Kepada Emak dan Abah, Terima Kasih buat Segalanya

Emak adalah faktor kunci bagi keputusan keluarga, kebangkitan dari keterpurukan, bahu bersandar bagi anak-cucu yang dirundung kemelut masalah. Emak, juga Abah, adalah tempat bermula dan kembali.

Meja makan itu tak terlalu besar. Barangkali hanya cukup memuat hidangan sejenis. Piring, lauk, teko berisi air, gelas, dan ceting nasi. Tak ada buah pencuci mulut. Kendati seadanya, keluarga Emak dan Abah cukup hangat. Apa pun santapannya kebahagiaanlah yang paling penting. Sampai-sampai rawon masakan emak ludes. Emak melongo. Sekadar disisakan kuah tanpa daging.

“Enggak apa-apa, kuahnya aja udah enak. Nih emak juga suka kuahnya,” tutur Emak seraya menyiduk kuah rawon. Melihat itu Budi, cucu paling kecil, berinisiatif mengambil secuil daging rawon dan diletakan di piring Emak. Anggota keluarga lainnya pun mengikuti. “Kok emak dagingnya malah jadi banyak sendiri,” ucapnya.

Dengan polos Budi menimpali, “Kan emak yang capek masak. Terima kasih emak.”

Film Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah (TeTa) yang direncanakan tayang tahun kemarin tapi diundur karena pandemi Corona akhirnya diputar di bioskop 13 Mei 2021. Momentum penayangannya tepat di hari raya Idul Fitri 1442 Hijriah.

Bukan sebuah kebetulan mengapa film bertemakan keluarga ini dirilis pada hari ketika sanak saudara sedang berkumpul, melepas kangen, serta saling memberi dan menerima maaf.

Selain titimangsanya pas, film hasil adaptasi novel berjudul serupa karangan FX Rudy Gunawan tersebut seakan menyodorkan benang merah cerita: keluargalah tempat bermula sekaligus kembali, baik suka maupun duka.

Latar kisah memusat di rumah berdinding bambu tapi relatif luas karena memiliki halaman penuh tanaman. Lanskap ini bagi sebagian besar kelompok masyarakat menengah ke bawah—khususnya di perkampungan kota—justru terlihat mewah. Tapi ia harus ditengok konteksnya. Rumah Emak dan Abah itu berlokasi di Sukabumi, Jawa Barat.

Maka latar budaya Sunda penting dipertimbangkan. Abah dan Emak betapapun kesederhanaan yang diproyeksikan, tetaplah dikondisikan oleh kecenderungan kultural Jawa-Sunda. Ia sudah barang tentu mewakili kesederhanaan dalam pengertian partikular, yang niscaya bisa berlainan bila, umpamanya, didudukkan dengan kesederhanaan ala ngayogyakartan, banyumasan, apalagi lebih ke kawasan Jawa Timur.

Sementara itu, film ini juga hendak memperlihatkan bagaimana kesederhanaan keluarga justru muara dari keharmonisan. Tentu keharmonisan di sini membutuhkan prasyarat, yakni kuatnya peran patron Abah dan Emak sebagai kepala keluarga dan kepala rumah tangga.

Pembagian tersebut semakin kompleks tatkala hampir kedua peran ini dijalankan sekaligus oleh sang Emak. Mengapa? Emak menjadi tempat keluh-kesah anak dan cucunya. Ia pula yang menyuplai barang dagangan (gorengan) yang kelak dijual sang cucu, Budi dan Nurani, keliling terminal maupun dititipkan di kantin sekolah.

Kepada Emak pula, kedua putrinya, Rara dan Gigi mengadu masalah. Rara terbakar api cemburu dan menduga Pras (suaminya) berselingkuh dengan seorang dokter kandungan. Akan tetapi, dugaan itu keliru setelah Emak ikut mengklarifikasi bahwa ternyata Pras ke dokter kandungan untuk menyiapkan pengobatan bagi istrinya yang belum dianugerahi momongan.

Demikian pula ketegasan Emak terhadap Gigi yang usut punya usut menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri. Tak ada kata restu untuk relasi ilegal semacam itu. Selain sisi hukum bermasalah, Emak percaya pacaran dengan suami orang tak dibenarkan secara moral. Ketegasan itulah yang membuat Rara dan Gigi, sekalipun sudah berumur, tetap hormat sembari masih bertingkah laku kekanak-kanakkan di depan emaknya.

Bagaimana peran Emak bagi anak dan cucunya begitu dominan di tiap babak berikutnya. Abah sebetulnya merasa sedih lantaran kurang dapat melakukan sesuatu yang seharusnya dilakoni sebagai kepala rumah tangga. Kedua bola matanya terkena glaukoma, sehingga kegiatan sehari-harinya terhambat. Ia harus menggunakan tongkat meski hanya pergi menuju kakus.

Konflik batin seorang Adi Kurdi, pemeran tokoh Abah, dicurahkan secara dramatis, “Karena badan abah itu masih kuat, pikiran abah juga masih sehat. Cuma penglihatan abah ini aja yang tidak melihat.” Penokohan jebolan Bengkel Teater itu sungguh-sungguh berkarakter. Pasalnya, kebutaan yang dialaminya bukanlah rekayasa. Ia memang lama mengidap glaukoma, jauh sebelum memerankan film TeTa.

Itulah sebabnya, tiap adegan yang diperankan Abah terkesan faktual, khususnya terlihat bagaimana ia merespons ruang di sekitarnya. Sorot matanya yang terkesan tajam tak dapat dimungkiri seperti menggantung, meraba-raba titik ruang yang hendak dijamahnya.

Bagi Abah, kekurangan bukanlah hambatan untuk sekadar berpangku tangan. Terdapat dua kejadian yang menyedot atensi penonton. Pertama, kemarahan Abah manakala mengetahui salah satu anaknya, Iis, seorang janda sekaligus ibu kandung Budi dan Nurani, dilecehkan oleh seorang mandor di Pabrik Garmen.

Mendengar anaknya menangis tersedu sedan, keesokan harinya Abah dibonceng naik motor milik Kang Jana menemui sang mandor. Ia berteriak tak terima anaknya diperlakukan seperti itu. “Keluar kamu, beraninya sama perempuan,” teriaknya. Tak lama kemudian mandor berbadan tegap mirip anggota militer itu keluar dengan memasang muka congak.

Beradu mulut sebentar lalu kepalan tangan kanan Abah mendarat di wajah mandor. Tak terima ia pun membalas. Darah segar keluar dari kedua lubang hidung Abah. Ia jatuh tersungkur. Syukur Kang Jana berada di belakangnya. Kejadian itu membuat Emak tiba-tiba datang dan mengancam lapor polisi.

Melihat kejadian itu Emak terlihat naik pitam seraya mengultimatum: Anda masih bisa dimaafkan ketika memohon maaf kepada para pekerja yang Anda lecehkan. “Bila tidak saya akan ke polisi,” ancamnya. Para pekerja pun mengerubungi tempat itu. Sang mandor tertunduk, mengakui kebejatan selama ini. Ia pun menyalami satu per satu tapi tangan para pekerja enggan membalas genggaman erat. Raut muka mereka menandakan belum ikhlas.

Babak ini menurut saya paling menarik karena Emak memperlihatkan maskulintasnya. Kalau istilah “maskulinitas yang lembut” dapat diterima, maka Emak sesungguhnya menyiratkan sisi sebaliknya dari Abah. Tanpa perlawanan fisik Emak mengandalkan segi ketegasan, negosiasi, bahkan juga kelembutan demi menundukkan superioritas sang mandor.

Emak berpeluang memboyong kasus tersebut ke meja hijau tapi kesempatan itu tak diambilnya. Ia malah memilih jalan kooperatif. Bagi sebagian penonton yang geram atas perilaku mandor mungkin pilihan Emak kurang heroik, anti klimaks. Namun, Emak lapang hatinya, bijak mengambil keputusan.

Perhatian audiens kedua berikutnya sangat sentimentil. Adegan tatkala Abah hendak dikirim Madame Pierre ke panti jompo. Sebelumnya ia “melakukan kesalahan” lantaran keliru memberikan instruksi kepada Kang Jana seusai memerbaiki mobil istri mendiang orang Prancis itu. Padahal, itu hanyalah kesalahpahaman, namun Madame Pierre menyalahkan keteledoran Abah: sudah tua renta nan buta tapi kenapa dirinya diberikan izin bekerja di rumahnya.

Sebelum kejadian itu Emak memang tak memberikan stempel visa kepada Abah. Akan tetapi, Kang Jana dan istrinya membujuk Abah supaya bersedia membantu mereka menanam tanaman di halaman Madame Pierre. Kendati izin tak dikantongi, si Abah memaksa diri menyelinap pergi. Seperti perkataan Emak “niat baik abah bisa berakhir buruk bagi orang lain” ujungnya menjadi kenyataan. Abah kena getahnya.

Manakala dua orang berseragam putih, tampaknya petugas panti jompo, datang dan mengambil tas berisi pakaian Abah, anak serta cucunya menangis. Babak ini begitu rawan membuat penonton ikut teraduk-aduk hatinya. Pada situasi itu Emak yang sebelumnya cenderung merunduk akhirnya tegak dan menandaskan: saya tidak mengizinkan Abah dimasukkan panti jompo!

Madame Pierre menyalahkan keputusan itu. Malah mengatakan sesuatu yang amat bias kelas sosial. Lagi-lagi peran Emak sangat penting: meredam sekaligus menentukan kemenangan konflik terhadap tokoh antagonis lainnya. Di situlah letak signifikansi Emak sebagai protagonis, di samping Abah berikut anak serta cucunya.

Tanpa Emak barangkali keluarga ini pasrah-sumarah, menerima keadaan apa adanya, laiknya kecenderungan keluarga “sederhana” lainnya. Tanpa Emak, Ceria, satu-satunya anak angkat, sukar berdamai dengan dirinya sendiri: semula ia lebih emosional, rendah diri, dan berbagai kondisi inferior lainnya, tetapi seusai Emak berikan motivasi, kepercayaan diri Ceria berangsur meningkat. Ia menjadi YouTuber kondang, mengalahkan Merie, anak semata wayang Madame Pierre.

Fim Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah sengaja menempatkan “Emak” lebih awal ketimbang “Abah” sebab sosoknya begitu berpengaruh bukan sebatas bagi Abah, melainkan juga anak, cucu, serta lingkungan di sekitarnya. Emak adalah faktor kunci bagi keputusan keluarga, kebangkitan dari keterpurukan, bahu bersandar bagi anak-cucu yang dirundung kemelut masalah.

Emak, juga Abah, adalah tempat bermula dan kembali.

Lainnya