Kebon (224 dari 241)

Kita Tidak Bisa Saling Menolong

Foto: Adin (Dok. Progress)

Apapun jenis pengalamanmu selama menjalani hidup, pasti engkau sangat banyak belajar tentang kemuliaan tapi juga kehinaan. Kesetiaan tapi juga pengkhianatan. Kejujuran tapi juga kebohongan. Kesungguhan tapi juga kesembronoan. Ketekunan tapi juga kelalaian.

Tetapi kalau ada yang mencelakakan hidupmu, engkau tidak mungkin menjawabnya dengan mencelakakan orang yang mencelakakanmu. Tetapi engkau juga tidak bisa minta tolong kepada siapapun kalau engkau akan mendapatkan celaka sebagai hasil dari engkau mencelakakan. Kalau engkau difitnah, tak bisa kau balas dengan memfitnah. Tetapi engkau tidak akan bisa menolong dirimu sendiri atau minta tolong kepada siapapun tatkala engkau sendiri didera atau ditindih oleh fitnah. Kalau engkau dicerca, dihina, dinista, engkau tidak meresponsnya dengan ganti menghina, menista, dan mencerca. Tetapi engkau sendiri dan siapapun tidak akan bisa menjadi penolong atau pelindungmu dari cercaan, hinaan dan penistaan yang menimpamu sebagai akibat dari cercaan, hinaan dan penistaan yang engkau sendiri lakukan.

Di Perang Badar, kaum Muslimin berposisi sangat lemah, jumlahnya jauh lebih sedikit dan tidak memiliki kelengkapan pertempuran sebagaimana seharusnya. Tetapi Allah menolong Kaum Muslimin dengan mendatangkan 3000 Malaikat, bahkan kemudian ditambah menjadi 5000 Malaikat. Kita ingat bersama, bahwa engkau tidak mungkin mampu mendatangkan 3000 atau 5000, bahkan satu sajapun Malaikat. Sebagaimana aku juga tidak berkemampuan untuk menghadirkan dan melibatkan satu saja Malaikat. Yang bisa kita lakukan optimal hanyalah menjalani hidup dengan “sabar dan siap siaga”.

بَلَىٰٓۚ إِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ وَيَأۡتُوكُم مِّن فَوۡرِهِمۡ هَٰذَا يُمۡدِدۡكُمۡ رَبُّكُم
بِخَمۡسَةِ ءَالَٰفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ

Sesungguhnyalah, jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.

Apakah engkau niteni atau mempelajari apa atau bagaimana tanda Malaikat yang hadir menolongmu? Sebagaimana apakah aku niteni atau mempelajari apa atau bagaimana tanda Malaikat yang hadir menolongku? Satu-satunya yang bisa kita perbuat dan lakukan di antara kita hanyalah tidak mencelakakan, tidak mengadu domba, tidak menista, tidak menghina, tidak mencerca. Sebab kita sama-sama tidak akan mungkin sanggup menghindari akibatnya.

أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ
وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ

Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.

Bagi semua manusia, apalagi bagi ummat Islam dan setiap individu Muslim, sorga adalah satu-satunya pilihan. Setangguh dan sehabat apapun manusia, ia tidak mungkin memilih neraka sebagai terminal terakhirnya.

Padahal, jangankan berbuat jahat, sedangkan amal saleh sepanjang hidup pun tidak membuat manusia masuk sorga. Rasulullah menegaskan bahwa kita semua bisa masuk sorga semata-mata karena rahmat Allah. Maka tidak ada yang menghindarkan kita dari neraka kecuali ampunan Allah.

Aku tidak bisa menolongmu dan engkau tidak bisa menolongku, selain hanya memperteguh amal saleh dan akhlaqul karimah di antara kita. Kalau engkau melakukan dosa, aku tidak punya posisi dan kemampuan untuk menolongmu dari hukuman Allah. Rasulullah pun tidak bisa, meskipun ada klausul syafaat yang diakomodasi oleh Allah. Tetapi kalau engkau melakukan kedhaliman, kebohongan, pencurian atau penganiayaan sosial, aku tidak punya peluang untuk membebaskanmu dari balasan Allah kepadamu. Meskipun yang kau aniaya adalah aku sendiri, aku tidak punya hak dan kemampuan untuk memerdekakanmu dari hukum Allah.

Setingggi apapun derajat hidupku, sekeras apapun usahaku untuk memohonkan ampunan Allah kepadamu, tetap yang mutlak berlaku adalah ketentuan-Nya. Engkau harus berikhtiar sendiri memohon ampun kepada Allah, sebagaimana aku juga berikhtiar mendapatkan ampunan dari Allah. Posisi Allah absolut. Posisimu dan aku tidak berdaya.

Maka syukur beribu syukur Allah membukakan pintu dan menawarkan kepada kita “Wa sari’ u ila maghfiratin min Rabbikum wa jannah”. Bersegeralah, berduyun-duyunlah datang bersujud memohon agar mendapatan ampunan dari Tuhanmu.

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ
عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

Betapa indah dan penuh kemurahan ajakan dan panggilan-Nya. Yang membukakan pintu itu Allah sendiri, Dzat Yang Berkuasa atas segala-galanya. Bukan aku. Bukan Simbah atau siapapun. Allah Yang Maha Absolut dalam menciptakan segala kepastian sunnah dan hukum-Nya, yang menawari ampunan dan memanggil kita agar bersegera menyongsongnya. Bukan aku.

Bumikanlah ajakan Allah ini ke peta kehidupan dan posisi pahala-dosamu berdasarkan apa saja yang sudah kau lakukan di bumi. Di keluarga kita. Di masyarakat kita, di negara kita. Di media-media komunikasi antar manusia. Kita memproyeksikannya, menerjemahkannya, mengaplikasinya pada urusan yang tepat untuk konteks ajakan itu. Apakah itu urusan kehidupan sehari-hari, Sinau Bareng Maiyah, bermasyarakat, kehidupan politik dan budaya dalam negara, atau lingkup dan konteks apapun.

Aku minta maaf kepada semua makhluk Allah di jagat raya, kepada bumi dan semua penghuninya, kepada ummat manusia, kepada bangsa dan masyarakat Indonesia, kepada Kaum Muslimin dan anak-anak cucu-cucuku Maiyah sekalian. Belum tentu yang kuinfaqkan selama ini adalah kebenaran, kebaikan, keindahan dan kemashlahatan. Mungkin ada kadarnya sedikit, tetapi belum tentu itu yang kalian butuhkan. Aku minta maaf atas segala ketidakmatangan, ketidakseimbangan, ketidaktepatan dan ketidakbijaksanaan yang terkandung di dalam apapun saja yang pernah tersebar dari diriku. Aku minta maaf kepada semua manusia dan Jamaah Maiyah, karena hanya dengan permaafan dari kalian maka ada peluang Allah akan mengampuniku.

Bersamaan dengan itu aku juga tidak berhak menutupi atau menjadi tembok penghalang bagi sorga kalian. Aku tidak punya hak untuk menjadi sebab-musabab dari adzab Allah atau keadaan buruk yang menimpa kalian.

فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ بِهِۦ وَمِنۡهُم مَّن صَدَّ عَنۡهُۚ وَكَفَىٰ بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا

Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya.

Karena Allah memberi nikmat atau adzab atas kuasa mutlak-Nya sendiri, atas pertimbangan sebab akibat-Nya sendiri.Maka momentum Idul Fithri ini wajib aku jadikan momentum untuk memastikan bagi siapa saja dan semua manusia bahwa semua kalian telah bebas hutang kesalahan dan kedhaliman kepada aku maupun dosa kepada Allah.

Itulah sebabnya aku banyak mengambil firman-firman Allah untuk meneguhkan keniscayaan halal bihalal di antara kita bagi siapa saja yang menjalankan muatan ayat-ayat Allah.

Tentu saja ajakan Allah itu tidak mungkin berlaku bagi siapa saja yang menolaknya. Ampunan Allah tidak bisa dilimpahkan kepada manusia yang tidak memohon ampun, apalagi yang merasa tidak bersalah, bahkan yakin tidak berdosa. Demikian juga maaf memaafkan di antara manusia tidak bisa dilaksanakan tanpa didahului oleh pihak yang bersalah mengakuinya dan meminta maaf atas kesalahannya.

Lainnya