Kebon (65)

Kerasukan Iblis di Gontor

Dok. Progress

Di Tinambung Polewali Mandar saya mengurusi remaja-remaja nakal. Di Dipowinatan saya bersilaturahmi kreatif dengan anak-anak muda yang nakal- nakal. Di Kedungombo Boyolali saya mengurusi pemerintah yang nakal. Di Tulangbawang saya menangani sebagian kelompok petambak udang yang nakal. Di lautan lumpur Sidoarjo saya mengurusi pengusaha, pemerintah, aktivis swadaya masyarakat sekaligus para penduduknya yang punya kenakalannya masing-masing.

Itu sekadar contoh kecil dan sebagian. Proses perubahan yang harus saya laksanakan bersama mereka, meskipun itu bersubstansi dakwah, tetapi tidak satu kali pun saya menggunakan cara yang lazim, yang linier dan tingkat awam yang mengandalkan orasi, ceramah atau pengajian.

Bersama KiaiKanjeng saya pentas di Gontor, yang dihadiri oleh Gubernur Jatim, Pangdam Brawijaya, pejabat-pejabat Kabupaten Ponorogo, Kiai-Kiai dan para Ulama, serta Bambang Tri Hatmojo, putra Presiden RI ketika itu, Jenderal TNI Soeharto.

Acara memperingati 70 tahun Pondok Gontor yang didirikan oleh Trimurti KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fanani dan KH Imam Zarkasyi itu berlangsung di BPPM (Balai Pertemuan Pondok Modern) Gontor, disiarkan “live” RCTI. Acara berlangsung lancar sampai detik di panggung saya didatangi oleh utusan dari Direktur RCTI yang membawa kertas kecil berisi peringatan harap saya berhati-hati bicara selama pementasan. Kemudian di akhir kalimatnya ada permintaan agar menghentikan pementasan. Permintaan yang sebenarnya adalah perintah atau ultimatum.

Pasti karena yang hadir di barisan kursi terdepan adalah para pejabat tinggi, para penguasa Indonesia, bahkan putra Presiden RI, Bambang Tri Hatmojo.

Surat peringatan dan ultimatum itu langsung menyentuh titik pusat psikologisme di hati saya. Itu membuat saya bereaksi langsung dan sangat keras. Saya mungkin dirasuki oleh roh Malaikat, tapi mungkin juga Iblis atau stafnya. Surat itu membuktikan bahwa saya tidak bisa dipercaya akan bisa menjaga mulut saya. Bahwa saya tidak dipercaya akan berhati-hati dengan muatan ucapan saya. Tidak dipercaya punya pertimbangan silaturahmi, penyeimbangan komunikasi, toleransi sosial dan kebijaksanaan politik.

Panitia Gontor dan RCTI, menaikkan saya dan KiaiKanjeng ke atas panggung dalam posisi mereka tidak mempercayai saya, sehingga di tengah pementasan mereka memaksa untuk berhenti dan turun panggung.

Dengan dorongan kekuatan Iblis (daripada saya GR dan bilang kekuatan Malaikat), saya menggebrak meja di depan saya di panggung itu, dan saya menyitir judul sebuah lagu Dangdut: “Aku yang mengawali, aku yang mengakhiri”.

Kemudian tangan kiri diangkat oleh Iblis dan jari telunjuk saya dibikin menuding lurus ke arah Bambang Tri Hatmojo, dari mulut saya keluar suara: “Hei Bambang Tri Hatmojo! Nanti pulang ke Jakarta dan tiba di rumah, kau hitung berapa jumlah harta benda dan uangmu, kamu pilah berapa yang halal dan berapa yang haram!”.

Nevi Budianto yang posisinya pas di belakang saya berbisik: “Caaak, caak, kuwi anak Ratu lho… kuwi anak ratu lho…

Seluruh gedung terdiam senyap seperti ruang hampa di antara galaksi-galaksi alam raya. Kemudian saya minta KiaiKanjeng membunyikan satu nomor musik, sampai selesai, kemudian saya mengucapkan salam akhir, dan beranjak pergi ke belakang panggung.

Entah apa yang terjadi setelah itu. Silakan mensimulasi sendiri. Tapi ketika benah-benah di belakang panggung bersama KiaiKanjeng, seorang Ustadz mendatangi saya. “Cak, Pak Kiai memohon dan mempersilakan Cak Nun berkenan makan siang bersama di rumah Pak Kiai”.

Ternyata Iblis masih menyertai saya. “Siapa saja penduduk alam semesta ini, kalau mau ketemu saya, datang ke sini! Bilang itu sama Pak Syukri dan semua!”.

Si Ustadz ngeloyor balik. Kami meneruskan benah-benah. Tidak lama kemudian terulang lagi adegan itu. Datang Ustadz yang lain lagi, dan si Iblis dalam diri saya belum reda amarahnya, sehingga demikian juga jawaban mulut saya. Ketika beberapa waktu kemudian datang Ustadz yang ketiga, si Iblis berdiplomasi: “Saya dan KiaiKanjeng akan segera ke rumah transit. Kemudian kami akan pulang ke Yogya. Rombongan kendaraan kami akan lewat di depan rumah Kiai Syukri. Mobil yang saya naiki berhenti, tapi mesin tetap menyala. Saya turun, masuk rumah Pak Syukri, saya temui beliau, bersalaman untuk pamit”.

Itu benar-benar terjadi. Saya turun, mobil tetap nyala, saya masuk ke rumah Pak Kiai, menemui beliau, bersalaman dan keluar rumah beliau tanpa melirik satu pun orang lainnya.

Konvoi kendaraan-kendaraan KiaiKanjeng kemudian melaju ke Ponorogo, mampir di warung pecel. Semua menghela napas panjang sambil tangan menutupi jidat.

Peristiwa dan pengalaman apa itu tadi?

Kalau rezim Orde Baru saat itu solid, maka ketika kami duduk-duduk makan pecel, normalnya pasti ada rombongan tentara dan polisi datang menggerebek dan menangkap saya diangkut dan ditahan. Kemudian diproses secara “hukum” politik. Mungkin tuduhannya “mempermalukan putra Presiden dan pejabat-pejabat tinggi” atau apalah. Pak Kiai Gontor juga pasti diinterogasi menjadi saksi.

Tidak mungkin sesudah saya bicara keras dan kasar di forum besar dan penting yang disiarkan “live” secara nasional seperti itu lantas saya aman-aman saja. Dan peristiwa Gontor itu bukan satu-satunya. Ada sejumlah peristiwa lainnya, adegan-adegan lainnya di berbagai tempat dan peristiwa.

Bagaimana bisa aman-aman saja? Sebagian orang berbisik: “Karena Emha orangnya Soeharto”. Logikanya, kalau Anda anak buah Presiden, Anda boleh memperlakukan kasar dan mempermalukan anak Presiden di depan umum.

Saya orangnya Soeharto, sehingga bagi Soeharto saya lebih penting dibanding anak kandungnya sendiri.

Itu semua adalah kisah dari tahun-tahun di mana Allah menganugerahkan kepada saya pantulan-pantulan fakta “ahmaq” yang luar biasa di dalam kehidupan Negara dan Bangsa saya.

Lainnya