Kebon (156)

KiaiKanjeng dan Saya Adalah Barang Riba

Foto dan Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Riba adalah kosakata dari wacana ilmu dan hukum Islam. Riba berarti suatu tindakan penambahan atas suatu kejujuran hitungan dalam pemahaman agama terhadap lalu lintas ekonomi. Penambahan itu langsung berarti atau berakibat pengurangan pada pihak yang lain. Sehingga produknya adalah kerugian suatu pihak dan keuntungan pada pihak yang lain.

Riba dikenal sebagai klausul interaktif dalam perdagangan, transaksi, dan keuangan. Tetapi prinsip riba juga sangat bisa terjadi di luar keuangan, bahkan dalam hal apapun saja. Setiap interaksi dan komunikasi antar manusia sangat potensial mengandung riba. Persepsi, pandangan, penilaian dalam hal apapun saja berpeluang riba. Ada sesuatu dalam pergaulan manusia yang dikurangi atau ditambahkan, dikecil-kecilkan atau dibesar-besarkan. Bahkan kecantikan seorang wanita bisa kita ribai karena dorongan tertentu. Calon pemimpin atau Presiden bisa kita perlakukan sebagai “riba akbar” karena ketidakjujuran informasi tentang tokoh itu atas dasar kepentingan atau ambisi.

Riba itu az-ziyadah. Tambahan atau penambahan. Riba bisa berposisi curang, tidak jujur, dan merugikan. Riba bisa normal-normal saja karena kelemahan persepsi hampir semua manusia di dalam melihat dan memandang sesuatu hal. Riba juga bisa berasal dari sangka baik atau juga sangka buruk yang produknya tidak objektif. Dan kalau ini berlangsung dalam tata komunikasi suatu urusan yang berskala besar, misalnya Demokrasi dan Pilpres, maka riba sangat bisa menyebabkan permusuhan dan kehancuran.

Tamu dari Perpustakaan Badan Pemeriksa Keuangan yang menyelenggarakan diskusi streaming online di Kadipiro, bercerita mengalami kesulitan meletakkan buku saya di kategori apa. Agama bisa juga, tapi ada unsur lain. Buku Ilmu Sosial bisa juga tapi tidak semata-mata itu. Bahkan sastra bisa juga tetapi buku saya tidak sebagaimana buku-buku sastra pada umumnya. Esai memang bagian resmi dari karya sastra.

Keluhan itu sama dengan kesulitan Progress dan KiaiKanjeng meladeni rubrikasi atau terminologi di dunia musik online. Terutama kategorisasi genre musiknya. Musik KiaiKanjeng bisa digolongkan musik pop, tapi ada kandungan riba dalam penyebutan itu. Musik shalawat, juga tidak terlalu presisi. Musik Melayu atau Dangdut, bisa-bisa saja. Tetapi dalam kandungan musik KiaiKanjeng ada dimensi rock, blues, jazz, bahkan nuansa tradisional Jawa atau klasik Arab. Andaikan saya mengusulkan musik KiaiKanjeng bukan musik kesenian, melainkan musik kebudayaan, dunia pada umumnya juga tidak paham. Ekspresi bunyi alat-alat yang diaransir oleh KiaiKanjeng adalah ekspressi batin manusia yang beralamat di peta kebudayaan Global. Di dalam kebudayaan itu ada nuansa rohani, ada narasi agama, ada subatansi ilmu, ada macam-macam.

Maka kalau melihat peristiwa-peristiwa interaksi sosial yang terjadi selama ini, yang paling mudah adalah merumuskan bahwa saya dan KiaiKanjeng adalah barang riba. Di telinga, mata, akal, hati, pandangan orang pada umumnya saya dan KiaiKanjeng mengalami berbagai penambahan dan pengurangan sekaligus.

Demikian juga Maiyah adalah barang riba, dalam arti sesuatu yang dipahami dengan tidak menghindarkan penambahan dan pengurangan. Maiyah itu kumpulan tarekat ya bukan, kelompok studi ya bukan, ormas atau apalagi orsospol ya sama sekali bukan. Maiyah secara faktual punya fungsi konseling psikologi, punya dimensi dakwah keagamaan, punya energi penyebaran estetika dan keindahan hidup. Maiyah mengandung banyak sekali hal, sedemikian rupa sehingga tidak bisa dikategorikan. Ibarat buku, susah meletakkannya di rak sebelah mana.

Dan kalau Anda punya kejelian dan ketelitian akal dan rasa, sesungguhnya semua kalimat, bahkan setiap kata dalam kebudayaan dan komunikasi antar manusia dalam masyarakat, hampir seluruhnya belepotan riba. Kuantitatif saja pun sukar dikategorikan, apalagi kualitatif.

Yang paling mudah adalah melempar KiaiKanjeng, saya dan Maiyah ke ranah orang gila. Minimal komunitas kecil yang sama sekali tidak seperti komunitas-komunitas yang ada di sekitarnya bahkan di seluruh dunia.

ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي
يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُوٓاْ
إِنَّمَا ٱلۡبَيۡعُ مِثۡلُ ٱلرِّبَوٰاْۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ
فَمَن جَآءَهُۥ مَوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ
مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۖ
وَمَنۡ عَادَ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ

Orang-orang yang makan mengambil riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata atau berpendapat, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti dari mengambil riba, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan; dan urusannya terserah kepada Allah. Orang yang kembali mengambil riba, maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.

Tetapi substansi posisi riba saya, KiaiKanjeng dan Maiyah, insyaallah bukanlah sebagaimana yang diuraikan oleh firman ini, kecuali kita berpikir datar, linier dan tidak memakai assosiasi kontekstual. Namun demikian saya, sekali lagi, tidak keberatan kalau digolongkan sebagai orang gila.

Justru mungkin jauh lebih mudah berinteraksi atau berdialog dengan “orang gila” daripada bertukar kata apalagi berurusan dengan Para Ahmaq Nusantara. Salah satu yang membuat teman-teman KiaiKanjeng bergembira bahkan berbahagia adalah kalau pentas mereka atau forum Maiyahan dihadiri oleh orang yang khalayak menyebutnya sebagai “orang gila”.

Orang-orang Maiyah dan terutama KiaiKanjeng kalau dengan kaum intelektual atau para ustadz kiai habaib dan ulama berposisi “plural”, berbeda satu sama lain tapi berada di ruang yang sama. Tetapi kalau dengan “orang-orang” gila ini berposisi “singular”: makhluk yang sama di ruang yang satu juga. Pelan-pelan pengalaman-pengalaman “sesama orang gila” ini akan coba saya tuliskan seingat-ingat saya. Tetapi bertahap dan dengan irama atau tempo rendah. Mohon bersabar.

Atau daripada bersentuhan budaya dengan Kaum Ahmaq, aslinya lebih gampang sekalian saja sama Iblis, Setan atau Jin. Tidak ada Iblis atau Setan yang hipokrit, munafik, lamis, ati delé cangkem témpé, sebagaimana manusia Kurawa yang merasa Pandawa, berlaku kufur yakin Muslim, berperilaku dholim dan kejam tapi berwajah lembut dan santun. Iblis salah dan tahu salahnya. Manusia salah tapi percaya dengan mantap bahwa ia benar. Manusia ketelingsut kesadarannya di antara haq dan bathil, antara su` dan khoir, antara mashlahah dengan madlarah, antara mulia dengan hina. Dan memang kalau tidak begitu bukan Ahmaq Namanya.

Tukang becak Madura melanggar lampu merah menerobos perempatan jalan, polisi marah-marah: “Dasar tukang becak goblog! Sudah tahu lampu merah terus laju saja”. Tukang becak Madura menjawab tanpa menoleh: “Kalau `dak goblog `dak becak saya Pak”. Jadi tukang becak goblog masih mending dibanding Ahmaq yang jumlahnya makin membengkak di Indonesia dan sebaran kedungunnya semakin merajalela di seluruh jagat maya.

Makhluk-makhluk Jin bersubstansi dan bersifat sama dengan manusia. Jin dan manusia adalah makhluk kemungkinan, sementara Malaikat Iblis Setan dan alam adalah makhluk kepastian. Sebagaimana manusia, Jin bisa baik bisa buruk, bisa oke bisa memble. Tetapi sememble-memblenya Jin, seahmaq-ahmaqnya Jin, masih mending dibanding manusia.

Bersama KiaiKanjeng saya diserimpung oleh pengalaman-pengalaman “khoriqul ‘adah”, tidak lazim, tidak umum, tidak biasa. Seorang Habib mengatakan: “Antum bisa masuk alam mana saja, yang rasional, mistik dan alam jaaazibiyah, Cak”. Sebenarnya tidak begitu-begitu amat juga. Saya dan KiaiKanjeng hanya mengidentifikasi kewajiban, keharusan, dan keniscayaan ketika harus merespons berbagai keadaan. Dan seluruh pengalaman itu membuat saya menyimpulkan bahwa lebih jelas juntrungan berurusan dengan Jin daripada dengan manusia.

اعلم أن الجذب والسلوك مثلهما كالأشجار، شجرة الجذب لها عروق وفروع،
وكذلك شجرة السلوك لها عروق وفروع وكلّ عرق وفرع منهما له أثمار.
عروق الجذب هي العلوم اللدنية الغيبية،
وأثمار فروع الجذب هي أن يكون صاحبها بأمر الله تعالى
يقول للشيء كن فيكون والكلّ مواهب وكذلك عروق شجر السلوك تثمر بالعلم الظاهر،
وفروعه تثمر بالعمل الظاهري، وإن تفاوت أهل السلوك مع أهل الجذب
إلّا أنَّ أهل السلوك عبادتهم من وراء حجاب،
وأهل الجذب ما بينهم وبين الله حجاب منه إليهم، ومنهم إليه

Ketahuilah bahwa jadzab dan suluk itu seperti pepohonan. Pohon jadzab memiliki akar dan tangkai, begitu pula pohon suluk juga memiliki akar dan tangkai. Setiap akar dan tangkai dari kedua pohon tersebut memiliki buah. Akar dari pohon jadzab adalah ilmu laduni yang bersifat ghaib, dan buah dari tangkai pohon jadzab adalah saat orang yang jadzab mendapat perintah Allah agar mengatakan pada sesuatu kun fa yakun, segalanya murni pemberian dari Allah. Sedangkan akar dari pohon suluk dapat membuat pohon berbuah dengan Ilmu yang dzahir (tampak) dan tangkainya berbuah dengan amal yang bersifat dzahir, meski orang yang mengamalkan laku suluk dan orang jadzab berbeda, orang yang mengamalkan laku suluk beribadah di belakang tirai penghalang dari Allah, sedangkan orang jadzab tidak ada di antara mereka dan Allah penghalang apa pun. (Pesan) dari Allah langsung pada mereka, dan ibadah dari mereka langsung tertuju pada Allah”.

Tetapi saya wajib mengaku apa adanya. Saya tidak akan meribakan diri saya sendiri, juga KiaiKanjeng dan Maiyah. Saya lastu jadzaban wala sulukan. Saya tidak “kasyaf”. Tidak bisa melihat alam Jin dengan mata kepala jasad saya. Jiwa saya bukan jiwa penembus batas. Diri saya hanyalah diri terpenjara.

بَيۡنَهُمَا بَرۡزَخٞ لَّا يَبۡغِيَانِ

Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.

Andalan saya hanya pengetahuan awam dan ilmu manusia biasa. Ada rumus-rumus silaturahmi yang jelas dari Allah bagaimana menjalani silaturahmi kehidupan. Rumusan tentang silaturahmi kesemestaan itu membuat kami tidak bisa mengelak diminta mengusir hantu di Italia, Inggris dan Australia, serta di Indonesia sendiri dalam berbagai peristiwa di daerah-daerah. Jangan dipikir saya dan kami KiaiKanjeng punya kemampuan “ruqyah” yang mumpuni dan mrantasi. Kami hanya tahu kalau bonang bunyinya begini, kalau saron begitu, kalau gong atau seruling atau biola lain lagi bunyinya. Kami sekadar berupaya memahami dan meneliti harus berekspresi dan berlaku bagaimana tatkala Tuhan mencampakkan kami ke dalam suatu persoalan yang kami difetakompli untuk mengatasi.

Yang penting kami bertahan beriman dan mencintai Allah beserta semua ciptaan, perintah, dan kehendak-Nya. Jangankan kepada sesama manusia atau tetumbuhan dan hewan, sedangkan kepada masyarakat makhluk Jin pun kami semua dan saya selalu menjaga rasa sayang sebagai sesama ciptaan Allah. Dalam berbagai peristiwa penanganan orang “kerasukan” atau jenis-jenis kejadian lain yang terkait dengan sahabat-sahabat kita yang “ghaib” dan tidak kasat mata, saya dan teman-teman yang ikut menangani: tidak pernah membenci Jin, roh apapun lainnya, membentak-bentak mereka, mengusir atau menangkap mereka kemudian memenjarakannya di dalam botol atau saku celana.

Ketika Islamiyanto mengemukakan kepada saya di Patangpuluhan pada suatu malam bahwa ia tidak sanggup lagi menangani wanita yang kesurupan, teriak-teriak dan kejang-kejang sejak beberapa jam yang lalu, saya mendatanginya kemudian mengelusnya dan menawarinya dengan tutur kata yang sopan dan lembut agar ia ikut saya saja. Kalau ia bersemayam terus di dalam jiwa wanita muda ini, kasihan, dia masih belum punya pekerjaan tetap dan belum cukup dewasa dan kuat untuk berkeluarga dan memperjuangkan masa depannya. Alhamdulillah akhirnya yang bersangkutan mau menerima, lantas ikut saya dan meninggalkan wanita itu dalam ketenangan.

Atau terkadang untuk menangani hal semacam itu cukup yang datang Mas Kirno, Joko Kamto atau Nevi atau siapapun yang sedang luang. Dalam suatu kejadian di Gamping, begitu Kirno datang, orang yang kerasukan langsung berteriak mengeluh: “Waaah, anak buahnya Mbah Nun lagi! Baiklah saya pergi. Tapi bilang ke Mbah Nun bahwa saya juga sering datang mengikuti Maiyahan Padhangmbulan di Menturo Jombang”.

Lainnya