dan menjungkirbalikkan kesembronoan pandang dari keseluruhan “permainan dan sendau gurau”, itu.

Permainan yang sudah menghegemoni, bisa sukar “dihentikan” kalau ide pembebasan yang dipilih adalah gelut-tawuran: fisik. Lain lagi, kalau yang kita damba-merengkuhnya adalah “Permainan dan Sendau Gurau di Wilayah Pohon Cinta” — keseluruhan makhluk manusia wajib menggembleng-menyirami “Pohon Cinta” itu, dengan sikap persesuaian. Semisal, masih sukar memobilisasi keseluruhannya. Bolehlah, kita menanting diri sendiri untuk tekun menyirami “Pohon Cinta” itu secara single, munfarid, atau ijen, dengan sikap persesuaian – kasih sayang, kebijaksanaan, kesabaran, ketulusan, keikhlasan, dan ke-kantongbolong-an. Toh, kalau sudah “ditumbuhkan” dengan wujud magrong-magrong dan “dinuansakan” dengan muatan-muatan nilai kesejukan, keteduhan, kenyamanan, keselamatan, dan keamanan — maka, “tidak bisa tidak”, tentang ketertarikan untuk menilik keseluruhan “Pohon Cinta”, itu, dan apa-apa yang mengedarinya. Sehingga terperoleh ungkapan, “Wah, pas iki, dinggo nyegerke mripat, ngademke pikiran, karo ngayemke batin”. Tetapi momentum waktu itu, adalah YarzuqHU Min Khaitsu Laa Yakhtasib.

Makhluk Limitasi yang Being — Makhluk Khalifah yang Becoming

Konfigurasi sistem penggerak atas sikap persesuaian, sangat menentukan kadar nilai keterkendalian, kestabilan, efisiensi, dan kebertahanan daya jelajah. Mungkin, keseluruhan makhluk manusia punya 3 bekal sistem penggerak yang senantiasa bisa dieksplorasi: Front Wheel Drive (FWD), Rear Wheel Drive (RWD), dan Four Wheel Drive (4WD). Kematangan sistem penggerak itu, sesungguhnya sudah di-tandur sejak lama, di Negeri Indonesia terkasih: “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Tetapi, entah karena memble kita yang keterlaluan atau mripat kita yang kejangkitan penyakit keturunan: lamur. Sehingga berakibat pada, masa hidup yang keseluruhannya bermuatan hibernasi, tetapi, “Ora Roh Mongso”. Sehingga berakibat pada, “Ora LIR-ILIR LIR-ILIR”. Sehingga berakibat pada, “Micekki Tanduran Sing Wis Sumilir”.

Rata-rata penilik “Pohon Cinta” itu, lamat-lamat bakal terpahamkan, sekaligus “dipahamkan”, tentang dialektika dan komplementaritas “permainan dan sendau gurau” dengan “Permainan dan Sendau Gurau” — “ini, sebab” dan “itu, akibat”, “ini, aksi” dan “itu, reaksi”, “ini, nandur” dan “itu, ngunduh”, atau “ini, permainan-Nya” dan “itu, sendau gurau-Nya”. Tidaklah menutup kemungkinanan sesudahnya, tentang, “Gelombang Kesadaran” yang diperjalankan ke mana: semau-mau-Nya, “Gelombang Kesadaran” yang menyongsong siapa: semau-mau-Nya, sekaligus “Gelombang Kesadaran” yang dimasyarakatkan: semau-mau-Nya.

Karena muatan keseluruhan makhluk manusia adalah limitasi — wajiblah per makhluk manusia melangsungkan seleksi dan filtrasi atas informasi-informasi yang di waktu sekarang, bagai lalu lintas kompleks dan bagai ikhwal polutan. Kalau persoalan per informan, per manusia sudah punya bekal bi al-Hikmah — di ruang mana informan bakal disilakan buat mengabarkan hajatnya. Di dalam guratan waktu yang mana bisa dilangsungkan Silatu al-Rahim. Mungkinkah dilangsungkan eskalasi intensitas Silatu al-Rahim ke depannya. Atau, stop, “Ini perjalananku. Itu, perjalananmu. Semoga, kita sama-sama dilimpahi RAHMATULLAH”.

YAA AYYUHA al-naasu, antumu al-FUQARAA’U, ILA ALLAH. WA ALLAHU HUWA AL-GHANIYYU AL-HAMIID.

Model konsep “Tiba Sebelum Berangkat” tentang pembebasan, adalah “jalan sunyi” yang menjurus ke wilayah keterkaparan. Tetapi, kemungkinan untuk tidak pindah jalan tatkala kiprah itu, meng-arus, adalah persoalan primernya, adalah persoalan utamanya, dan adalah persoalan andalannya.

Keterkaparan itu, bukan bermakna, wadak makhluk manusia aplah-aplah di depan khalayak, bukan bermakna mengunci keabstraksian kecerdasan yang Anugerah Allah, dan bukan bermakna ogah-ogahan menyuplai muatan-muatan nilai kebermanfaatan kepada makhluk manusia yang sangat membutuhkan. Keterkaparan itu, mungkin, bermakna, semoga senantiasa dimerdekakan dari kepentingan-kepentingan yang tidak liLLAHI dan semoga senantiasa dimerdekakan dari kepentingan-kepentingan yang tidak ilaiHI.

Lainnya