Konser Letto Ruang Seni dan Teknologi

Jamak orang menganggap konser hanya menyuguhkan peristiwa seni. Itu pun disederhanakan sebatas seni musik. Padahal, kemegahan sebuah pertunjukan musik terhadir komponen teknologi di baliknya. Begitu pula teknik permainan alat musik. Tak luput peran sains. Seni, sains, teknologi memang setali tiga uang. Persoalannya, manusia cenderung didominasi mana.

“Di era yang teknologinya tinggi, manusia itu menjadi master atau budak? Menumbuhkan humanity berarti meneguhkan bahwa manusia tetap menjadi masternya. Teknologi tetap pembantu manusia. Sebab sehebat-hebat teknologi tidak bisa membuat kita rindu. Sehebat-hebat teknologi tidak bisa ngomong bahwa cinta itu luar biasa,” kata Mas Sabarang menjelang mendendangkan lagu Ruang Rindu.

Konser Letto Sabtu (13/11) di Rumah Maiyah, Kadipiro, lalu bagian dari serangkaian Dies Natalis ke-61 ITS. Sejumlah tembang unggulan Letto dibawakan hingga menarik audiens ikut bernyanyi. Menambah kesyahduan momentum malam minggu. Tapi ini bukan peristiwa konser musik biasa. Tak sekadar mengisi kesepian di akhir pekan tapi juga ajang belajar bersama. Di pertengahan konser diselenggarakan sarasehan membincang posisi seni dalam sains-teknologi.

Tema Advancing Humanity digadang Prof. Ir. Muhammad Sigit Darmawan, M.Eng.Sc., Ph.D. agar menjembatani teknologi dan kemanusiaan. Dekan Fakultas Vokasi sekaligus Ketua Panitia Dies ITS itu mengharapkan supaya teknologi bukan hanya memudahkan kehidupan manusia, melainkan juga menyejahterakan secara kemanusiaan. Civitas akademika ITS yang sehari-hari berjibaku di laboratorium, kelas, rumus matematis, dan kegiatan mekanis lain mendorong pencarian lebih lanjut. Bagaimana sebaiknya menyisipkan seni dalam teknologi.

Kedudukan sains dan seni sesungguhnya tak berjarak sebagaimana otak-kiri serta otak-kanan. Klaim otak kiri (sains) dan otak kanan (seni) menurut Mas Sabrang telah dibatalkan sejak era 80-an. Alih-alih mendikotomikan keduanya, dia mengajak pembacaan lebih rinci dan kritis dengan perspektif narasi. “Saya lebih menyebut keduanya itu seperti narasi sains dan narasi seni. Sederhananya, dua hal ini dibedakan karena dua hal. Pertama, sains itu urusan benar dan salah, sebuah teori di dalamnya dapat disalahkan (falsifikasi). Kedua, seni urusannya rasa. Enak dan tidak enak,” jelasnya.

Walau berbeda sains dan seni punya fungsi masing-masing. Kerja eksperimentasi yang mekanis, berpusar pada benar serta salah, dan lain sebagainya, lanjut Mas Sabarang, justru dapat diimbangi dengan domain seni. Sebab seni di sini akan memberi ruang “rasa” kepada manusia untuk melakukan kerja saintifik. Beliau juga menyebut karya para maestro yang kerap membubuhkan “The Art of” pada judul bukunya. Antara lain The Art of War karangan Sūn Zĭ Bīngfǎ. Pemberian tersebut bukan tanpa alasan. Seni Perang, misalnya, kendati memakai seperangkat teknologi, strategi, sampai siasat khusus, merupakan bagian dari seni. Bagi Mas Sabrang, seni justru membersitkan keseimbangan.

“Dunia ini seimbang. Apa pun bentuknya dan coraknya. Misalnya maskulin dan feminin. Kalau kita tempatkan dalam ilmu pengetahuan, maskulin diwakilkan otak kiri sedangkan feminin otak kanan,” ujarnya seraya mengingatkan kalau gambaran demikian hanya perumpamaan. Keseimbangan antara seni dan teknologi dalam musik cenderung mengharmonikan serta berada di ranah alam bawah sadar.

Dok. Satrio/Letto

“Maksudnya begini,” Mas Sabrang menjelaskan, “seni adalah bagaimana manusia mendapatkan impuls dari luar. Ya bisa musik, visual, rasa, dan lain-lain. Nah, kita kan tidak memproses satu demi satu kalau sedang menikmati musik. Anda mendengar lagu itu dengar bassnya, gitarnya, drumnya, atau apa? Kan enggak. Kita mendengar semuanya. Itu seni karena kita merasakan musik sebagai harmoni. Kalau sains beda. Kita konsentrasi satu persatu. Menghitung frekuensi setiap instrumen musik.”

Saat ditanya rekomendasi apa untuk civitas akademika ITS, Mas Sabrang mendorong teman-teman mahasiswa supaya diberi “autonomy dan mastery” ketika berkreativitas. “Dalam aktivitas eksperimen, contohnya, kita nggak menuntut agar berhasil. Tapi yang penting adalah didorong untuk mencoba dan jangan takut salah. Salah nggak papa karena kan ini awal dia meng-upgrade pengetahuannya,” terangnya.

Perjuangan perusahaan Google di awal karier merupakan contoh menarik. Perusahaan memberikan kebebasan seluasnya kepada para pekerja. Akhirnya, berkat otonomi itu mereka mampu melahirkan inovasi melampaui zaman. Gmail hanya salah satu terobosan di antara puluhan yang disodorkan perusahaan Google waktu itu. Buktinya kini aplikasi-aplikasi yang disediakan mengubah lanskap surat-menyurat masyarakat dunia.

“Saya sepakat bahwa kegagalan bukan sebuah hinaan. Di lab itu kan biasanya yang ditulis sebagai laporan ya yang berhasil-berhasil. Padahal yang gagal banyak. Anak muda memang harus kita dorong agar mencoba banyak hal,” tutur Prof. Sigit mengamini.

Lainnya