Kebon (208)

Kelembutan Hati Manusia

Foto: Adin (Dok. Progress).

Di awal era 1970-an saya adalah “orang udik”. Meskipun Menturo adalah “deso kluthuk”, kemudian saya berhijrah ke “deso kluthuk” lainnya yaitu Gontor (bukan Pondoknya) yang bertetangga dengan ngGandhu, Malu, nJursan dll di sekitarnya, kemudian nasib melemparkan saya ke kota Yogyakarta, namun untuk ukuran kota metropolitan Jakarta, tetaplah saya hanya orang udik.

Makanya ada istilah “mudik”. Artinya para urban, jutaan orang berduyun-duyun berhari raya di daerah-daerah udik. Mereka berasal dari daerah-daerah udik menggumpal cari hidup di Jakarta, karena jumlah Rupiah sekitar 84% di sana dengan seluruh daerah lainnya berbagi 16%. Penggumpalan ini tidak pernah benar-benar diatasi oleh Pemerintah, meskipun jargon pemerataan selalu didengung-dengungkan. Penggumpalan Rupiah ini merupakan manifestasi dari gagalnya pengelolaan keadilan dan kebaikan dalam dunia manusia modern.

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ
وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ
يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Jakarta sangat legendaris dengan budaya khutbah Shalat Jumat yang penuh semangat, nada tinggi dan sikap menentang kemunkaran, sampai hari ini. Dan ayat di atas selalu dibaca pada setiap akhir khutbah kedua. Tetapi tetap tidak pernah diterjemahkan, dimaknai atau dihikmahi sebagai pedoman atau panduan kehidupan sosial, politik dan perekonomian negara.

Di zaman Orde Baru itu di bangun jaringan highway atau jalan tol yang dipakai sampai hari. Jalan Tol Jabotabek diartikan “Jawa Bodoh di Jakarta Beken”. Kalau “Jagorawi” kepanjangannya “Jawa Goblog Raja Betawi”. Bayangkan Rajanya saja bodoh plus goblog, apalagi rakyatnya.

Sampai-sampai muncul counter culture. VOC di Batavia (Betawi) dulu setengah mati menahan laju serangan pasukan dari Jawa yang dikirim oleh Sultan Agung. Meskipun di antara pasukan Belanda banyak KNIL atau Bule-bule pribumi, tetap tidak mungkin melawan pasukan dari Mataram Hanyakrakusuma cucunya Panembahan Senopati. Sampai akhirnya muncul ide dari pasukan asli setempat untuk mengumpulkan tahi sebanyak-banyaknya ke jalur garis yang menjadi sasaran Pasukan Sultan Agung. Sedemikian rupa sehingga pergerakan Pasukan Mataram itu terhenti. Ketika Panglima Perangnya melakukan verifikasi, para Komandan Batalyon melaporkan bahwa garis batas wilayah perang semuanya “Mambet Tai”.

Mambet adalah kata krama inggil dari mambu atau bau. Akhirnya tersebar ucapan Mambet Tai, mambettai, bettai, kemudian akhirnya terpadatkan menjadi Betawi. Ini gejala sosiolinguistik yang wajar, sebagaimana negosiasi disingkat menjadi nego saja. Halusinasi menjadi halu. Atau Ahmad menjadi Amat kemudian Mat, dan muncullah Mat Belong, Mat Bengkel, atau Dul Pancing, Dul Maling, yang berasal dari Abdul.

Saya mohon maaf menuliskan rumor ini, yang memang sama sekali bukan berasal dari khasanah pengetahuan sejarah, apalagi yang resmi. Bagi saya pribadi, karakter dan budaya masyarakat Betawi tak kalah asyik dan menggairahkan sebagaimana Madura. Istri saya sendiri adalah blasteran Jawa Minang yang lahir di Bandung tapi dibesarklan oleh budaya Betawi.

Di pasar tradisional sekitar Jombang zaman dulu ada jualan jajan yang namanya “Bol Cino”. Makanan itu berbentuk seperti “bol” dan karena warnanya agak kuning dan putih, maka sebutannya “Bol Cino”. Tidak pernah ada penelitian oleh para pakar bagaimana asal-usul sosiologis nama makanan ini. Hanya beredar asumsi spekulatif bahwa itu adalah refleksi masyarakat pribumi Jawa Timur yang cemburu, iri atau dendam kepada masyarakat Cina yang rata-rata lebih kaya dan makmur dibanding penduduk asli. Maka di antara mereka memunculkan ide untuk melampiaskannya lewat kreativitas nomenklatur makanan. Dan eksislah “Bol Cino” itu.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, ternyata muncul budaya tanding. Di pasar-pasar muncul semacam “Bol Cino” tapi warnanya agak lebih gelap dan kumun, yang namanya adalah “Bol Kaji”. Bolnya Wak Haji atau kalau di Jawa Timur disebut Kaji. Kakek sambung saya bernama Haji Umar dipanggil oleh maysrakat Menturo dengan “Wak Kajumar”. 

Akan tetapi, sebagaimana penggumpalan aset negara di Jakarta, sebenarnya masalah Cina atau Tionghwa ini tidak pernah selesai. Di zaman VOC  (Vereenigde Oostindische Compagnie) Belanda pun pada 1740-an dulu terjadi “Geger Pecinan”, meskipun tidak langsung terkait dengan penduduk pribumi. Tetapi kesenjangan perekonomian antara masyarakat Cina dengan pribumi tetap merupakan problem akut dan laten sampai hari ini. Bahkan Pemerintah Indonesia yang terakhir menambah psikologisme itu dengan banyak langkah-langkah yang membias dan stigmatik ke situasi ketidakselarasan sosiologis itu.

Ini masalah nasional, meskipun dialami secara lokal-lokal. Silakan mempelajari peta pemilikan tanah di banyak daerah-daerah maupun dalam skala nasional. Tetapi kalau ada yang menyimpulkan bahwa bangsa Jawa membenci orang Cina, banyak fakta-fakta yang bisa dipakai untuk menegasikannya. Wong-wong cilik di Jawa, termasuk di Jombang bahkan pun Yogya, sering mengekspresikan ketidaktegaan mereka kalau menjumpai penduduk Cina yang tidak kaya. Apalagi sampai ada penduduk Cina bekerja menarik becak misalnya. Masyarakat akan mengeluh “Mesakké to yo, mosok Cino kok mbecak”.

Dulu ada aktor Teater Dinasti yang menjadi pemain utama lakon “Jenderal Mas Galak” adalah seorang Tionghoa yang bernama Robert Tantra. Badannya besar dan gagah. Sehari-hari bekerja berjualan roti keliling dengan mengandarai sepeda onthel-nya. Semua warga Dinasti rata-rata tidak tega melihat Robert. Meskipun kebanyakan mereka masih menganggur. Mayoritas mereka miskin dan sepeda pun tak punya. Joko Kamto sandalnya terbuat dari ban truk dan berjalan kaki latihan teater berkilo-kilo meter.

Saya hidup bersama komunitas-komunitas yang berbeda-beda sejak Menturo, Gontor hingga Yogya. Dan rata-rata persahabatan kami awet sampai tua. Sampai Sabrang anak saya bikin jargon “Paseduluran Tanpa Tepi”. Rata-rata mereka memiliki kelembutan hati manusia. Sampai-sampai sebagai penganggur mereka tidak tega kepada yang sudah punya pekerjaan seperti halnya Robert itu. Dan yang miskin bisa saja menemukan sebab untuk mengasihani orang-orang lain yang kaya.

Teman-teman di komunitas saya bukan kaum santri, bukan manusia-manusia yang penampakannya religius, pakaian mereka bahkan rata-rata gembel dan terlalu sederhana. Tetapi muatan jiwa di dalam diri mereka penuh kelembutan kemanusiaan. Maha Agung Allah yang menghadirkan firman-Nya justru di kalangan yang tidak kentara, namun mengepung dan memenuhi hidup saya dari masa ke masa: 

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ
فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ
فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Lainnya