Kebon (192 dari 241)

Lau Kanal Bahru Midadan Menuliskan Dosa Saya

Mengunjungi Pak Pipit di Berlin, September 2019.

Andaikan ada 1000 orang yang berjasa kepada saya dalam perjalanan hidup menjelang 68 tahun ini, paling banyak yang saya ingat mungkin hanya 100. Kebanyakan mereka justru ingatan saya kehilangan jejak. Semoga Allah mengampuni saya dan beliau-beliau juga memaafkan saya. Insyallah andaikan suatu waktu kami berjumpa, saya ingat wajahnya. Memori visual saya lebih kuat dibanding literer. Sangat banyak sahabat dalam kehidupan yang saya lupa namanya tapi insyaallah segera bisa saya identifikasi wajahnya. Terutama yang sudah berlalu 30 sd 50-an tahun. Karena lapuk memori oleh rentang waktu, mungkin juga karena setiap acara Maiyahan yang sudah hampir 5.000 tempat saya datangi, selalu ada tambahan banyak sahabat baru. Akhirnya ketlingsut, dan itu memendamkan rasa dosa di lubuk hati saya.

Saya tidak ingat nama Bapak tua yang ketemu saya begadang di Manhattan sekitar silang Jalan 34 dan Broadway New York yang paginya saya antar dia naik kereta ke Michigan dalam rangka mencari putranya yang sudah belasan tahun tidak ketemu. Juga tidak ingat nama staf IWP Iowa yang mengajari saya main Sky. Juga kebanyakan dari para sastrawan dunia yang bersama saya setahun di Universitas Iowa, kecuali Desmond Hogan Irlandia Utara, Bjorg Vick Norwegia, Kabita Sinha India, atau Rossie Perez Mexico. Di Washington saya ditampung oleh senior kampung Notoprajan yang bekerja di VOA Pak Abdul Nur Adnan, tetapi saya tidak ingat nama putra beliau yang menjelaskan kepada saya kenapa orang Amerika menyebut sepakbola adalah soccer, sementara yang tabrakan-tabrakan dan tidak mengutamakan tendangan kaki malah disebut American Football. Juga saya tidak ingat nama sopir Taxi yang nyamperin saya di tepi jalan di bawah pohon. Mengantarkan saya secara gratis ke rumah Pak Abdul Nur Adnan. Pemuda gemuk gondrong yang sangat akrab dan memperlakukan saya seperti sahabat sangat dekat padahal baru kenal di taxinya, bahkan menawari saya untuk main judi bersama di Reno, Texas, kota kelahirannya.

Saya juga tidak ingat namanya John siapa, teman di Berkeley yang saya datangi dari Iowa tapi dia pergi (karena belum ada SMS ketika itu) dan saya tunggu semalaman di warung Pizza murah meriah sambil mengobrol dengan pemilik warungnya. Dua pemuda, putih dan hitam, yang menodong saya di terminal Bus sangat sepi di pinggiran Indianapolis sebelum saya ke Muncie, yang kemudian saya belikan rokok, saya kasih uang sekadarnya dengan ikhlas, sesudah dia menolak saya ajak pentas Magic dengan memberi contoh di depannya saya ngremus silet dan pisau yang dipegangnya. Omong-omong tentang makan kaca bohlam saya juga tidak ingat satu pun nama aktor-aktor Iowa yang bermain di drama saya di Universitas Iowa tentang transformasi budaya kehidupan rakyat Negara Dunia Ketiga yang anehnya kok mendapat penghargaan tertinggi. Hal silet dan bohlam, saya juga tidak ingat sama sekali siapa-siapa Panitia di kantor Walikota Marikina Filipina yang “nanggap” Jaran Kepang di mana saya ngremus silet dan bohlam, sementara sahabat saya Fred Wibowo dan Joko Quartantyo mempertunjukkan tari Gatotkaca Sutedjo. Jangankan lagi nama-nama teman-teman PETA yang bersama saya dan Romo Widodo ber-workshop di Marikina, Sorsogon, Legaspi. Lamat-lamat ada Gingging, Dessa Quesada, Manny Pambid dan beberapa lagi yang saya masih segar mengingat wajah mereka sampai sekarang.

Kalau tidak ingat ratusan bahkan mungkin ribuan nama teman-teman yang pernah berbuat baik kepada saya adalah dosa, maka entah berapa tumpuk perbuatan baik, berapa banyak shadaqah, berapa ribu Maiyahan, yang cukup dipakai untuk menghapus dosa-dosa masa silam saya. Bukannya cari pembelaan, tapi kan induk kita Mbah Adam sendiri oleh Allah diiformasikan semacam memang ada asal-usul potensilitas genetiknya:

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa akan perintah itu, dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.

Teman yang mengangkut saya dengan mobilnya dari Ithaca ke New York, di saat lain dari Muncie ke Iowa, Bu dan Pak Dosen asli Belanda yang menampung saya di Ann Arbor, teman-teman yang mengantarkan saya ke pasar loak di Sydney, Melbourne, London, Amsterdam, Roma, Washington dll benar-benar saya tidak ingat. Betapa durhaka hidup saya. Suami istri di Maryland, yang semalaman menemui saya, paginya melepas saya di Stasiun Kereta, dan naik kereta mana saja sekenanya, kemudian diteruskan naik bis nomor berapa saja sesuai dengan naluri saya, sampai akhirnya kesasar-sasar dan hampir terlambat tiba di Stasiun Kereta Washington untuk menuju Philadelphia mampir Gymnya Joe Fraizer musuh bebuyutan Muhammad Ali lantas ke New York dan menggelandang begadang seminggu penuh di sana.

Saya goblog di Washington menginap di hotel mewah mahal, balas dendam di New York masuk YMCA yang hanya 15 dollar. Kamar seperti kos-kosan kecil, kamar mandi bersama seperti di pesantren. Lift rusak di larut malam padahal puluhan orang menggerombol antre di depannya. Setiap kali pintu lift menutup untuk mengangkat penumpangnya naik, tiba-tiba membuka lagi. Gagal naik berulang-ulang karena memang losmen murahan. Saya manusia Indonesia terbiasa bercanda dengan kegagalan dan penderitaan. Setiap kali pintu membua kembali, saya spontan “nabuhi”: “Hyaaaa!!!”. Demikian berulang-ulang sampai tiba-tiba badan saya terangkat tinggi, leher saya dicengkeram oleh seorang berkulit hitam yang tinggi besar seperti George Foreman. “Do u think it’s funny, Maaan?”. Ia murka berat dan saya minta maaf. Bagi mereka itu kesulitan dan penderitaan, bagi saya itu hiburan dan kenikmatan.

Kalau diurut, dideret langkah per langkah di seluruh pengalaman kota-kota Amerika, Australia, Jerman, Netherland, Yunani, Perancis, Inggris, Swiss, Skontlandia, Finlandia, Jepang, Korea, Taiwan, Malaysia dan lain-lain nanti seperti ayat Allah “lau kanal bahru”. Air semua laut dipakai untuk menuliskan kalimat Allah takkan cukup, meskipun dituangi lagi terus-menerus. Mungkin juga tidak cukup dipakai untuk mencatati dosa-dosa saya kepada ribuan teman dan sahabat di seluruh dunia dan Indonesia. Itu baru dosa saya pribadi, belum yang dosa kolektif saya bersama KiaiKanjeng yang sudah berkeliling Maiyahan di ribuan titik di Nusantara dan Dunia.

Tetapi pengalaman terkuat adalah Berlin dan Amsterdam. Sahabat sangat setia, nasionalis sangat sejati, manusia sangat jujur jernih murni apa adanya, Pipit R Kartawijaya. Semestinya Pipit yang dulu memimpin rapat-rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, andaikan Allah mengirimnya ke bumi 50 tahun sebelumnya. Putra Kediri baju hitam celana hitam kaos hitam celdam hitam rumah hitam tembok hitam karpet hitam namun hatinya putih jernih. Yang mengajarkan kepada kita bahwa seharusnya Indonesia punya Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan. Yang Kepala Negara mestinya dulu-dulu diambilkan atau dipilih oleh Majelis Tinggi Permusyawaratan Rakyat yang terdiri dari ratusan Sultan-sultan dan Raja-Raja seperti Malaysia. Sekarang Indonesia tidak punya Majelis Tinggi karena sudah dibubarkan oleh Pemimpin Reformasi. Maka semua orang menjadi dungu ela-elo ngendi lor ngendi kidul mana Negara mana Pemerintah. Sungguh ini adalah Nggaya Kesatuan Republik Indonesia. Kesatuannya nggaya, republik dan demokrasinya gaya doang, Indonesianya juga sudah dibuang sendiri ke tempat sampah sejarah. Pipit beberapa kali hadir di Maiyahan di tanah air. Pipit melatih saya mengenali manusia dan politik, memasakkan gulai kambing, bahkan menginfakkan salah satu kamar di tempat tinggalnya selama hampir dua tahun. Pipit banyak menggoreskan tinta emas dalam sejarah hidup saya. Tentu juga Basuki, Komang, Kenny, Kokik, Titik, Ninik dari dan hingga ke Soto Bangkong, Dini yang bergelimang puisi airmata, dan banyak sekali sahabat-sahabat yang berjasa selama saya ulang alik Belanda Jerman 1984-1985.

Dan masyallah manusia total Siswa Santosa, manusia gabungan antara ketegasan dan kelembutan, komposisi antara petualangan dan kesetian, serta harmoni antara kritisisme dan kepengasuhan, senior yang sekarang menjadi sesepuh pemomong Maiyah Mafaza Eropa. Kalau tidak ditampung oleh beliaunya ini di Amstelveen selama menggelandang beberapa bulan di Belanda, mungkin tulisan ini tak pernah ada. Profesor Courtinbrouwer, Profesor Nico Schultenordholt, Profesor Jan Tuanakota, Pendeta Hoffman yang ngerih-rih ketika saya gebrak-gebrak meja di kantor Kapolisian Utrecht, Charles McGeehan Umbunya Amsterdam pelarian dari Amerika Serikat yang sangat bersemangat menterjemahkan puisi-puisi saya dan menampung saya di kamar cracking-nya yang kamar mandinya tanpa pemanas air dan tak ada kompor, ketika saya belum punya biaya untuk sewa kamar sendiri.

Maha Agung Allah yang telah menghadirkan sedulur Burhan Muhammad di Canberra dan Islamabad. Bersama saya dan Sabrang sudah menyusun langkah-langkah meruwat dan melahirkan kembali Indonesia, sudah hampir jadi segala persiapan Sekolah Intelijen di Batam serta banyak pemetaan dan draft-draft ke depan, tapi Allah mengizinkan dihadang oleh subversi internasional helikopternya dijatuhkan. Saya dan Mbak Novia serta Toto Rahardjo menangis melihat dua anaknya masih sangat remaja. Juga menangis di kedalaman jiwa karena kalau Allah kasih saya Burhan Muhammad yang puluhan tahun di BIN, itu setidaknya seperseratusnya kadar Kanjeng Nabi dikasih Sayidina Umar bin Khattab.

Walhasil astaghfirullahal ‘adhim masyaallah subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallahu Allahu Akbar la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim betapa Allah menganugerahkan sangat banyak sahabat-sahabat penuh cinta di tengah rohani dunia yang makin kotor dan kumuh.

Lainnya