Kebon (183 dari 241)

Lak-lak Undi alias Anak Bawang

Foto: Adin (Dok. Progress).

Beberapa lama kemudian saya keserimpet di Institute of Social Studies (ISS) di Den Haag. Itu yang menyebabkan saya punya akses menyewa kamar hantu di OudemallStraat. Status saya tidak jelas. Saya dikasih ruang sebagaimana dosen-dosen, dan resminya saya mengajar mata kuliah “Religion and Development” serta “Culture and Development”. Saya penuhi posisi itu tapi saya hanya menyiapkan waktu untuk mengobrol dan sedikit workshop games dengan para mahasiswa. Sesekali saya ajak terlibat demonstrasi, yang saya ingat ketika memprotes diktator Chilli Augusto José Ramón Pinochet Ugarte yang dikenal secara internasional sama-sama penguasa diktator seperti Pak Harto waktu itu.

Ada sejumlah mahasiswa dari Indonesia di ISS. Mereka sering ketemu saya ketika makan siang dan wajahnya terheran-heran apa kerjaan saya di situ. Kebetulan tak ada di antara mereka yang mengikuti kelas saya.

Kisah-kisah kecil di Netherland itu terjadi pada tahun 1984-85. Saya menuliskannya sekarang tahun 2021. Andaikan saya bebohong, tak bisa di-recheck atau diverifikasi. Seandainya benar, juga belum tentu dipercaya dan diakui.

Dunia institusional formal terkadang tidak menentu juga. Saya sendiri sampai sekarang tidak mengerti bagaimana mungkin waktu saya seakan-akan menjadi seorang dosen yang mengajar di Institute Internasional Ilmu-ilmu Sosial. Disediakan ruangan untuk transit di tengah mengajar “Kebudayaan dan Pembangunan” serta “Agama dan Pembangunan”.

Andaikan itu benar dan memang fakta, saya tidak mengerti dua hal. Pertama, atas legalitas akademis apa dan atas bukti ekspertasi yang bisa dijumpai melalui fakta formal apa kok saya diletakkan di situ. Hal kedua yang saya juga tidak paham adalah memangnya apa saja yang waktu itu saya omongkan kepada para mahasiswa di ruang kuliah. Kalau Anda menguji saya sekarang, Anda akan menemukan Bahasa Inggris saya sangat belepotan dan tidak memenuhi syarat. Apalagi Bahasa Belanda.

Jadi dalam memori saya itu semua adalah alam ghaib. Bahkan saya waktu itu menempuh langkah prosedural akademis untuk program Doktor. Saya bikin proposal dengan semua persyaratannya. Seorang Profesor mentertawakan saya dan merespons, “Kami di sini ini senang atas kedatangan Anda, karena bisa belajar hal-hal liar yang tidak pernah kami pikirkan di kampus kami, kok Anda malah mau menempuh ini semua. Anda tidak membutuhkan gelar apapun untuk membuktikan ilmu, pengetahuan dan wawasan Anda…”

Karya esai yang saya tuangkan untuk memproses program itu akhirnya saya teruskan sendiri menjadi buku “Gerakan Punakawan”. Terakhir ISS secara aneh juga memberi saya hadiah uang 3.000 Gulden untuk tulisan itu, dan saya pakai antara lain untuk membeli tiket pulang ke Indonesia.

Sungguh di ISS dan semua peristiwa itu saya merasa “lak-lak undi”. Itu istilah di desa saya Menturo untuk anak kecil yang pura-pura diikutkan dalam suatu permainan, misalnya Jumpritan, tapi sebenarnya tidak diperlakukan sebagaimana peserta lainnya. Anak lak-lak undi ini tidak terikat oleh aturan permainan.

Tetapi ketika bersama Kiai Kanjeng kami keliling Belanda tahun 2008, ISS sedang menyelenggarakan Dies Natalis ke-51 dan saya diundang untuk memberikan pidato ketika acara utama Dies. Itu pun Rektornya memperkenalkan saya dengan kalimat ghaib: “Mr Emha adalah lulusan ISS tahun 1984. Dan bukan sembarang 1984, tetapi 1984 yang sangat istimewa dan khusus karena kontribusi beliau selama di ISS…”. Padahal jelas saya tidak pernah kuliah di ISS, apalagi lulus dan disebut alumnus. Jadi saya memahami serta meyakini perkenalan itu semata-mata merupakan kebaikan hati menyambut tamu dari Indonesia, serta menggembirakan saya justru karena Pak Rektor mengerti sebenarnya saya hanyalah lak-lak undi.

Rektor ISS dan semua yang hadir siang itu bukanlah Muslimin. Tetapi karena Islam itu dimaksudkan sebagai rahmat untuk semua manusia, bahkan seluruh alam semesta, mungkin saja ada gelombang rohani yang memasuki hatinya. Tanpa pernah membaca Qur`an atau Hadits, beliau bisa saja dirasuki oleh frekuensi keindahan dan kemuliaan sabda Nabi Muhammad Saw, “Apabila seorang tamu masuk ke rumah seorang mukmin, maka masuk pula bersama tamu itu seribu rahmah dan seribu berkah. Allah akan menulis untuk pemilik rumah itu pada setiap suap makanan yang dimakan oleh tamunya seperti pahala haji dan umrah.” (HR. Dailami).

Saya yakin saya memang lak-lak undi. Jangankan dalam kehidupan di dunia, sedangkan di Indonesia saja pun saya Lak-lak Undi. Dan saya ikhlas serta tidak lantas menjadi rendah diri karena posisi itu. Sebab di Indonesia sendiri sejak dulu sampai sekarang bisanya saya memang hanya lak-lak undi. Sejak masa Orde Lama, Orde Baru hingga Reformasi dan sekarang, saya tidak punya peran apa-apa yang benar-benar peranan. Mungkin ada enaknya dan longgar. Saya tidak dianggap siapa-siapa yang membahayakan siapapun. Tidak layak ditangkap atau dihukum. Lak-lak undi tidak cukup penting pernah dijaring oleh kekuasaan, tidak pernah ditangkap, ditahan atau dipenjara.

Ada sekali saya diinterogasi di kantor Kejaksaan DIY karena dianggap melatarbelakangi demonstrasi mahasiswa. Interogator bertanya macam-macam, saya terus dan selalu menjawab di sekitar kata-kata ini: “Benar ini?”, “Ini beneer?”. “Benar Sampeyan menanyakan itu semua kepada saya?, “Thith ya…”. Akhirnya interogator saya putus asa dan dengan wajah ngelendheh mengeluh: “Saya ini cuma menjalankan tugas, Cak”.

Akhirnya saya ganti menanyainya: di mana rumah tinggalnya, punya anak berapa, dulu kuliah di mana, aslinya dari daerah mana dan seterusnya. Akhirnya para jaksa yang lain berdatangan, kami semua mengobrol berkepanjangan. Besoknya saya undang interogator saya itu untuk siapa tahu beliau berkenan ikut Yasinan di Patangpuluhan.

Lainnya