Kebon (119)

La Wedhon Wala Jrangkong

Foto: Adin (Dok. Progress)

Kalau memang bisa menetralisir rumah-rumah dari hantu di Roma, Canberra, London, dan tempat-tempat lain, so what? Kalau memang bisa menghardik dan mengusir Jin atau menyangkarinya di botol tertutup, lantas kenapa? Kalau memang bisa menanamkan kesaktian atau mencabutnya, terus yokopo? Bahkan ketika sejumlah orang di sejumlah momentum tinggal selangkah menuju maut namun tak kunjung naza’ lantas kau hadir dan Malaikat Izroil langsung mencabut nyawanya, apakah engkau menjadi hebat?

Sampai beribu-ribu jumlah Jamaah Maiyah yang menyodorkan air di botol untuk ditiupkan doa, sehabis Maiyahan di mana-mana atau datang ke Kadipiro. Bersangka baik itu adalah wasilah untuk kesembuhan bagi segala macam penyakit atau masalah-masalah. Dari yang kecil hingga yang besar. Ada yang minta ditampar pipinya. Di-kethak kepalanya. Diludahi mukanya atau bahkan di mulutnya yang dibuka. Lantas apakah itu berarti engkau sakti dan punya kelebihan?

Meskipun kau tercatat menurunkan seorang Kaisar dari kursi kekuasaannya dan menaikkan seorang Begawan ke singgasana Kerajaan, apa kau pikir itu sukses dan prestasi politik? Meskipun kau “ora tedhas tapak paluning pandhé”, atau “demit ora ndulit setan ora doyan”, apakah itu keunggulan dan kelebihan? Tidak sekadar minta tanda tangan atau foto bersama. Di terminal, di pinggir jalan, berkerumun antre sesudah Maiyahan, di warung, sehabis kencing di toilet. Atau di mana-mana saja pun.

Lantas apakah itu membuatmu menjadi penting? Menjadi “public figure”? Sebagaimana Lik Par menggelari saya Nabi kalau saya nyangoni dia 300 ribu. Wali kalau 200 ribu. Kiai kalau 100 ribu. Dan Ustadz lokal kalau 50 ribu?

Ribuan Jamaah Maiyah minta diajari macam-macam dalam mimpi mereka. Ada yang kursus terbang. Ada yang transfer wirid dan hizib. Ada yang sembuh dari sakitnya sesudah bangun tidur. Ada yang berkerumun bersama ribuan Jin dan macam-macam makhluk lain mengikuti pengajian saya. Ada yang saya pindahkan ke tempat lain sejauh 25 km untuk menyelamatkannya dari suatu keadaan yang ia terpojok.

Atau tamu dari Saudi Arabia jauh-jauh ke Klaten untuk menyampaikan titipan cincin dari Rasulullah Muhammad Saw. Lainnya pena rajah dari Imam Al-Ghazali. Lainnya lagi menyampaikan akik galih asem dari Kanjeng Sunan Kalijaga. Lainnya lagi membawa kotak kayu berisi cincin dari almarhum Syaikhona Kholil Bangkalan, bersamaan dengan titipan Kitab dan Pisang. Yang setelah saya buka isinya gumpalan batu-batu.

Dan beribu macam yang aneh-aneh lagi yang tidak semuanya saya ingat apalagi saya catat. Itu semua tidak membuat kau dan aku jadi spesial, hebat atau sakti. Tidak membuatmu dan aku jadi “linuwih”. Meskipun kau sanggup merebahkan badan ribuan orang selapangan hingga telentang di punggungnya. Meskipun kau seakan mampu menghentikan perang suku. Meskipun andaikan seperti Kanjeng Nabi kau membelah rembulan, tak terbakar oleh api seperti Mahabrahma Ibrahim atau membelah samudera seperti Nabi Musa. Itu semua bukan kau bisa. Yang terjadi adalah Allah menghendaki dan berkenan memperjadikan sesuatu semau-mau Ia. Innallaha ‘ala kulli syai`in Qadir.

Mana yang lebih hebat makhluk-makhluk ghaib seperti Jin dan Malaikat itu adalah “the invisible creature” di sekitar kita, ataukah kita yang “the invisible men” di sekitar mereka? La Wedhon wala Jrangkong. Neither Wewegombel nor Sundelbolong. Itu semua sepenuh-penuhnya bergantung pada perkenan Allah atas apa pun yang kita alami.

Bagi Jamaah Maiyah, rumus dasarnya jelas:

لاحوْل ولاقوّة إلّابالّله العليّ العظيمِ

Tak ada kuasa dan tak ada kekuatan kecuali di tangan-Nya Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

قُل لَّوۡ كَانَ ٱلۡبَحۡرُ مِدَادٗا لِّكَلِمَٰتِ رَبِّي لَنَفِدَ ٱلۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَٰتُ رَبِّي
وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهِۦ مَدَدٗا

Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.

Itu juga berlaku andaikan amal ibadahnya seluas tujuh samudera dan setinggi tujuh gunung, hak-Nyalah untuk menerima atau menolakmu.

عن أنس رضي الله عنه یقول: قال الله تعالى: یا ابن آدم، إنك ما دعوتني قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم ورجوتني غفرت لك، على ما آان منك، ولا أبالي. یا ابن آدم، لو بلغت ذنوبك عنان السماء، ثم استغفرتني غفرت لك، یا ابن آدم، إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطایا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة

Dari Anas bin Malik radhiallahu‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula”.

Tapi kau jangan take it for granted dan memastikannya dalam pertimbangan perilakumu. Sebab hak absolutnya tetap di tangan Allah. Allah mustahil mengingkari janji. Tetapi hak eksekusi atas pemenuhan janji itu tidak terletak di tanganmu, melainkan di keharibaan-Nya.

Tidak ada yang kau dan aku sungguh-sungguh bisa lakukan. Jangan sekali-sekali bilang “Aku Bisa” tanpa mengingat hakikat bahwa sejatinya hanya Allah yang Maha Bisa.

Di dalam kebudayaan Jawa ada idiom untuk kejiwaan manusia, misalnya “legowo”: menghampakan segala kepentingan diri untuk menerima sesuatu hal secara murni dan penuh. “Nyegoro”: memperluas jiwa agar mampu memuat segala macam perasaan atau akibat-akibat apapun yang diakibatkan oleh kejadian dan pengalaman-pangalaman. Atau “mupus”: muatan hidup kita tinggal Allah, tidak ada ego atas hal apapun. Di dalam idiom-idiom “lokal” itu termuat seluruh dimensi makna keimanan dan tauhid. Itu adalah aplikasi psikologis dari prinsip “lillahi ta’ala”. Termasuk di dalam jiwa kita tidak ada sisa serbuk kesombongan, merasa bisa, merasa mampu, merasa hebat, merasa sakti.

Meskipun Tuhan sendiri menyiapkan lima (5) sifat pemaaf atau pengampun yang berlaku langsung: Al-‘Afuwwu, Al-Ghofur, Al-Ghaffar, Ar-Ro`uf, Al-Wadud. Dan banyak sifat Allah lainnya yang bersifat tidak langsung. Misal Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pemurah dan Maha Penyayang, yang bisa berakibat pengampunan. Atau Al-Fattah, Maha Pembuka Rahmat. Ar-Razzaq, Maha Penabur Rizki. Al-Basith, Maha Melapangkan, sehingga memaafkan. Dan banyak lagi. Tetapi kita jangan anggap enteng karena berpikir toh Allah Maha Pengampun.

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Hak mutlak Allah untuk menganugerahkan hidayah atau menyesatkan kita. Kalau tidak setuju, silahkan menjadi Allah.

Sekarang daripada mengidap penyakit memuji diri, bagaimana kalau kita belajar memuji Indonesia saja.

Lainnya