Wisdom of Maiyah (38)

Kenduri Cinta, Oase

Di dalam kehidupan, terdapat banyak sekali cara untuk menggapai cinta, manusia yang tanpa diperintahkan pun akan bergerak dengan sendirinya untuk mencari cinta. Di segala belahan bumi Allah, cinta tetaplah menjadi suatu pedoman dasar, bahkan Allah pun mengutamakan cinta daripada taat untuk menggapai pedoman-pedoman hidupnya.

Di Jakarta yang penuh dengan ambisi pun terdapat atmosfer cinta yang begitu jelas dan sangat nyata terasa bagi para pejalannya, mungkin hal ini yang dirasakan oleh teman-teman penggiat Kenduri Cinta yang rutin diselenggarakan setiap bulan di bilangan Cikini, Jakarta Pusat.

Bagi setiap pejalan cinta di Jakarta yang mungkin lelah dengan keras dan ambisi kota raya, mungkin Kenduri Cinta adalah oase di tengah belantara kota yang ganas, tempat menyepi atau sekadar tempat yang merdeka untuk berbuat apapun, dan perlu diingat bahwa kemerdekaan di Kenduri Cinta tidak dibatasi, yang menganggap dirinya merdeka itulah yang wajib tahu batasan-batasannya sendiri.

Sebagai oase, Kenduri Cinta mungkin sudah menjadi sumur zam-zam yang sampai detik ini tidak pernah kering walau sekitarnya silih berganti dan berlalu, karena Kenduri Cinta adalah Oasis for the all season di mana inilah yang menjadikan para pejalan cinta yang berada di dalamnya terbentuk dan terbiasa untuk menjadi Man for the all season yang tidak dapat goyah dan bimbang atas kondisi sekitar yang terus bergejolak.

Selain itu, karena Kenduri Cinta adalah oase yang tidak pernah kering, maka pancuran airnya itulah yang menjadikan Jakarta tetap adem, ayem, tentrem, khususnya lagi bagi para pejalan cinta, di mana mereka bisa merasakan pancuran itu dengan berbahagia bahkan dengan hanya datang lalu tidur di Kenduri Cinta.

Dan pada akhirnya, oase ini adalah ruang rindu bagi para pejalan cinta, di mana ada harapan untuk temu kembali setelah pergi dari oase, karena sejatinya kita semua butuh airnya, untuk sekadar minum atau mandi-mandi kecil.

Lainnya