Wisdom of Maiyah (112)

Laboratorium Kearifan

Semakin ke sini, di tengah semakin canggihnya pengetahuan manusia, penemuannya, kecemerlangan akalnya, mula-maksud tujuan baiknya, nyatanya selalu ada ruang yang bisa terisi oleh hal-hal fasik, hal-hal yang memiliki potensi mempercepat apa yang disebut Allah sebagai kerusakan di muka bumi. Saya nyaris tidak memiliki jawaban atas semua itu, kecuali ketika pikiran itu direm, disterilasasi, diolah, diuji, maupun disimulasi dalam sebuah laboratorium yang kita menyebutnya Maiyah.

Ilmu pengetahuan dipahami bukan sebagai semata jalan dan klaim atas kebanaran yang tidak jarang memunculkan keangkuhan, perang dalil, “sing paling bener aku,” tetapi ia adalah bahan baku bagi kearifan hidup. Pada posisi tertentu, di Maiyah saya melihat hal-hal yang seolah berseberangan dengan prinsip-prinsip akademis-logik, prinsip-prinsip sanad-keislaman. Kadang, itu bisa berkelindan dengan apa yang oleh orang banyak disebut tahayul, konspirasi, dongeng. Namun, semua itu tidak lain adalah sumber pengetahuan yang narasumbernya dihadirkan sesuai kapabilitasnya. Harus diakui bahwa segala sumber itu katalisatornya adalah Mbah Nun, peramu dan penjahit atas semua taburan ilmu bahwa apa pun itu yang harus lahir adalah kearifan hidup dan ketauhidan.

Di Maiyah, orang-orang melingkar, mengaji, dan mengkaji dari segala elemen kehidupan. Tujuannya adalah menghimpun pengetahuan yang utuh dan mendalam sehingga kita, sedikitnya, bisa menjadi manusia dengan prinsip yang Allah sebut dalam surat Al-Isra yang penuh dengan pengetahuan, anjuran, dan nasihat yang salah satunya harus dijadikan pedoman adalah ayat ke-36: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Lainnya