Kyai Muzammil dan Tahaddust Binni’mah di Padhangmbulan

Padhangmbulan, Juni 2018.
Foto: Hariyadi (Dok. Progress).

Blaka suta, berbicara terus terang dan apa adanya, dengan logat Madura yang khas, itulah karakter gaya bicara Kyai Ahmad Muzammil di depan jamaah. Kehadirannya di Pengajian Padhangmbulan bukan hanya ditunggu, ia dirindukan bersama logat polos dan guyonannya yang cerdas khas manusia Madura.

Gaya komunikasi yang egaliter terbuka klop dan nyambung, seperti tumbu ketemu tutup dengan budaya komunikasi nJombangan yang bebas merdeka. Terjalin sintesis perjodohan antara tegaknya harga diri Carok dengan kemurnian autentik Ludruk. Agak mundur ke belakang kita bahkan menemukan interkoneksi antara Bangkalan dan Jombang.

Kehadiran Kyai Muzammil di Pengajian Padhangmbulan meramu sintesis dan interkoneksi unsur-unsur tradisi, budaya, spirit hingga substansi sejarah di mana Mentoro menjadi “layah” atau “cowek” yang mewadahi proses lahirnya perspektif baru melihat Indonesia.

Bersama Kyai Muzammil kita riang gembira menertawakan dan mengejek diri sendiri. Apalagi salah satu fadlilah DNA manusia Madura adalah berani melakukan negosiasi kepada Tuhan secara polos dan total. Tak terbilang banyaknya adegan yang berujung tawa sementara hati kita tersipu akibat ditelanjangi guyonan itu.

Soal kemampuan membaca kita kuning, mentasrif lughawy dan ishtilahy, menjabarkan i’rab hingga mengurai murad teks khas pesantren, kemampuan Kyai Muzammil tidak diragukan lagi. Pernah di Pengajian Padhangmbulan saya duduk bersebelahan dengan Beliau. Di depannya ada dua kitab (kuning). Yang satu akan dibaca dan dijelaskan kepada jamaah Pengajian Padhangmbulan. Sementara kitab satunya ditunjukkan kepada saya. “Ini kitab isinya doa-doa,” ungkapnya. Sayangnya, saya belum sempat meminta ijazah doa kepada Beliau.

Saya wajib menceritakan tahaddust binni’mah ketika diamanahi untuk memandu Pengajian Padhangmbulan. Waktu itu Mbah Nun belum datang hingga saya meyakini bahwa beliau sesungguhnya hadir di hati kita semua. Kyai Muzammil lebih lantang menyatakan, kalau Mbah Nun tidak hadir di depan kita jangan disimpulkan Beliau tidak hadir di sini. “Hadir atau tidak jangan diukur secara jasmani,” kata Kyai Muzammil.

Menjelang penghujung acara semua jamaah berdiri. Saya ambil posisi berdiri di belakang Beliau. Usai membaca doa lengan saya ditarik agar berdiri di sampingnya. Tak urung saya ketiban sampur bersalaman dengan teman-teman jamaah yang begitu banyak setelah mereka berbaris menyalami Kyai Muzammil. Saya berpikir ini bukan maqamat saya. Berhubung yang memerintah Marja’ Maiyah, saya manut saja.

Tahaddust binni’mah-nya adalah ketika menjelang subuh tiba di rumah saya mendapati istri saya matanya berkaca-kaca. Ada apa ini? Bersalaman dengan teman-teman jamaah Padhangmbulan ternyata semacam ucapan selamat. Momentum itu datang bersamaan dengan pengumuman anak mbarep saya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Istri saya menangis bahagia.

Lama tidak berjumpa dengan Beliau, menjelang malam Pengajian Padhangmbulan Mei 2021, kabar terakhir yang saya terima adalah Kyai Muzammil dirawat di rumah sakit. Melintas duka di perasaan saya. Setelah berembuk teknis membuka Pengajian Padhangmbulan dengan membaca Al-Fatihah, Istighfar, Shalawat Nabi dan Surat Yasin, sebagaimana panduan langsung dari Mbah Nun, saya menitip pesan kepada Cak Majid mengirim Al-Fatihah untuk Kyai Muzammil.

Pengajian Padhangmbulan mengalami momentum subhaanalladzii asraa bi’abdihii lailaa. Gelap — dan kita tidak tahu satu menit berikutnya akan mengalami kejadian apa. Napak Tilas Pengajian Padhangmbulan menerima rezeki min haistu laa yahtasib. Allah menganugerahkan kejutan. Dihadirkan-Nya tamu suami istri Mr. Greey dan Mbak Nova Ruth. Selanjutnya menyusul Mas Weldo menyapa jamaah.

“Padhangmbulan akan mengalami lagi kejutan demi kejutan,” bisik Mbah Nun. Saya tertegun, kejutan gerangan apakah itu? Yang pasti Tuhan menciptakan segala sesuatu secara berpasangan dan saling berjodoh. Hidup dan mati adalah sunnatullah yang berputar. Innaalillaahi wa innaa ilaihi raji’un. Momentum Pengajian Padhangmbulan yang bertepatan dengan Milad Mbah Nun ke-68 meneguhkan kasunyatan itu.

Kyai Muzammil menapaki dimensi innahuu ilaihi raji’un setelah menjalani dialektika innahuu lillaah. Kalau memakai persepektif “Chattra dan Ka’bah”, Beliau melakukan “thawaf” menembus langit setelah menebar keindahan paseduluran di tanah kemuliaan.

Sementara kita masih harus berkutat dan berjibaku menebar keindahan “pergerakan hati” di atas tanah panas ini.

Allaahummaghfir lahuu warhamhu wa ‘aafihii wa’fu’anhu.

Jagalan, 27 Mei 2021

Lainnya