Keluarga Miskin yang Kaya

Film “Terima Kasih Emak, Terima Kasih Abah” — selanjutnya akan disebut TETA — ini berakhir dengan rasa syukur kepada Allah yang menganugerahi semesta pemaknaan keluarga yang kaya akan kemungkinan. Bergelimang makna pada nilai, memberi arti yang luas secara utuh menyeluruh. Tergantung pada serapan spektator yang menjawab panggilan memori dan hati keluarga masing-masing. Sementara ini hanya kavling alit di tengah rimba pemaknaan TETA, olahan sederhana dari penonton yang tak bersih.

TETA mengaduk-aduk perasaan dan emosi. Merembeskan air mata dalam suka duka maupun tawa haru. Menampar kesadaran saya bertubi-tubi dengan kata bertuah “terima kasih” dan “maaf”. Hati saya seolah-olah menjerit minta ampun entah kepada siapa, seperti suatu kemewekan yang tak bisa saya terjemahkan. Bukan karena ratapan kesedihan, melainkan oleh pancaran semburat kebahagiaan.

Yang terpantul dalam kegembiraan TETA itulah kesedihan saya, sedangkan warna-warni kesedihannya ialah panorama keindahan hidup. Gambaran menikmati kebaikan yang hadir dan mengalir dalam TETA justru membuat saya meneteskan air mata berulang kali, mungkin karena perbuatan maupun perilaku hidup saya belum sampai pada “saling” dalam hal apapun dan dengan siapapun. Bahkan sekadar mengucapkan kata “terima kasih” dan “maaf” kepada kedua orangtua yang dengan cinta dan kasih sayangnya selama ini, yang mana pusaka kata sebagai perbuatan hidup sehari-hari itu agaknya saya sering melupakan, kecuali berlaku saat momentum lebaran.

Waktu Idul Fitri kemarin, Alhamdulillah saya seakan-akan mendapatkan THR gaib berisi upaya mentransformasikan diri dari “mencari” menuju “menemukan” yang sebermula, sebagai proses kreativitas. Cobalah sendiri kemungkinan “mencari” dan “menemukan” kepada apakah. Sesudah menonton TETA, saya merasa dapat tugas tambahan laku prihatin dan perhatian. Dengan kedua langkah tersebut, barulah saya menemukan ragam hal di dalam kehidupan keluarga mana yang semestinya kita mengucap “terima kasih” dan seharusnya meminta “maaf”. Ambillah contoh, Emak masak tiap hari, maka sewajarnya ungkapan syukur ialah terima kasih kepadanya. Sederhana memang, namun senantiasa terlewatkan. Itu pun belum plus rutinitas yang lain, serta persoalan yang timbul tenggelam dalam keluarga.

Setidaknya TETA ini berusaha mengajak penonton kembali mulai menjalani laku prihatin dan mempertimbangkan perhatian dengan memperhatikan segala sesuatu. Dekati dan temukanlah. Tiap saat kita mesti berterima-kasih dan kapan saja kita perlu minta maaf. Hal itu bisa jadi pembelajaran cara bepikir logis dan berpikir kreatif. Sebagai bahan bakar kreativitas maupun oli mesin pemaknaan. Mungkin juga permenungan sehari-hari. Penghayatan tiap waktu. Pembatinan seumur hidup. Paling tidak, rasakanlah khasiat setelah mengucapkan sepasang kata tersebut.

Film bertema kehidupan keluarga—yang tak biasa atau kalau boleh dibilang keluarga idaman kita semua. Saya kira, saban orang sesudah menonton TETA ini berharap dan bermimpi tentang kebahagiaan keluarga sebagaimana peristiwa film tersebut, “penuh rasa cinta, tulus kasih sayang”. Dalam keadaan apapun, setia bersama, senantiasa terus menerapkan nilai-nilai dan memperjuangkan kualitas hidup manusia. Percaya bahwa tiap kesulitan bersama kemudahan, tiap masalah bersama kebijaksanaan dan kearifan hidup. Pokoknya “mensyukuri, berdoa, ikhlas menerima” biarpun tekanan maupun cobaan dari mana-mana, datang bertubi-tubi, silih berganti. Tetaplah “saling menguatkan, saling memaafkan.

Dari konflik ke konflik, TETA menyuguhkan film ini dengan memainkan emosi, meneror logika berpikir, menggembirakan citraan suka dukanya, mengendarai humor semua suasana, menampilkan dengan nada riang yang bertolak dari keluguan dan kepolosan sebagai suatu kewajaran hidup bersahaja. Aneka masalah faktual serta isu-isu terkini itu diolah dengan mempertimbangkan kebijaksanaan, lalu kemudian mengedarkan keindahan solusi berdasar kebenaran dan kebaikan bersama. Agar supaya tidak menyakiti hati orang lain, maka outputnya kemesraan dan kegembiraan satu sama lain.

Mungkin kalau boleh dibilang ini film humor, meskipun tanpa tendensi dan pretensi untuk itu. Kentara sekali bahwa dalam pasase dialog maupun fragmen peristiwanya mengandung sense of humor tingkat tinggi yang mencairkan segala kondisi, tetapi itu bukan bermaksud menyatakan demikian keluarga humor. Melainkan memang kita semua perlu berhumor, sebab persoalan ialah mesin berpikir humoris. Terutama bagi kita yang merasa hidupnya diserbu tekanan dan masalah-masalah, maka dengan daya humor kemungkinan kita mencoba mengatasi hal tersebut. Humor mungkin tak bisa menyelesaikan masalah, tetapi paling tidak begitu cara kita menggembirakan dan menikmati hidup. Humor itu kesempatan di dalam keterpepetan, celah di dalam keterhimpitan, keluasan di dalam kesempitan, spontanitas di dalam kewajaran.

Humor sajian TETA ini mengandung pesan moral tertentu, menyiratkan suatu kritik sosial lewat film secara implisit maupun eksplisit, seperti menyoal seni pertunjukan dan perilaku manajemen perusahaan. Sebagaimana kita lihat dunia pertunjukan, khususnya film, seringkali lebih mengutamakan bentuk daripada isi, menampilkan kostum mewah ketimbang kebersahajaan hidup, dan sukar untuk bertolak dari yang ada. Kalau pakai kredo Bengkel Teater Rendra berarti “kegagahan di dalam kemiskinan”. Tentu saja TETA tidak menyangkal kenyataan tersebut, tapi sekadar menyarankan kemungkinan untuk mengkreatifi apa yang ada. Menerima dan mengolah apa yang tersedia.

Di lain sisi, TETA juga seolah-olah mengecam keras segala tindak tanduk dan gerak-gerik penguasa yang sewenang-wenang (dalam hal ini maksudnya Mandor di sebuah perusahaan). Jelas menampik perbuatan hidup yang menyimpang, namun tetap memaafkan dan menemaninya sebagai manusia. Ketegangan adegan ini memuat nilai-nilai tentang kehormatan dan marwah keluarga, sekaligus sisipan pengantar dalam hal menangani masalah dengan cara kekeluargaan: temukan kebaikannya, endapkan buruknya. Lebih baik mungkin jangan merasa dengki dan jangan suka membenci, sebab hidup bersama senantiasa mesti dijaga.

Adapun sedikit kekurangan TETA ini, palingan dari segi pembatinan maupun penghayatan sebagian pemain, hal ini kelihatan perannya agak kaku, dan itu pun tak mengapalah. Lagipula sepanjang film ini saya sangat menikmati daya kejutnya, keindahan ekspresif para pemain (terutama Nur dan Budi), kekuatan dialognya, keliaran motif pengisahannya, dan seterusnya. Seperti halnya, niat baik yang mungkin bisa berdampak buruk buat orang lain. Terutama sekali ialah bagaimana kita terus melaksanakan nilai-nilai kejujuran, keikhlasan, kesetiaan, semangat dan penerimaan dalam bersikap maupun berperilaku hidup keseharian.

Tentu saja garis besar haluan film ini berpokok mimpi dan harapan seorang cucu (Nur) yang berkeinginan dan berusaha agar bisa merayakan ulang tahun, tetapi tetap mempertimbangkan bahagianya keluarga. TETA memadu-padankan antara menggapai impian dan mengalami masalah. Memasak kesedihan dan kebahagiaan sebagai hidangan khas TETA: santapan rasa prihatin dan saling perhatian satu sama lain dengan merujuk nilai-nilai di atas. Sebagaimana pembelajaran utama dari film ini ialah senantiasa bersyukur dan berdoa, bergelimang cinta dan kasih-sayang.

Sebab, “kamu tidak bisa memilih siapa yang menjadi keluarga kamu, mereka pemberian Allah. Maka pasti yang terbaik.” Itulah mengapa saya menyebut TETA ini keluarga miskin yang kaya, barangkali mungkin juga disebut keluarga Qur’ani, berkisah tentang hidup miskin secara materi, tapi sangat kaya secara rohani. Memang kehidupan saat ini amat miskin kemungkinan, maka TETA mengajak kita mengembarai keberlimpahan hidup sejatinya kaya akan kemungkinan. Perkara miskin ataupun kaya tergantung pada cakrawala pemaknaan masing-masing, namun hidup ini akan senantiasa mengalami miskin dan kaya dalam banyak hal. Setidaknya TETA telah memberi kesaksian bahwa hidup dalam keadaan miskin ataupun kaya bukanlah soal, akan tetapi bagaimana upaya kita mendaya-gunakan itu untuk kebermanfaatan seluas-luasnya, sebagai bekal penempuhan kehidupan yang mulia, rumah yang penuh berkah dan kebersamaan hidup yang mesra. Alhamdulillah…

17 Mei 2021

Lainnya