Mabuk dan Berpenyakit Gila

Foto: Adin

Di masa ‘sugeng’ beliau, Ibu saya Halimah tidak satu kali pun pernah “nrombol” mengintervensi waktu, kegiatan, dan hidup saya. Ibu tidak pernah merasa berkuasa atas saya. Tidak pernah menggunakan otoritasnya atas kehidupan saya. Kalau beliau mau ketemu, beliau mengetuk pintu kepada yang bertugas mengurusi saya; Yusron Aminullah atau Syakurun Muzakki Progress sekarang. Saya sendiri tersungkur hati dan patuh kepada apa saja hajat Ibu saya. Di Menturo lumayan banyak saya memenuhi apa yang dikeluhkan oleh Ibu saya tentang keadaan masyarakat sekitar.

Saya diusir dari Gontor kemudian hijrah ke Yogya juga atas aspirasi, tapi bukan perintah, Ibu saya. Saya keluar sekolah SMA, kemudian buang muka menghadap Wakil Kepala Sekolah memohon agar diterima masuk kembali, juga karena Cak Fuad meminta agar kali itu saya menyelesaikan sekolah, demi hati Ibu saya. Tetapi tidak secuil pun Ibu Halimah pernah menggunakan kekuasaan atau posisi keIbuannya kepada saya. Kalau Ibu saya bermaksud agar saya berbicara semacam pengajian kecil di hadapan Ibu-Ibu Menturo yang beliau asuh, Ibu tidak memfetakompli atau memerintahkan kepada saya. Melainkan mengajukan hajatnya itu kepada Yus atau Zaki atau Progress sebagai masyarakat umum atau siapa saja di muka bumi.

Saya akan menulis apa, dimuat di mana, saya berbicara di forum atau publik manapun, saya menghadirkan wajah saya, pembicaraan saya atau apapun di manapun dan kapanpun, yang 100% berhak mengambil keputusan adalah Progress Kadipiro Yogyakarta.

Tetapi beberapa tahun belakangan ternyata tanpa sepengetahuan saya maupun Progress, wajah dan omongan saya tampil di banyak media-media online terutama Youtube. Tiap hari nongol yang baru 10 hingga 20 tayangan curian. Kami menyebutnya “sop buntut”, “kanibal”, “tayangan colongan”, manipulasi, eksploitasi, dan adu domba. Saya menjadi manusia usil dan sok tahu. Omong berbagai macam tema, dari ramalan masa depan hingga Covid-19 serta apa saja.

Dan kondisi mabuk serta penyakit gila sejumlah Youtuber itu sama sekali tidak surut atau berkurang meskipun saya sudah pernah menyatakan bahwa saya tidak ikhlas dunia akhirat atas unggahan-unggahan curian itu. Bahkan saya nyatakan “la’natullah ‘alaihim” dengan keyakinan penuh bahwa tidak mungkin Allah tidak mengadzab manusia-manusia pencoleng itu. Saya tidak minta perlindungan kepada Youtube, Institusi Cyber-crime Kepolisian, Pemerintah atau Negara dan siapapun, karena mereka tidak punya sistem dan kemampuan kontrol untuk melindungi saya. Algoritma sosial Youtube sendiri sebagai media juga tidak berkepentingan terhadap hak manusia dengan martabatnya.

Saya bertanya kepada Penyo Progress berapa kira-kira jumlah kanibal dan sop buntut itu di Youtube, dijawab: “Kira-kira ada 172. Video yang sudah kami request hapus dan sudah dihapus dari Youtube 143 video. Total sekitar 315. Ada juga channel, sekitar 16 channel sudah ditutup, yang dalam satu channel bisa berisi belasan puluhan video. Tetapi video yang belum masuk list masih sangat banyak”.

Dunia tempat saya menjalani qadla qadar Allah ini sekarang ini penuh dengan perilaku manusia yang peran utamanya adalah menanamkan kebencian di dalam jiwa saya. Globalisasi penggelapan. Negara salah lahir, Pemerintahan jahula. Perwakilan la’ibun wa lahwun. Demokrasi gincu, Ketuhanan kapitalisme. Media Al-Kadzdzab. Kuasa iklan-iklan yang kelihatannya tamak, ternyata rakus dan super serakah. Kebudayaan Ghafilin. Peradaban Ahmaq. Fungsi utamanya adalah mengepungkan kepada saya hal-hal yang mengesalkan, membosankan dan memuakkan. Betapa susahnya menjalani anjuran Allah untuk mengisi hidup ini dengan rasa syukur, kecuali tatkala di semesta batin ini saya ber-tadzakkur dengan Ibu dan Ayah saya, Padhangmbulan, sebagian Maiyah dan beberapa hal lain yang jumlahnya tidak banyak.

Yang tersisa di dalam batin saya terutama adalah Allah Swt dan Rasulullah Saw. Saya bertahan menjalani semua ini semata-mata karena Beliau berdua. Pantas dulu di album pertama KiaiKanjeng “Kado Muhammad” saya dikasih syair oleh Allah:

“Dunia sudah habis bagiku
Tak ada yang melezatkanku
Ruang dan waktu hanya menipu
Hidup mati menjebakku
Sekarang aku tahu
Engkaulah yang sejati itu”

Terakhir kemarin saya bertanya kepada Allah, dan dikasih tunjuk Surat Al-Baqarah 275:

ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ
مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ
فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ
وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ

Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berpendapat, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Riba tidak hanya menyangkut materi, keuangan dan bias lalu lintas jual beli. RIba yang lebih parah dan merusak akibatnya adalah riba informasi, riba komunikasi, riba upload-download, riba kabar berita yang dilebai-lebaikan, dimanipulasi kadarnya, digeser atau diubah fokus dan konteksnya.

Apalagi sampai ke tingkat nyolong, klaim, nyelonong, kanibal, yang kadar dan kualitasnya jauh melebihi riba. Tidak bisa dibayangkan lagi kalau riba-riba dan pernyolongan global itu tetap dan terus dilakukan ketika dunia sedang didera pageblug, ketika seluruh penduduk bumi sedang disiksa oleh pandemi, ketika semua orang di Negeri manapun sedang dipenjarakan oleh tebaran virus. Para Youtuber itu tetap terus saja berbuat jahat, menyebar kebohongan, menciptakan kemudaratan-kemudaratan, serta rajin menggali ranjau-ranjau celaka dan karma bagi diri mereka sendiri beserta keluarga dan anak cucu mereka. “Yatakhobbatuhus syaithonu minal massi” itu ternyata sedemikian parahnya. Dan bahkan merupakan indikator bahkan ikon utama peradaban mutakhir ummat manusia. Unggahan-unggahan kelas copet. Media cap fasiq. Komunikasi merk fitnah. Peradaban cap Ahmaq. Gitu kok modern. Gitu kok intelektual. Gitu kok kemajuan hidup.

Di dalam logika linier, orang berpenyakit gila itu bebas hukum, sehingga logikanya juga seakan-akan bebas neraka. Maka harus dianalisis apakah demikian juga bagi manusia yang Allah sebut “orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila”.

Ada kasus dengan definisi lain dari Allah:

وَتَرَى ٱلنَّاسَ سُكَٰرَىٰ وَمَا هُم بِسُكَٰرَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ ٱللَّهِ شَدِيدٞ

Dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah kepada mereka sangat kerasnya.

Ternyata itulah yang peradaban manusia modern menyebutnya sebagai kemajuan, kecanggihan, ketinggian teknologi, kemegahan peradaban. Sebagai arek Menturo hati saya bergumam: “Ciker bungker matek mlungker blassss aku gak kepencrut”. Sebagai anak buah Kanjeng Nabi, saya nyatakan “Lau wadla’as syamsa fin yamini wal qamara fi yasari, lan atruka ghadzal amr”.

وَإِذَا سَمِعُواْ ٱللَّغۡوَ أَعۡرَضُواْ عَنۡهُ وَقَالُواْ لَنَآ أَعۡمَٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَٰلُكُمۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ لَا نَبۡتَغِي ٱلۡجَٰهِلِينَ

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”.

Anak cucuku Maiyah yang tidak terlibat, aktif maupun pasif, patuhilah sanepannya Allah: “a’rodlu ‘anhu”. Jangan buka tayangan itu, apalagi bersikap pandir dengan nge-like. Kalian amin amin insyaallah akan dikejutkan oleh rizqi tak terduga limpahan Allah, dan insyaallah amin amin kalian tidak tergolong makhluk yang dicampakkan ke dalam lembah وَلَٰكِنَّ عَذَابَ ٱللَّهِ شَدِيدٞ

Lainnya