Kesadaran Rentang, Pagar Pembatas, dan Empat Jenis Manusia

Image by Bermix Studio on Unsplash

Orang yang sering melanggar batas-batas aturan yang berfungsi untuk memagari, pada akhirnya ia akan kehilangan sensing terhadap rentang, jarak, dan kesadaran ruang. Bukan hanya itu, ia juga akan kehilangan rasa menakar atau memperhitungkan karena sering keluar dari jalur yang sudah ditentukan. Pada kondisi yang paling buruk, ia akan gagal mengenali dirinya sendiri.

Saya ingat firman Allah dalam surat Al-Hasyr: 19 yang terjemahan bebasnya kurang lebih seperti ini: “Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik”. Dari ayat tersebut penyebab kita lupa kepada diri sendiri adalah karena kita lupa kepada Allah. Lupa bisa berarti tidak menjalankan apa yang diperintahkan, lebih sering melakukan apa yang dilarang. Jadi jika ingin menemukan diri kembali perbaikilah hubunganmu dengan Allah.

Bayangkan pikiran Anda dalam kondisi blank saat di mana konsentrasi justru benar-benar dibutuhkan. Betapa bahayanya? Misalnya: Anda sedang berada di tol tapi tidak bisa merasakan jarak antar kendaraan. Sementara mobil Anda melaju dengan kecepatan kencang, mobil Anda akan menabrak mobil yang ada di depan Anda, kemudian mobil di belakang Anda juga akan menabrak mobil Anda. Dan akan tercipta rentetan kecelakaan. Begitulah kira-kira simulasi dari ketidaktahuan tentang jarak atau rentang. Hal ini saja sudah sedemikian ngeri apalagi gagal mengenali diri yang kita tahu “badan”ini sering kita bawa kemana-mana, bergaul, bertemu dengan banyak orang. Betapa tidak terkira akibat yang ditimbulkannya.

Sebenarnya sebelum kecelakaan terjadi, ada sekian detik waktu yang bisa digunakan untuk mengantisipasi. Namun bagi orang yang pikirannya kacau, waktu sekian detik itu gagal ia gunakan untuk berpikir sehingga akhirnya mengalami kegagapan dan kegugupan. Padahal Itulah momentum yang sangat menentukan, persilangan ruang dan waktu yang tepat sehingga punya daya untuk membalik keadaan: dari posisi tertekan menjadi posisi menyerang, dari posisi lemah menjadi kuat.

Adakah momentum itu sebuah usaha dari manusia? Atau itu pemberian Tuhan? Tidak mungkin manusia punya daya untuk mengubah jika Tuhan tidak berkehendak mengubahnya. Artinya momentum itu datangnya dari Tuhan. Namun begitu, manusia tetap diwajibkan untuk menaiki tangga-tangga perbaikan agar momentum itu kompatibel dengannya.

Kita ketahui bersama, beban atau ujian memang semakin berat berbanding dengan perkembangan kemajuan dalam diri kita (kekayaan, status sosial, dan pencapaian-pencapaian lainnya). Semakin tinggi derajat seseorang ujiannya juga semakin berat. Baik ujian fisik maupun psikis. Bagaimana kita mengelola stress ini? Analogi yang pas untuk mendefinisikan kemampuan mengatur stress pikiran adalah dengan mengibaratkannya seperti per/pegas. Pegas jika diberi beban maka akan memberikan gaya dorong elastis sebanding dengan berat beban yang menimpanya. Namun jika beban itu sampai melampaui batas kerja dari si per, bisa dipastikan bukan gaya dorong yang didapat namun kerusakan per/pegas menjadi dol. Serupa itu juga beban stres yang harus ditampung pikiran. Jika kita tidak berhasil keluar dari kemelut psikologi itu bisa-bisa kita akan semakin terpuruk. Psikis dan fisik akan ambruk. Tapi saat kita bisa berhasil keluar dari masalah, mental kita akan semakin tangguh. Anjurannya sebelum beban stres itu semakin berat coba selesaikan satu persatu masalahnya. Agar tidak sampai terjadi overload.

Ingatlah lebih baik kau sibuk dan rutin mengerjakan PR itu daripada lalai dan akhirnya kewalahan menanganinya. Renungkanlah, akibat dari lost of controll bukan hanya diri Anda sendiri yang rugi tapi orang lain juga akan terkena dampaknya. Pada dasarnya kita hidup dalam sebuah sistem, ruang lingkup. Semua itu terletak dalam suatu batas yang jelas maupun yang tidak jelas. Batas jelas adalah sebuah aturan tertulis yang disepakati bersama sebagai rule of the game. Sedangkan aturan-aturan yang tidak jelas seperti tenggang rasa, rasa empati, dan kepedulian sosial. Atau bisa dibilang aturan yang jelas kita sebut batas fungsional sementara aturan yang tidak jelas (tidak tertulis) kita sebut batas kultural. Batas itu seperti pagar yang berfungsi untuk memagari perilaku manusia. Meregulasi tindak-tanduknya.

Maka jika menemui halangan atau rintangan di perjalanan hidup Anda jangan dulu dihancurkan. Jangan berpikir anarkhis untuk menabrak atau memotongnya. Pahami dulu kenapa ada hal tersebut? Siapa yang menaruhnya? Jangan-jangan penghalang itu dibuat adalah untuk membatasi “hewan buas” masuk ke desa Anda? Pagar itu dibuat justru sebagai manfaat bagi dirimu. Sebagai pelindung dari marabahaya. Pembatas itu sebagai pengaman jalur lintasan. Bahkan ada pagar/tembok yang dibuat untuk menghalangi kaum perusak (ya’juj ma’juj).

Seorang teman dengan petita-petiti menabrak sebuah pagar rumah orang lain, tanpa mau memperbaikinya. Pada akhirnya ia dihajar warga karena sikap yang tidak bertanggung jawab. Peristiwa ini bukan hanya dialami yang punya rumah, tapi dalam wilayah konteks yang lebih luas, banyak sekali kasus seperti ini, misalnya: pemimpin yang tidak memenuhi dan mewujudkan aspirasi rakyatnya. Seorang yang dipercaya tapi menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan. Tapi apakah rakyat berani bertindak seperti warga yang meghajar “penabrak pagar” tadi?

Usaha menabrak pagar ini pada satu sisi bisa juga dipahami sebagai usaha manusia melakukan pemberontakan terhadap kemapanan-kemapanan hidup. Sebuah usaha untuk mencari sesuatu yang baru. Usaha melawan kejumudan dan kebekuan yang memasaung jiwa. Sebab hidup yang terlalu statis tanpa adanya dinamika memang membosankan. Sesekali kita memang perlu mengambil sikap yang anti mainstream.

Tapi jangan salah juga, sebenarnya kita tidak usah bingung dalam memahami pagar ini. Ada pagar yang memang harus kita robohkan, ada juga yang harus berdiri. Pagar yang harus kita dobrak atau robohkan adalah sifat minder, malas, dan kebodohan dalam diri. Sedangkan pagar yang harus tetap kita jaga adalah ketangguhan mental dan semangat juang yang kokoh.

Oleh sebab itu ada orang yang dengan sengaja membuat pagar-pagar dalam hidupnya agar terhindar dari serangan “hewan buas”. Ambil contoh: puasa itu berfungsi seperti pagar untuk hawa nafsu. Agar hawa nafsu untuk sementara tidak masuk ke pekarangan. Atau agar untuk sementara waktu kita menggembokmya dalam penjara. Tak usah diberi kesempatan untuk berkembang dulu dengan tidak meladeninya. Jika kita sudah bisa mengendalikan hawa nafsu maka hidup kita akan jauh lebih bisa mengenal rentang, jarak, dan kesadaran ruang. Hidupmu bisa lebih moncer, tastes-tastes. Hidup Anda punya kepekaan rasa.

Sementara itu dari proses perbaikan yang dijalani manusia kita mengenal berbagai macam jenis manusia. Salah satunya, terminologi pengelompokan manusia berdasarkan sifat pohon:

  1. Manusia akar adalah manusia yang mempunyai etos melayani. Seperti filosofi akar yang tidak terlihat namun perannya begitu vital, begitu pula karakter manusia akar ini, ia tidak suka publikasi. Tidak suka tampil di depan umum. Dengan beban tanggung jawab yang besar namun tidak menagih orang untuk mengakui perannya. Bahkan ia memang lebih suka bekerja di belakang layar.
  2. Manusia pohon adalah manusia yang penyangga. Biasanya pas untuk karakter seorang pemimpin yang suka memotivasi dan mencontohkan keteladanan. Membangun kemampuan kalau merunut prinsip pendidikan Ki Hajar Dewantara, “Ing Madya Mangun Karsa”.
  3. Manusia daun adalah manusia pengayom, menjadi tempat berteduh bagi yang kepanasan. Karena sifatnya yang welcome, sering dijadikan tempat rujukan orang di kala susah. Menjadi keranjang sampah bagi permasalahan hidup orang lain. Artinya manusia tipe ini sering menjadi tempat mengadu masalah.
  4. Manusia buah adalah manusia yang suka melayani sesama. Suka memberikan manfaat kepada orang lain. Jika orang ini kaya pasti orangnya sangat dermawan. Jika orang ini pintar maka suka membagi ilmunya kepada orang lain. Orang lain dapat merasakan manisnya kehidupan dari keberadaan orang jenis ini.

Adakah kita bisa memproses diri agar pantas dianugerahi derajat keempat jenis manusia ini? Atau paling tidak satu jenis saja yang dengannya hidup ini menjadi bermakna?

Lainnya