Keindahan, Kelembutan Hati, dan Air Mata

Photo by Colin Maynard on Unsplash

Akhir-akhir ini Mbah Nun sering membahas tentang keindahan. Menurut Mbah Nun, keindahan adalah hal yang saat ini sering kita lupakan, termasuk dalam soal beragama. Kita menegakkan Islam hanya sibuk mengurusi soal kebenaran: benar-salah peribadatan saja. Padahal, menurut Mbah Nun, ujung dari tujuan kita berislam adalah merasakan keindahan. Sebab, Islam sendiri adalah agama keindahan.

Mbah Nun merefleksikan keindahan pada sosok petinju dan manusia Muhammad Ali. Menurut Mbah Nun Muhammad Ali itu mungkin bukan sosok yang ganteng atau tidak ganteng, melainkan dia perkasa tapi indah. Keindahan yang terpancar dalam dirinya yang membuat semua orang ketika bertemu dengannya merasa sayang.

Sejak dulu keindahan dikenalkan Mbah Nun kepada masyarakat. Shalawat yang dibawakan gamelan KiaiKanjeng meramu spiritualitas getaran bunyi dengan ketulusan, kerendahhatian, keistiqamahan, dan kejujuran Mbah Nun dan KiaiKanjeng yang melahirkan keindahan. Sehingga saya menyaksikan sendiri, ketika Maiyahan Jamaah Maiyah ketika diajak bershalawat ada banyak yang menitikkan air mata.

Saya merasakan bahwa air mata itu lahir alamiah dari hati kita (jamaah) karena merasakan getaran keindahan dari shalawat Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Segondrong dan se-mbeling apapun ketika kita sudah duduk bersama dalam Maiyahan, kita akan terbawa pada cuaca keindahan yang kita bangun bersama dengan shalawat, ketulusan, kepasrahan, kerendahhatian, dan tawakkal kita kepada Allah.

Di banyak Maiyahan Mbah Nun dan KiaiKanjeng tidak hanya memperkenalkan kita pada keindahan Allah dan Islam, melainkan mengajak kita ber-riyadloh untuk juga meraih dan mencapai keindahan tersebut.

Dalam proses meraih keindahan itu, tak jemu Mbah Nun menganjurkan kita untuk sering-sering shalat malam dan minimal memperbanyak dzikir pada tengah malam. Selain menganjurkan, ketika Maiyahan Mbah Nun selalu mengajak kita untuk berwirid Tetes Kelembutan Muhammad, wirid Padhangmbulan dan wirid Maiyah yang lain. Harapan Mbah Nun hati kita supaya lembut dan dapat merasakan keindahan Allah. Sehingga nasib dan kehidupan kita tertuntun oleh keindahan Allah yang selalu coba kita usahakan.

Tulisan ini merupakan refleksi ketika melakukan anjuran Mbah Nun untuk sebisa mungkin melakukan shalat malam. Dalam shalat itu saya merasakan hawa segar dan tenteram yang membuat ingatan langsung membawa saya pada momentum Maiyahan. Sambil menuntaskan rakaat shalat dalam cuaca segar dan tenteram itu, saya mengenang pengalaman indah ketika Maiyahan.

Ingatan itu mengantarkan saya pada pengalaman bershalawat bersama hujan, bershalawat bersama di tanah yang lapang dan tertawa bersama dari berbagai usia dan latar belakang. Semua tersimpan rapi dalam ingatan ketika saya merasakan cuaca keindahan yang sama ketika Maiyahan. Menyegarkan dan menenteramkan.

Maka merupakan berkah hidup yang tak terkira, oleh Allah kita dipertemukan dengan Mbah Nun. Yang melalui Mbah Nun juga kita diantarkan untuk mengenali kembali Kanjeng Nabi, dan Allah, Maha Eksitensi melalui keindahan-Nya.

Pada rakaat terakhir dan ditutup salam, saya diingatkan pada kalimat Mbah Nun, ”Jangankan secara iman, secara ilmu pun “inna lillahi wa inna ilaiHi roji’un” tidak hanya berkonteks layatan ketika seorang tetangga dicabut nyawanya oleh Malaikat Izrail.” (Kebon 199, Inna Lillahi Borobudur wa Inna Ilaihi Ka’bah). Bahwa Innalilahi wa inna ilaiHi rajiu’un bukan hanya menyangkut soal kematian dan musibah, melainkan rizki dan berkah yang mengantarkan kita pada kesadaran ingat Allah. Dikenalkan keindahan, kelembutan hati dan air mata dalam pengalaman bermaiyah.

“Hampir tak ada orang Islam atau para penceramah Islam yang mengasosiasikan bahwa “inna lillahi” itu bahkan utamanya adalah rahmat, berkah, rizki, limpahan-limpahan kenikmatan dari Allah.” (Kebon 199, Inna Lillahi Borobudur wa Inna Ilaihi Ka’bah).

Lainnya