Kebon (185 dari 241)

Kuda Tuli Nonton Bioskop

Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta.
Davidelit, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Setelah Bu Mega memimpin PDI, kelak terjadi Kuda Tuli. Kerusuhan dua puluh tujuh Juli. Ada rekayasa dari penguasa Orde Baru ketika itu untuk mengambil alih paksa sampai pertumpahan darah atas Kantor Pusat PDI di Jl Diponegoro Jakarta.

Inti petanya adalah Penguasa tidak menyukai kekuatan yang dianggap oposan meskipun perolehan Pemilunya sangat kecil sekitar 10%. Peta lainnya adalah persaingan atau perebutan Indonesia oleh dua keluarga, Pak Harto dan Bung Karno.

Saya bikin pertemuan di Masjid Tjut Meutia Menteng dengan mengundang anak-anaknya Bung Karno dan Bung Hatta, dua Proklamator kita semua. Niatnya sederhana, ingin memberi tanda kepada Bu Mega bahwa ia tidak sendirian, sesudah Kuda Tuli itu. Tentu saja ide penyelenggaraan pertemuan itu berposisi “nranyak” kepada kekuasaan Pak Harto. Tetapi karena saya seorang Lak-lak Undi, maka tidak mendapatkan akibat apa-apa.

Menjelang acara, sebelum maghrib saya sudah berangkat dengan Saifullah Yusuf, yang kelak menjadi Wagub Jatim, ke rumah Bu Mega di Kebagusan. Maksud kami adalah menjemput beliau untuk kami bawa ke Tjut Meutia, karena memang sudah kontak dan berjanji sebelumnya untuk itu. Tetapi sesampainya di rumah Bu Mega, yang ada hanya Pak Taufiq Kiemas menemui kami. Sementara Bu Mega sedang belanja di Pondok Indah Mall. Kami coba telepon berkali-kali, terakhir ternyata Bu Mega meneruskan perjalanannya dengan nonton film di Mall itu. Bu Mega pasti punya kosmos ilmu, pengetahuan, dan pertimbangan sendiri yang matang, untuk menyimpulkan bahwa nonton film lebih penting dibanding memenuhi janji datang ke acara yang membelanya di Masjid Tjut Meutia.

Karena paling cepat Bu Mega datang nanti pukul 22.00, maka Saiful dan saya mengambil keputusan untuk kembali ke Masjid Tjut Meutia, dengan keinsyafan dan kesadaran bahwa saya memang hanya seorang Lak-lak Undi. Paling lambat pkl 20.00 acara sudah harus mulai dan tidak sopan kalau saya tidak ada di situ. Maka kami pun pamit kepada Pak Taufik dan ngeloyor ke Tjut Meutia.

Acara tetap berlangsung tetapi “sepo”, hambar. Hanya satu putri Proklamator yang hadir, yaitu putrinya Bung Hatta yang namanya sama dengan nama Masjid tempat pertemuan. Tetapi minimal media dan khalayak menjadi tahu bahwa ada banyak orang dan pihak yang berdiri di sisi Bu Mega berhadapan dengan Pak Harto.

Mungkin karena Bu Mega sebelumnya selama bertahun-tahun dikuyo-kuyo pada periode kepemimpinan PDI sebelumnya, dengan dipuncaki Kuda Tuli, maka kemudian PDIP menjadi penguasa Indonesia sampai waktu yang sangat panjang. Saya yakin massa PDI maupun PDIP sampai sekarang kebanyakan tidak mengetahui apa yang saya kisahkan di Kongres PDI Asrama Haji Surabaya serta acara solidaritas di Masjid Tjut Meutia. Dan seandainya tahu pun mereka tidak menemukan apa pentingnya peristiwa itu. Sebab Bu Mega dan PDIP menjadi besar karena dirinya sendiri, karena ikhitar perjuangannya sendiri, dan karena “kuwalat”nya penguasa sebelumnya.

Kelak ketika tiba era Maiyah, Pak Idham Samawi menyampaikan keinginan Bu Mega untuk mengadakan pertemuan dengan saya, bahkan minta ada Maiyahan di Kantor Pusat PDIP. Pertemuan itu tidak pernah terjadi karena saya tidak yakin apakah tiga gagasan keIndonesiaan yang saya siapkan akan bisa dimengerti, diterima apalagi dilaksanakan oleh Bu Mega. Hasto Kristyanto Sekjen PDIP juga sempat ke Kadipiro sekali tetapi tidak ada hal yang signifikan yang kami sepakati untuk diaplikasikan bagi masa depan Indonesia.

Saya renung-renungkan gagalnya pertemuan dengan Bu Mega, gagalnya Maiyah di Kantor Pusat PDIP, juga tidak kondusifnya hasil dialog dengan Mas Hasto, salah satu sebab substansialnya adalah karena takdir saya memang hanya Lak-lak Undi. Bu Mega adalah aristokrat sejarah putra Presiden pertama Indonesia yang lahir di Keraton Solo dan dikagumi oleh rakyat Asia Afrika sesudah dulu mempahlawani penyelenggaraan Kongres Asia Afrika serta Ganefo, Games of the New Emerging Forces. Mungkin Tuhan sudah menggariskan bahwa putra orang besar seperti Bung Karno sampai anak cucunya kelak akan menjadi pemimpin nasional bangsanya, melalui pertimbangan atau verifikasi kualitatif atau tidak untuk menjadi pemimpin. Sedangkan saya benar-benar hanyalah “arèk ngasak” dari Menturo, Lak-lak Undi sepanjang zaman.

Mungkin saja ketentuan Allah atas keluarga-keluarga oligarki Nusantara sejak jaman Majapahit hingga sekarang dan masa depan, sepadan dengan takdir Allah atas bergantinya siang malam, beredarnya matahari, bumi, rembulan dan semua benda-benda langit lainnya.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا
ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Allah memfajar-menyingsingkan Soekarno, Megawati, Jokowi, Puan, bahkan Gibran hingga anak-cucunya, serta menjadikan para Lak-lak Undi, anak-anak bawang dan lain-lainnya beristirahat untuk suatu perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Kekhilafan saya lagi adalah tidak mengajak Gus Dur, sebagaimana kami bersama-sama di Surabaya ngiguh sejumlah hal agar Bu Mega memimpin PDI. Gus Dur bukan Lak-lak Undi. Gus Dur berasal dari nasab aristokrasi spiritual yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Kalau ada Gus Dur di Tjut Meutia malam itu, dijamin acara akan gayeng, segar, dan memiliki makna politik dan kesejarahan yang istimewa. Dan pasti banyak tokoh-tokoh langit yang turun ke bumi Menteng Jakarta.

Lainnya