Kebon (22)

Main Cinta Model Kwangwung

Cak Nun bersama Darmanto Jatman.
Dok. Progress.

Jangan nasihati dia tentang hidup sehat, tidur cukup dan makan yang bergizi. Sekadar bisa makan saja sehari-hari ia belum tentu. Soal tidur, ia merasa masih sangat kekurangan hal ilmu dan pengalaman – bagaimana mungkin sempat tidur? Usianya baru 17 tahun. Terhadap ilmu hidup ia baru cicip-cicip, belum mengunyah dan makan sungguhan. Ia merasa harus lara-lapa, harus merintis pengembaraan batin, harus lelaku prihatin dan tirakat.

Sakit? Ia merasa manusia hanya sakit kalau Tuhan menghendakinya sakit. Dan ternyata pada suatu malam memang Tuhan benar-benar menghendakinya sakit. Ketika membeli lembaran-lembaran kertas untuk mengetik, ia pingsan, badannya roboh menimpa kaca toko. Si karyawan di toko itu menolongnya, membaringkannya di salah satu sisi ruangan toko itu, memberinya minum air hangat, menggosok-gosok leher dan jidatnya dengan minyak angin. Sepertinya remaja ini hanya kelelahan, masuk angin parah dan badannya agak pucat-pucat, mungkin konsumsi sehari-harinya kurang lancar atau memenuhi syarat kesehatan.

Ia berbisik ke karyawan yang menolongnya: “Saya kerja di kantor Koran di seberang. Tolong kasih tahu mereka, siapa saja di kantor itu bahwa Mas Emha sedang sakit supaya mereka bisa ikut menangani keadaan saya”.

“Siapa tadi namanya?”, karyawan itu bertanya.

“Emha”, si sakit menjawab.

Ia segera minta tolong karyawan lain untuk menemani, dan ia berlari ke seberang jalan. Beberapa saat kemudian ia kembali dan melaporkan hasilnya: “Kata orang kantor itu Mas Emha belum datang…”

Si sakit menjawab: “Ooo ya sudah, nanti saja…”

Setelah merasa agak pulih, si sakit ini menghaturkan terima kasih, mengucapkan pamit dan berjalan ngeloyor ke kantor seberang jalan. Tetapi ia tidak mau merepoti orang-orang di kantor, ia langsung ke Gedung percetakan Radya Indria di depan kantor tersebut. Ia terseok-seok mencari tempat, dan ketemu semacam Gudang tempat tumpukan koran-koran menghampar di lantai. Maka ia pun langsung menggeletakkan badannya di atas hamparan koran-koran hasil cetakan Percetakan itu.

Tubuhnya panas, napas seperti memasukkan dan mengeluarkan bara api. Badan demam serius, darah mengalir terasa menggigit-gigit. Ia coba memejamkan mata. Ketika lewat tengah malam ia merasa lapar dan haus. Mencoba berdiri kemudian berjalan ke gerbang depan dengan sangat berat. Kemudian ia menuju gang sebelah utara yang ada warung kecil yang jaraknya sekitar 200 meter. Sambil berjalan tangannya berpegangan sepanjang pagar di pinggir jalan. Sesampainya di warung ternyata tidak ada apapun yang enak ketika dimasukkan ke mulut. Ia hanya pesan Air Jeruk Penas, satu-satunya yang lidahnya bisa menerima.

Kemudian kembali ke Gudang percetakan. Lantas tatkala ia bangun sehabis subuh, ia diseret entah oleh apa atau siapa untuk berjalan. Ke selatan sampai pojok beteng, belok ke timur, terus belok ke utara di Jalan Tamansiswa. Dan sesudah masuk sebuah gang ke arah timur, akhirnya mengetuk pintu sebuah rumah kecil yang tuan rumahnya adalah penyair senior terkenal bernama Darmanto Jt. atau Jatman, kelak dibaca Yatman.

Mas Dar kaget tapi langsung menampungnya, menanyakan apa yang terjadi, kemudian memasukkannya ke salah satu kamar, dan si remaja ini berbaring dengan nyaman. Ia disiapkan sarapan pagi itu, juga makan di siang hari dan malamnya.

Darmanto Yatman adalah penyair nasional yang sangat senior di Yogya dan Jawa Tengah, karena rumah induknya ada di Semarang. Wajah Darmanto Yatman selalu cerah bercahaya, bibirnya selalu tersenyum secara alamiah. Ganteng, bagus, tampan, dan hatinya lembut penuh kasih sayang.

Kelak untuk memonumenkan rasa syukur dan terimakasihnya, si Emha menggarap salah puisi Darmanto Yatman untuk pementasan Musik-Puisi Karawitan Dinasti, berjudul “Main Cinta Model Kwangwung”. Musik karya Nevi Budianto sangat mengapresiasi kemeriahan dan universalitas puisi itu.

Semangat dan kesadaran tentang hakikat hidup kemakhlukan, penerimaan dan kelegowoan kemanusiaan, bahkan juga kandungan ide-ide surealisme dalam puisi itu sangat mencerminkan keterbukan hidup dan kemerdekaan berpikir Mas Dar yang penuh hurriyyah tapi juga kesetiaan terhadap hakikat hidup, penuh sikap ijtihadiyah tapi untuk mendorong manusia agar tiba pada esensi penciptaan. Ngglepung bahasa Maiyahnya.

Kaleo o kane : kahi, elua, ekolu!
Ayolah kamboja terbang
Ayolah burung berjalan
Ayolah gelombang tidur
Ayolah pasangan berpasangan-ayo! ayo
ayo ayo

kamboja jangan berhenti jadi kamboja
burung jangan berhenti jadi burung
gelombang jangan berhenti jadi gelombang
— jangan ! jangan jangan

siang – malam, musnahlah beda kalian
laut – darat, musnahlahh beda kalian
laki – perempuan – musnahlah beda kalian

iblis laknat setan bekasakan
kanioyo temen awakku
kangen srengenge mongko awan-awan
rindu burung padahal di tengah ranjang
yearning for the wave yet on the ocean

Lainnya

Buku dan Merchandise