Kebon (150)

Kolam Jilbab dan Hijaber Minder

Foto dan Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Sejak sekitar seperempat abad yang lalu kostum Jilbab menjadi pemandangan dominan di mana-mana di seluruh Indonesia. Di jalanan, pasar, kelas-kelas sekolah dan manapun saja, pemakai Jilbab adalah mayoritas dominan.

Sampai akhir 1980-an, pemakai Jilbab di Indonesia bukan hanya minoritas. Bahkan hanya segelintir dua gelintir. Mungkin kurang dari 1% dari yang dipakai oleh kaum perempuan. Ketika awal era 1970-an saya di SMA Muhammadiyah I Yogya, yang mencolok adalah rok tinggi yang memperlihatkan paha para siswi minimal 10 cm dari lututnya. Bahkan Jilbab dilarang resmi oleh Pemerintah. Pegawai-pegawai wanita di toko-toko dan banyak tempat usaha lainnya, juga melarang jilbab, atau minimal menganaktirikan para pemakainya.

Jilbab itu memalukan secara budaya, merugikan secara ekonomi, dan mencurigakan secara politik. Ada fobia terhadap “Kaum Sarungan”, prasangka bahwa di balik jilbab ada bayang-bayang radikalisme, membuat badan-badan ekonomi mengkhawatirkan stabilitas pasarnya kalau ada faktor jilbab.

Di tengah peta nilai dan politik serta budaya anti-Jilbab itu menguasai perikehidupan nasional, saya bikin puisi yang berjudul “Lautan Jilbab”. Semula hanya beberapa halaman dan saya bacakan di forum Ramadlan in Campus yang diselenggarakan oleh Jamaah Shalahudin UGM. Kemudian berkembang menjadi buku “Lautan Jilbab”, yang sejak awal penulisan hingga selesai pencetakan (ditangani oleh Anang Anshorullah adik saya) membutuhkan waktu 5 (lima) hari.

Coba Anda riset dan temukan buku dengan proses sesingkat itu. Berikutnya puisi itu berkembang menjadi reportoar drama. Lakon teater “Lautan Jilbab” dipentaskan secara kolosal dengan jumlah pelakon yang sangat banyak. Dipergelarkan di Yogya, Surabaya, Madiun, dan Makassar. Rekor jumlah penonton teater dicapai di Stadion Madiun, jauh melebihi yang pernah dicapai oleh Rendra dan Bengkel Teaternya. Wajib dicatat itu semua karena kerja keras, jasa dan peran almarhum Agung Waskito, seorang eksperimentator (mujtahid) teater yang sangat pemberani. Juga almarhum yang tercinta rocker Gito Rollies dan Whany Dharmawan, aktor beragama Katholik yang jiwanya murni dalam berpikir kebenaran.

Yang terutama tidak rasional, bahkan mungkin “bodoh dan sombong” adalah pilihan judul “Lautan Jilbab”. Dengan hanya di bawah 1% jumlah Muslimah berjilbab di seluruh Indonesia, seharusnya saya bikin judul paling jauh “Kolam Jilbab”, atau “Bak Jilbab”. Bukan “Danau Jilbab”. Meskipun juga tidak usah menghina diri “Bècèkan Jilbab” apalagi “Pecerèn Jilbab”.

Tetapi kalian semua lihat sekarang Jibab mensamudera di mana-mana. Ke kota dan daerah manapun Anda pergi di seantero negeri ini, kau berjumpa dengan “Lautan Jilbab”. Jilbab sudah lama hingga sekarang menjadi “viral” sebagai budaya Kaum Muslimah hingga ke desa-desa dan pelosok-pelosok gunung.

Apakah saya sukses mensosialisasi Jilbab? Apakah pembacaan puisi dan pergelaran teater “Lautan Jilbab” berhasil membuat Jilbab dari minoritas menjadi mayoritas? Mengembangkannya dari danau menjadi lautan? Sehingga gelombang Maiyah sekarang bisa juga kita rekayasa dengan strategi yang sama untuk menjadi dominan seperti Jilbab?

Tidak. Sama sekali tidak. Kembalilah ke sawah dan padi. Manusia yang menanamnya, manusia yang memanènnya, tetapi Allah yang menumbuhkan seluruh unsurnya hingga sempurna sampai buahnya. Dan perhatikanlah aku menyebut Jilbab karena Allah pun mengistilahkannya demikian.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ ذَٰلِكَ أَدۡنَىٰٓ أَن يُعۡرَفۡنَ ف
لَا يُؤۡذَيۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Aku tidak berkecil hati, minder atau rendah diri dengan mengubah sebutannya menjadi Hijab. Apalagi saking rendah dirinya lantas dimunculkan istilah Hijaber. Bahasa Arab hijab kurang bergengsi, jadi diInggriskan menjadi Hijaber. Andaikan Allah menyebut Jilbab itu Hijab, maka pemakai Hijab itu Hajibah. Bukan Hijaber. Kita bukan manusia dan bangsa yang tidak percaya diri. Kita adalah bangsa Maiyah yang berdaulat dan otentik.

Cobalah buka Al-Qur`an dan perhatikan pemakaian kata “hijab” di sejumlah ayat-ayatnya.

فَٱتَّخَذَتۡ مِن دُونِهِمۡ حِجَابٗا فَأَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرٗا سَوِيّٗا

Maka ia mengadakan tabir yang melindunginya dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.

وَإِذَا سَأَلۡتُمُوهُنَّ مَتَٰعٗا فَسۡ‍َٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٖۚ ذَٰلِكُمۡ أَطۡهَرُ لِقُلُوبِكُمۡ وَقُلُوبِهِنَّۚ

“Apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepada isteri-isteri Nabi, maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti hati Rasulullah dan tidak pula mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar dosanya di sisi Allah”.

Apakah “hijab” di situ adalah bermakna seperti yang Islam-Islam Jakarta sekarang memakainya? Ataukah ayat-ayat itu memaksudkannya sebagai Jilbab? Hijab itu tabir. Tabir itu macam-macam tergantung ruang dan waktu penggunaannya. Hijab bisa celana dalam, bisa kelambu, bisa sprei, dan banyak kemungkinan lagi, Tapi yang dipakai menutupi kepala wanita adalah Jilbab, yang pluralnya Jalabib sebagaimana disebut di Al-Qur`an.

Anak-anakku Maiyah sekarang tidak bisa mengatakan misalnya “Masa depan Maiyah terletak di balik jibab zaman. Misteri jilbab masa depan berada di genggaman qadla dan qadarnya Allah Swt. Apakah benih-benih Maiyah yang ditandur oleh bangsa Maiyah akan tiba pada masa panèn rayanya kelak? Bagaimana bentuk kesejarahan panèn Maiyah? Pasti tidak seperti marajalelanya kapitalisme liberal. Juga tidak seperti berkuasanya ‘agama’ Demokrasi di seluruh dunia. Apalagi seperti kemenangan PDIP di blantika perpolitikan nasional Indonesia”.

Tidak tepat kata jilbab digunakan untuk konteks itu, karena memang khusus untuk kerudung-plus bagi kaum Muslimah. Kalau hijab, BH wanita juga hijab.

Anak-anakku Maiyah sudah lama belajar berpikir dan berlaku multi-tasking. Tulisan ini bukan khushushan tentang Jilbab dan Hijab. Melainkan amtsal untuk memasuki semesta optimisme dan husnudhdhan tentang masa depan Maiyah. Kenapa kalian memikirkan sesuatu yang hanya Allah yang sanggup memikirkannya. Untuk apa anak-anakku Maiyah sibuk berobsesi hal-hal masa depan yang hanya Allah yang berhak dan berkuasa menentukan dan mewujudkannya.

Sesudah gejik, apakah engkau berkuasa untuk menumbuhkan batang jagung? Sesudah tandur, apakah engkau mampu menumbuhkan padi? Sesudah falya’mal ‘amalan shalihah, kewajibanmu dan semua manusia adalah mentaqwai dan mentawakkalinya dengan sabar dan shalat sunnah muthlaq dan shalat da`im, di tengah kebahagiaan dan sumringah Maiyah.

Tidak berarti anak-anakku Maiyah berbuat hari ini dengan membutakan diri terhadap hari esok. Tetapi harus berorientasi ke depan. Satu dekade, satu era, satu kurun. Dengan segala kelengkapan muhasabahnya. Setiap perbuatan ada futurologinya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ
إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Juga bahan bakar utama setiap hentakan dan laku-tandang, adalah impian masa depan. Tetapi bukan engkau Kepala Proyeknya. Bukan engkau koordinator Insinyur dan pekerja-pekerjanya. Keindahan mimpi kita shirathal mustaqimkan menuju:

يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ

Pada hari dinampakkan segala rahasia.

Sebagaimana tandur “Lautan Jilbab” yang pada akhirnya Allah membukakan dan menampakkan rahasianya.

Lainnya