Konservatifnya Mbah Franklin

Foto: Jamal Jufree.

Benar dugaan saya. Pagi ini Mbah Franklin merengut lagi. Apa lagi kalau bukan seperti minggu lalu karena situasi politik Amerika akhir-akhir ini. Apa yang menyulut dia? Dua televisi yang sedang menyala di kamar dan ruang tamunya menjelaskan: FOX News.

“Are you okay?” saya coba menyapa.

“No! I am frustrated, Jamal. Because you start, here’re the things….”

Ah, pagi-pagi sudah kena semprot. Pertanyaan saya jadi pancatan semprotannya.

Tapi tidak apa-apa. Salah satu peran saya seperti salah satu judul buku Mbah Nun: keranjang sampah. Mungkin sudah tidak ada yang berperan itu dalam hidupnya yang sendirian.

Pagi ini dia mengomel panjang sekali. Saya menyimak sambil mengambil pakaian kotornya dari hampers — keranjang tempat cucian kotor. Juga seprai dan sarung bantal dari kasur di ranjangnya.

Dalam kesendiriannya di usia senja, apartemen Franklin sangat rapi dan bersih. Tampak kebiasaan tertibnya sudah terbangun sangat lama. Penataan pakaian di lemarinya teratur.

Ketika saya mengembalikan pakaian bersihnya, semua harus dirotasi. Yang baru dicuci diletakkan paling bawah atau belakang. Semuanya: kaos dalam, kaos, celana dalam, sapu tangan, dan kaos kaki.

Konsentrasi kuping saya terbagi antara mendengar celotehannya atau FOX News. Sebagai media yang menahbiskan diri sebagai corongnya kelompok konservatif, kanal televisi itu tentu menyuarakan protes atas impeachment kepada Presiden Trump yang diputuskan DPR. Berita itu yang sedang tayang pagi ini.

Dalam sejarah politik negara Amerika, hanya tiga presiden yang diupayakan diberhentikan di tengah jalan: Andrew Jackson — presiden ke-7 ini dikenai tuduhan kriminal tingkat tinggi, Bill Clinton — karena skandal seksnya dengan Monica Lewinski, ia disebut menyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi pengadilan, dan Donald Trump — ia dituduh menyalahgunakan kekuasaan dan menghalangi wewenang Kongres. Hasil akhir upaya pemberhentian ini sama: menetapkan ketiganya tetap menjabat sebagai presiden.

Dari ketiganya, hanya Trump yang di-impeach dua kali. Dalam satu periode pula. Upaya pemberhentian kedua dilaksanakan Rabu seminggu lalu oleh DPR dengan tuduhan menghasut kerusuhan. Akibat pidatonya yang menyulut para pendukungnya yang tidak terima dengan hasil Pilpres untuk menyerang Gedung Kongres, kuilnya demokrasi Amerika.

Mungkin Trump tidak menyangka pendukungnya akan segila itu. Saat dia dengan lantangnya, “Mari kita menuju Gedung Kongres!”, ribuan pendemo sorak-sorai.

Usai pidato di depan Gedung Putih itu, Trump balik kanan, grak. Ke White House, duduk nyaman, memantau dari televisi. Ketika itu mungkin dia bangga sekali, pidato gagahnya menggetarkan hati pendemo yang sedang terjangkiti virus 3C: ciut, cethek, cekak itu, dan benar-benar menuju U.S. Capitol.

Ternyata pendukungnya rusuh di “tempat suci” demokrasi Amerika itu. Dari banyak foto dan video yang beredar, terekam beraneka macam ulah mereka. Pintu dirusak. Jendela dipecah. Dokumen diserak. Laptop dijarah.

Kabar terakhir, FBI menyelidiki laptop itu dicuri dari ruang Nancy Pelosi, ketua DPR. Si pencuri: Riley June William — salah satu perusuh berusia 22 tahun. Perempuan ini diketahui hendak menjual data laptop itu kepada intelijen Rusia.

Pidato itulah yang dianggap menghasut. Meskipun Trump menyangkal, impeachment sudah diketok palu oleh Nancy Pelosi.

Yang berhak memecat presiden adalah MPR (Congress). MPR terdiri dari DPR (House of Representative) dan DPD (Senate). Pertama harus diketok palu dulu oleh DPR — ini sudah terjadi.

Dari DPR, naik ke persidangan DPD. Kalau minimal dua pertiga atau 67 orang dari 100 anggota DPD mengatakan iya lewat voting, Trump diturunkan dari jabatannya. Jika hanya 66 orang yang Yea (iya) dan sisanya Nay (tidak), Trump tetap presiden.

***

Mbah Franklin tetap ngomel. Tapi semua pakaian kotornya sudah di keranjang dorong, siap menuju ruang mesin cuci di lantai bawah tanah. Yang dia tidak terima dengan impeachment kedua ini adalah buat apa itu tetap dilakukan.

Kan Trump sudah bilang proses transfer kekuasaan akan berjalan baik. Dia sudah menegaskan itu. Toh besok Rabu 20 Januari, setelah Joe Biden dan Kamala Harris dilantik, Trump bukan presiden lagi.

Senin ini dan Selasa besok para Senator harus bersidang yang kecil kemungkinannya memecat Trump. Karena DPD masih dikuasai Partai Republik.

Sementara itu bila persidangan tetap dilanjutkan usai Trump lengser, belum pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya. Muncul perdebatan: bisakah mantan presiden dimakzulkan.

Suara yang mendukung menyatakan setidaknya Trump bisa dijatuhi hukuman tidak bisa mencalonkan lagi menjadi presiden di masa datang. Yang menolak bilang kalau tidak ada pasal dalam UUD Amerika yang dengan jelas menyatakan bisa seperti itu.

Wajar saja, mbah-mbah pendiri negara Amerika ini dulu pasti tidak menyangka akan ada anak-cucu bangsanya, bernama Donald John Trump, yang menjadi presiden 200 tahun kemudian dan berulah.

Di ujung omelannya, Mbah Franklin bilang, “Aku harap kamu bukan liberal, mendengar ocehan orang tua konservatif ini”. Saya sampaikan kalau saya mencoba menjadi manusia yang komplit. Manusia yang liberal, konservatif, radikal, dan semua sifat-sifat yang ada sekaligus.

Karena dalam diri setiap manusia ada kejujuran dan kecurangan, ada liberal dan radikal, ada fundamental dan moderat, ada khusyuk dan main-main, ada serius dan senda gurau, ada kemusliman dan kekufuran. Kalau kata orang Asia Timur: Yin dan Yang.

Saya kutip saja dari Wedang Uwuh-nya Mbah Nun: “Berpikir harus liberal, supaya kreatif dan menemukan kemudahan hidup. Sementara perilaku harus syar’i — dalam arti manusia hanya selamat kalau perilakunya sesuai dengan ketentuan hukum alam kehidupan yang diyariatkan oleh Tuhan. Arus listrik positif dan negatif harus dikelola supaya menjadi cahaya. 5 kali 5 harus 25, meludah jangan ke atas, irigasi dan sanitasi harus dikelola supaya tidak menyalahkan air yang hanya patuh kepada gravitasi dan ruang kosong. Hubungan suami-istri dalam berkeluarga jangan liberal, harus konservatif, bahkan ketat seketat tentara berbaris. Nanti dalam bekerja, bersosialisasi, ada ketepatan aturannya sendiri-sendiri. Ada “empan papan”.

Sebelum pamit, karena nanti ketika kembali ke apartemennya, dia sedang keluar, saya “pangku” dia dengan, “Sudahlah, keadaan akan membaik lagi. Demokrasi Amerika akan berjaya lagi. Tenang saja.”

Mbah Franklin pun tersenyum. Dia mendoakan, “Semoga seminggu ke depan menyenangkan buatmu. Jumpa lagi minggu depan.”

Semoga Senin depan, dia tidak sewot lagi dengan tema baru: Presiden Joe Biden.

Chicago, 18 Januari 2021

Lainnya