Kubangan Laknat Bernama Media Sosial

Image by Tracy Le Blanc from Pexels

Media sosial sewajarnya adalah sebuah alat untuk menyambung silaturahmi. Dengan persambungan silaturahmi yang baik maka akan terbuka banyak pintu-pintu rezeki. Media sosial adalah sebuah alat, ibarat pisau yang bermata dua. Bagaimana kita memanfaatkan alat tersebut, begitulah kita akan mendapatkan manfaatnya.

Media sosial selalu ramai setiap hari. Suara orang banyak (saya tidak menyebut suara rakyat atau suara masyarakat) berseliweran setiap saat. Apa saja bisa jadi tema. Apa saja bisa jadi rerasanan. Apa saja bisa jadi pemantik hujatan. Masing-masing orang mempunyai media sendiri untuk dibaca oleh followers-nya.

Alhamdulillah kalau informasinya sehat dan bermanfaat, dampaknya tentu sangat baik. Celakanya, lebih banyak informasi yang cenderung provokatif, manipulatif, dan hanya bertujuan menarik opini publik yang mana di media sosial hal tersebut tidak mudah untuk dibendung.

Ketika sebuah isu digulirkan, opini publik bermunculan. Tidak ada lagi keseimbangan antara pro dan kontra, karena memang yang dicari adalah bagaimana antara kubu yang pro dan kontra semakin bersitegang dan saling menghujat di media sosial.

Suara seorang public figure ditunggu untuk menjadi pemantik tema. Kalau suara seorang tokoh itu tidak sesuai dengannya akan dihujat dengan bebas. Melampiaskan kata-kata dengan sangat kasar dan tak terkendali melalui tulisan. Jempol dan jari-jemari begitu terampil menuliskan kata-kata yang tidak elok. Mengudal-udal ranah pribadi adalah ekspresi. Ujungnya pertengkaran.

Dan Pemerintah DIAM. Membiarkan anak bangsa bertengkar di media sosial. Pemerintah sama sekali tidak memiliki kuasa untuk mengatur lalu lintas informasi di media sosial. Ketika perpecahan semakin runcing, Pemerintah hanya mampu menghimbau dan mengingatkan. Tidak ada tindakan tegas untuk menghentikan perpecahan itu.

Inilah hasil peradaban terbaru. Kita tidak bisa mengendalikan. Kita tidak punya solusi apa-apa. Menunggu murka Allah juga tidak datang-datang. Atau jangan-jangan memang Allah sengaja menyesatkan kita dalam kubangan laknat media sosial ini?

Bisa jadi, saat ini media sosial kita adalah cerminan diri kita sendiri. Apa yang kita sampaikan di media sosial, apa yang kita ikuti di media sosial, apa yang kita tonton itulah cerminan diri kita. Bukan hanya sekadar ‘mulutmu harimaumu’.

Banjir melanda di berbagai daerah. Tidak ada yang menyikapi bahwa banjir adalah  peringatan atau ujud murka Allah. Tidak sama sekali. Banjir menjadi ajang olok-olok juga. Banjir juga peluang emas untuk menghujat pemimpinnya. Banjir menjadi salah satu peluru untuk medan baku hantam yang sudah tergelar sejak beberapa tahun lalu akibat perbedaan pandangan politik. Informasi mengenai bagaimana masyarakat berjibaku menyelamatkan diri semakin tertutup rapat, karena yang digaungkan adalah penggiringan opini publik untuk bersama-sama menyalahkan Pemerintah.

Memang, salah satu cara yang paling ampuh adalah bagaimana diri kita membatasi akses terhadap segala informasi yang berseliweran di internet. Mungkin, lebih baik dianggap kudat alias kurang update karena tidak mengetahui informasi terkini. Tetapi, bukankah itu lebih baik daripada kita terjebak dalam arus informasi yang semakin tidak mampu kita validasi kebenarannya?

Masalahnya, terkadang isu-isu di media sosial memang tidak menyerempet kepada kita secara personal. Terkadang, banyak informasi-informasi yang juga bias bahkan cenderung manipulatif yang menyerempet kepada orang-orang di sekitar kita. Seperti yang terjadi pada Mbah Nun. Banyak sekali video-video, quote-quote, meme-meme yang entah dibikin oleh siapa, memotong-motong, memanipulasi informasi, dengan tujuan memprovokasi dan semakin melanggengkan perpecahan bangsa.

Inilah kenyataan negaraku. Entah sampai kapan. Yang mampu kami lalukan adalah bagaimana anakku dan teman-teman dekatku tidak ikut ‘arus’ ini.

Lainnya