Kebun Maiyah

Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang memperbaharui untuk umat agama mereka.

Dok. Kenduri Cinta

Demikian Rasulullah bersabda. Setiap seratus tahun Allah berjanji akan menurunkan seorang mujaddid yang secara komprehensif menemukan kembali ajaran Islam yang murni dan me-revitalisasi-nya sehingga relevan dengan zamannya.

Kenapa perlu ditemukan kembali? Karena, seiring waktu, intisari agama hilang ditelan tradisi keagamaan yang mengutamakan kulit daripada isinya. Pokok-pokok ke-Islam-an hilang atau terkubur oleh pemikiran yang dirancang untuk melanggengkan kekuasan dengan memanfaatkan agama. Atau oleh ideologi yang dikembangkan oleh Dajjal dan para pengikutnya yang memang dirancang untuk menjauhkan manusia dari agama Allah.

Kalimat yang baik adalah ibarat pohon, dan pohon-pohon kebaikan Islam itu ketlingsut di rimbunnya hutan belantara yang ditumbuhi segala macam rumput, ilalang, dan pepohonan yang sebagian memang sengaja ditanam untuk menutupinya.

Beberapa “ulama” mungkin berhasil menemukan kembali satu dua pohon kebaikan itu dan menjadikannya sebagai tema sentral dakwahnya. Seperti mengerti strategi pemasaran modern yang memerlukan diferensiasi agar diterima pasar. Sehingga setiap gerakan ada tema “jualannya”. Ada yang jualan tema shadaqah dengan iming-iming imbal-baliknya secara kontan di dunia. Walaupun kemudian akhirnya entah bagaimana ceritanya yang menjadi kaya raya adalah ustadznya. Pohon shadaqah menjulang tinggi bercabang di mana-mana tetapi buahnya sebagian besar dimakan sendiri oleh yang menanam.

Ada gerakan yang tema sentralnya pendidikan, bahkan lebih khusus lagi pendidikan untuk menyiapkan anak-anak Islam bisa bersaing masuk ke universitas bergengsi untuk dididik menjadi kuli. Cita-citanya mulia yaitu untuk mengembalikan kejayaan umat Islam dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ada juga yang menekankan pada upaya penyucian qalbu atau hati, walaupun dilabeli secara keliru dengan manajemen hati. Padahal hati itu bukan untuk di-manage, tapi untuk disucikan, supaya dia bisa mengendalikan seluruh manajemen nafsu. Kalau fokusnya pada mengelola hati, maka mudah tergelincir pada manipulasi. Akibatnya apa yang dilakukan tidak selaras dengan apa yang diajar-ajarkan.

Atau ada juga dakwah yang fokusnya adalah toleransi dan pluralisme sedemikian rupa sehingga malah terkesan lebih menyayangi orang lain daripada saudara seagama sendiri. Atau yang mengajarkan ‘nyunnah’, mengikuti sunnah Rasul dengan pemahaman generasi terdahulu. Sedemikian rupa sehingga Sunnah menjadi lebih utama dibandingkan Al-Qur’an dan menimbulkan pertengkaran di mana-mana. Ada juga yang tidak ada tema sama sekali, hanya sebatas keterampilan berorasi dan melakukan stand up comedy.

Tidak demikian dengan Maiyah. Maiyah adalah pembaharuan pemikiran Islam yang sesungguhnya. Maiyah melakukan dekonstruksi terhadap konsep-konsep dasar Islam yang kekeliruan pemahamannya oleh mainstream telah berdampak pada sejarah dan arah peradaban yang semakin menjauh dari ideal yang dicita-citakan Islam. Maiyah mengembalikan pemahaman Islam secara holistik seperti yang diajarkan oleh Rasulullah dan yang telah dibuktikan penerapannya di Madinah.

Seperti yang dirumuskan oleh almarhum Syekh Kamba, Maiyah mencoba menghidupkan kembali warisan peradaban di Madinah yang sukses dibangun dengan lima pilar yaitu kemandirian dalam berpikir dan berperilaku, penyucian jiwa (dibebaskan dari rasa benci, iri, dengki, hasad, dan curang), jalan kebijaksanaan dan kearifan (bukan pendekatan hukum), kejujuran atau amanah, dan cnta kasih. Dan itu semua dilakukan dengan tetap mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, dengan urutan yang seharusnya yaitu Al-Qur’an sebagai sumber yang pertama dan Sunnah sebagai sumber yang kedua. Maiyah mendidik kita untuk kembali dekat dengan Al-Qur’an dengan tadabbur.

Itulah Kebun Maiyah. Bibit-bibit pohon kebaikan yang telah diambilkan Mbah Nun dari belantara pemikiran dan Beliau shadaqah-kan untuk kita semua, dan ditanam di lahan kebersamaan sesama manusia yang setia memperjuangkan dan menjaga nilai. Mbah Nun bukan hanya menanam benih, tetapi juga bekerja keras untuk menjaga dan merawatnya agar tumbuh menjadi bibit-bibit unggul pohon.

Terbukti gerakan Maiyah adalah satu-satunya gerakan yang selama puluhan tahun membuktikan tidak punya interest, selain mendinginkan dan menyejahterakan Indonesia. Jangan menuntut beliau untuk juga harus terlibat mengurusi hal-hal detail teknis yang diperlukan untuk merawat bibit bibit unggul itu mampu bertahan terhadap segala macam penyakit dan cuaca, dan tumbuh menjadi pohon kekuatan di masa depan. Kita semua yakin bahwa kalimat yang baik akan tumbuh seperti pohon yang akarnya menghujam di bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Itu adalah janji Allah dan Dia juga yang pada hakikatnya menumbuhkannya. Tetapi kita juga harus ambil peran atau ambil bagian untuk merawatnya.

Mbah Nun sendiri mengatakan yang diperlukan Maiyah sekarang adalah ahli kebun. Maiyah sudah memberikan kunci-kunci yang diperlukan manusia untuk selamat memasuki ruang-ruang kehidupan. Bagaimana mewujudkan visi berdasarkan prinsip-prinsip Maiyah di dalam berbagai bidang itulah kita memerlukan ahli kebun.

Semua bibit kebaikan itu ditanam Mbah Nun di Kebun Maiyah tanpa pamrih. Semata-mata karena memang diperintahkan Allah dan karena berat hati Beliau dengan penderitaan umat. Kalaupun ada imbalan yang diharapkan, saya kira hanyalah “Itulah (karunia) yang diberitahukan Allah untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.” (QS. Asy-Syura: 23).

Tetapi jangankan menjadi ahli kebun yang membantu mengelaborasi secara ilmiah detail teknis apa yang diperlukan untuk merawat dan membesarkan Kebun Maiyah, kami bahkan tidak bisa menjadi sekadar tukang kebun yang mengamankan kebun dari berbagai gangguan dari luar, atau penjaga kebun yang membersihkan pohon dari benalu. Sebagian dari kami malah menjadi benalu itu sendiri, yang menempel di pohon-pohon itu dan menghisapnya untuk kepentingan dia sendiri. Mohon maafkan kami anak, cucu, dan muridmu, Mbah. Memang kebangetan sangat tidak bersyukurnya kami. Mau enaknya saja bersantai-santai cangkruk rokokan ngobrol ngalor ngidur sembari menunggu kebun berbuah untuk panen menikmati buahnya.

Ayo, dulur-dulur Maiyah kita tandang. Kalau tidak mampu jadi ahli kebun, ya kita lakukan apapun semampu-mampu kita untuk menjaga dan merawat kebun. Minimal ikut bantu-bantu membersihkan benalu yang sungguh sangat merusak dan menyakiti hati pemilik kebun. Mari kita buktikan cinta kita pada Mbah Nun dan keluarganya.

Lainnya