Kebon (42)

Keragaman Itu Sendiri Ragam

Foto: Adin (Dok. Progress).

Saya memasuki lingkungan kaum muda Dipowinatan dan berproses hingga KiaiKanjeng dan Maiyah dengan latar belakang yang memang sudah terlatih hidup dalam keragaman. Sejak kecil di desa, Ayah saya menggelar berbagai kegiatan dengan pemeran-pemeran yang dengan sendirinya sangat beragam latar belakang dan kemampuannya. Ketika di Gontor saya sekolah SR (SD) pagi hingga siang kemudian sorenya di Madrasah Diniyahnya Pak Carik, hidup di tengah masyarakat desa Gontor, semuanya itu menghamparkan pembelajaran tentang keragaman.

Di Indonesia pemahaman tentang keberagaman atau pluralisme selalu berkutat pada perbedaan suku, etnik dan agama. Allah berfirman “syu’uban wa qabail” juga dipahami dalam sempitan itu. Padahal Islam saja thok sudah dikeping-kepingkan oleh kepentingan politik dan harta benda, serta oleh ke-ahmaq-an cara berpikir.

Di komunitas yang saya ceritakan ini saya menjumpai nikmat Allah berupa keragaman otentik makhluk-makhluk-Nya. Wataknya ragam, mentalitasnya ragam, temperamennya ragam, susunan urat sarafnya ragam dan melahirkan pola-pola berpikir dan perilaku yang juga sangat ragam. Bahkan menurut filosofi Jawa setiap manusia minimal punya empat personalitas dan identitas. Sedulur papat lima pancer. Ada Muhammad manusia, ada Muhammad Nabi, ada Muhammad pemimpin, ada Muhammad Bapak dan Kakek. Tetapi seluruh kediriannya itu wutuh, bulat dan seimbang karena keempat-empatnya “wa’tashimu bihablillah jami’an wala tafarraqu”, karena pancernya tetap Allah Swt. Semua diri yang empat itu mengkhilafahkan dirinya di belakang kemauan dan perintah Allah.

“Wala tafarraqu”, jangan terpecah-belah, selama ini dimaknai dalam konteks antar manusia atau antar kelompok dan golongan. Padahal per-manusia sendiri sangat berkecenderungan untuk pecah. Hati dan pikirannya tidak selalu bersatu. Keinginan dan kebutuhannya tidak mesti sama. Keputusan dan aspirasinya bisa sangat bertentangan.

Syukur sejak kecil saya terdidik untuk bergaul dengan manusia, bukan terutama dengan identitas administratifnya. Kalau saya masuk Dipowinatan kemudian memilah teman ini Muslim lainnya Nasrani dan Budha atau kebatinan, maka saya menutup banyak pintu untuk memasuki jagat manusia dan kemanusiaan ciptaan Tuhan. Bahkan guru Malioboro saya yang sangat saya cintai dan takdhimi, Umbu Landu Paranggi, sejak 1969 hingga 2020 sekarang ini belum pernah saya bertanya apa agamanya. Kalau tidak salah itu tugas Malaikat Munkar dan Nakir dari Allah sendiri. Tugas manusia adalah mengupayakan kenyamanan bersama sesama manusia dalam segala hal, saling menyayangi dan menghormati, berusaha bekerjasama untuk rahmatan lil’alamin, mamayu hayuning bawana, tidak merusak, tidak mengganggu, tidak merepotkan dan tidak menjadi masalah bagi manusia lain.

Kiai Tohar alias Mas Toto Rahardjo yang bersama saya sejak tahun 1980-an memperjuangkan hak rakyat Kedungombo, Kedungpring dan Mlangi Boyolali sampai bergerilya di tepian kedung dan tidur di sawah-sawah, sampai puluhan kasus penindasan lain atau perang saudara di Tulangbawang Lampung dll, belum pernah saya tanyai tentang apa agamanya. Sudah cukup bagi saya bahwa dia manusia yang hatinya mulia, akhlaqnya karimah, mencintai rakyat kecil, madhep mantep istiqamah konsisten dengan prinsip-prinsip nilai kehidupan yang dititahkan oleh Tuhan. Sampai tatkala Mbak Novia Kolopaking mengajak semua teman-teman KiaiKanjeng berumroh, dan mas Toto tidak tertera dalam daftar, beliau memprotes “Kok aku ora diajak…”. Akhirnya kami ke pusat energi jagat raya yang bernama Ka’bah, difasilitasi oleh Marja’ Maiyah Syekh Prof. Dr. Nursamad Kamba dan dijamu manja oleh Bu Fatin Hamamah Kamba dengan kebahagiaan tiada tara. Kiai Tohar bahkan mempersembahkan “bonus ibadah” kepada Allah dengan hitungan dua kali lipat ketika Thawaf dan Sa’i.

Mas Toto yang abangan bahkan memimpin proses umroh dan dipatuhi oleh santri Mojokerto M. Zainul Arifin almarhum serta santri Delanggu Islamiyanto, sehingga dua hamba Allah ini juga ikut kasih “bonus”. Kiai Tohar sangat khusyu, bahkan bertemu dengan almarhum Bapaknya, Lurah Lawen Banjarnegara di zaman dulu, sehingga kemudian ambil miqat lagi dan umroh sekali lagi. Lebih khusus lagi Kiai Tohar melakukan penelitian empiris dan pemetaan anasir-anasir nilai sejarah di kota Madinah, mendaur ulang pemahaman tentang “Ats-Tsaqafah Al-Madaniyah”, Piagam Madinah, tata kota Madinah, peta perairan Madinah, tata pasar Islami Madinah, sampai workshop seni budaya Madinah di zaman Nabi Muhammad Saw.

Sangat memalukan di depan Allah Swt bahwa Kaum Muslimin sedunia sampai hari ini selama 15 abad, termasuk kaum ulama dan para pemimpinnya, tidak tersentuh hati dan tidak gatal akal pikirannya oleh Peradaban Madinah. Indonesia hanya punya Aceh “Serambi Mekah” dan buta tuli bisu kalau disodorkan kepadanya gagasan dan hidayah “Serambi Madinah”. Maka taraf ilmu, budaya dan peradaban Ummat Islam sampai detik ini stagnan “Makkiyah”: mandek di iman dan aqidah dan ibadah mahdlah, tidak kunjung bergerak ke tata masyarakat, pertanian, perekonomian, “desa mawa cara Nagara mawa tata”, sistem-sistem kecil maupun besar, planning jangka pendek sampai masa depan yang panjang.

Kaum muslimin bikin Bank Islam, Bank Syariah, Bank Muamalat, bersamaan dengan tetap dilestarikannya Bank-bank bukan Islam yang bikin cabang Bank Islam itu. Seperti orang Kristen atau Hindu masuk Islam sambil masih tetap Hindu dan Kristen. Ummat Islam terutama para pemimpin dan kaum cendekiawannya bermain-main dengan Islam, memain-mainkan ajaran Rasulullah Saw, memunafiki kehidupan, menghipokrisi nilai-nilai, berpura-pura di hadapan Allah.

Lainnya