Lemper Jowo vs Lemper Londo

Dok. Ericka.

Membaca tulisan Mbah Nun berjudul Dibesèt Metu Setan (Kebon 138) yang menjadikan cerita lemper ketan, penganan khas Indonesia sebagai sebuah ironi kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, membuat saya ingin menulis juga tentang Lemper Londo.

Tiga tahun sudah saya tinggal di Belanda, membuat mata saya terbuka lebar akan kehidupan sosial masyarakat yang nenek moyangnya dulu menjarah kekayaan nenek moyang kita. Dan saking lamanya menjajah Indonesia, justru sekarang Belanda “terjajah” oleh aneka menu makanan olahan dari Nusantara.

Jika Anda berkunjung ke Belanda, istilah sambal oeleg, kroepoek, ketjap manies, spekkoek, sajoer lodeh, seroendeng hingga lemper sudah tidak asing di telinga orang-orang Belanda.

Bahkan nama-nama makanan tersebut tidak diubah ke dalam bahasa mereka. Anda juga akan terheran-heran ketika masuk ke supermarket melihat aneka macam jenis sambal botolan, yang kadang kita sendiri sebagai orang Indonesia tidak mengenal jenis sambal tersebut, saking rapinya catatan mereka tentang sejarah nenek moyang kita, itu baru tentang sambelan loh!

Kembali ke jajanan yang namanya lemper, atau sebutan bagi anak-anak tongkrongan cafe sekarang sushi Jowo. Dalam tulisan Mbah Nun yang menceritakan kelakar Cak Mun (Asmuni) bahwa orang-orang sekarang itu terlalu banyak tingkah, selalu ingin menampakkan “kepalsuan” demi mendapatkan pujian.

Mereka rela untuk bermegah-megah seolah banyak harta, padahal kondisi sesungguhnya justru sebaliknya, banyak hutang, banyak masalah, banyak kepalsuan yang ditutupi dengan selembar daun pisang dibalut minyak agar bersinar persis seperti bungkus lemper.

Kalaupun ada lemper isi ayam, isinya tidak menyeluruh dari ujung atas ke bawah, tapi hanya ada di tengah-tengah dan terkadang bukan daging ayam asli namun dicampur dengan parutan kelapa atau serundeng untuk mempermanis penampilan.

Fenomena gaya hidup “kakean gaya” yang menurun dari generasi tua hingga zaman milenial ini, semakin menggila dengan adanya media sosial sebagai “wahana pamer” kepalsuan hidup. Manusia l ebih mementingkan materi daripada esensi kehidupan itu sendiri.

Dok. Ericka.

Lalu apa beda lemper Jawa dan lemper Belanda? Ketika pertama disuguhi kue lemper oleh Tante Yos, perempuan half indo (sebutan untuk orang keturunan Indo-Belanda) pada acara ngopi di rumah mertua, saya agak kaget dan sangsi dengan rasa lemper buatan Tante usia 60-an ini.

Lempernya memang terbuat dari beras ketan, isi ayam suwir bumbu kemiri seperti lemper di Jawa pada umumnya, tapi tidak dibungkus daun pisang. Lemper di Belanda bentuknya seperti lontong yang dibungkus plastik transparan tanpa hiasan apapun.

Ketika itu saya berasumsi bahwa di Belanda daun pisang tidak mudah dijumpai seperti di Indonesia, dan kalaupun ada harganya sangat mahal. Jadi hanya digulung lonjong dan dibungkus plastik botterham (istilah roti sandwich).

Setelah membaca tulisan Mbah Nun tentang konotasi daun pisang dan lemper, saya jadi tergelitik juga menganalisis lemper Londo dari sisi gaya hidup orang Belanda pada umumnya.

Dari pengamatan saya, kebanyakan orang Belanda itu duidelijk alias blak-blakan, tanpa tedheng aling-aling kalau bicara. Mereka bekerja sangat efisien dan disiplin, selain itu berpikiran sangat terbuka, menerima perbedaan pendapat secara dewasa. Dalam hal gaya hidup, mereka membelanjakan uangnya sangat teliti, membeli sesuai kebutuhan dan manfaat barang bukan berdasarkan gengsi.

Tak sedikit orang Belanda yang membeli barang bekas untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kringloop sebutan untuk toko barang-barang bekas baik dari pemilik yang menyumbangkan barang layak pakai atau hibah barang orang yang sudah meninggal banyak ditemui hampir di setiap “kecamatan” kota-kota Belanda. Mulai dari perkakas dapur hingga barang antik bisa Anda temui di sini, harganya pun sangat terjangkau.

Dibanding orang-orang Eropa lainnya, orang Belanda yang paling ketinggalan dalam hal mode. Pakaian yang mereka beli cuma itu-itu saja, bahkan terkesan tidak glamour. Hal ini juga bisa kita lihat dari penampilan artis maupun petinggi Negara setingkat Raja dan Ratu, pakaiannya cenderung standar jauh dari kesan glamour artis Hollywood.

Mirisnya budaya hidup orang Belanda ni tidak memberikan pengaruh banyak pada orang-orang Indonesia yang tinggal di Negeri Kincir Angin. Ya tidak semua begitu, tapi kebanyakan orang-orang Indonesia punya penyakit turunan “Kakean Gaya” yang belum bisa diobati.

Saya sering bertemu orang-orang Indonesia dengan pola pikir setengah-setengah, gak Jowo gak Londo. Bukan berarti saya menjelekkan budaya Jawa atau Belanda, tapi di sini saya hanya ingin menuliskan autokritik khususnya bagi saya sendiri yang baru “mancik” di Negeri Van Oranje agar tetap Eling lan Waspada.

Sisi negatif yang masih dibawa orang-orang Indonesia, tidak hanya suku Jawa, Sunda, Madura, tapi orang Indonesia pada umumnya adalah suka pamer dan kakean gaya. Mereka berlagak seolah hidupnya penuh gelimang harta, kesenangan, bahagia, padahal hatinya kosong dan rekoso.

Dok. Ericka.

Sebagai contoh, sebut saja Marintje (baca Marince) nama aslinya Sumarni, dia menikah dengan WN Belanda dan bekerja sebagai tukang bersih-bersih kamar hotel, istilahnya mbabu ngosek WC. Tapi di media sosial lagaknya ngalah-ngalahin artis Indonesia, pamer tas Louis Vuitton, kacamata Gucci, Parfum merk Dior dan segala barang mewah dipajang di laman media sosial demi mendapatkan pujian teman-teman di kampung agar dianggap bagian dari sosialita.

Membeli barang mewah, atau melakukan apapun yang dimau dengan uang sendiri, memang hak setiap orang. Tapi yang perlu kita benahi adalah tujuan dari membeli barang-barang tersebut. Saya mencoba berprasangka baik, mungkin Marintje juga menyumbangkan uangnya untuk kepentingan sosial yang tidak saya tahu, tidak dipamerkan di media sosial.

Yang perlu digarisbawahi dalam tulisan ini adalah menjadi orang yang apa adanya, gak kakean gaya seperti Lemper Londo, yang masih menyimpan rasa otentik Lemper khas Jawa dengan isian ayam bumbu kemiri memenuhi ujung atas hingga bawah meski tidak dibungkus daun pisang.

Hidup di Belanda tidaklah mudah, namun dengan bermaiyah menjadikan saya terus belajar untuk selalu eling lan waspada dengan tidak serta-merta lebur menjadi Orang Belanda, pun tidak lupa akan budaya asal usulnya… Ya Persis seperti Lemper Londo… Authentic van Indonesie!

Lainnya