Kebon (84)

Karung Kelamin

Foto: Adin (Dok. Progress)

Kalau apa yang saya alami pada tahun 1965 itu terjadi sekarang, Ayah saya pasti sudah dilaporkan ke Kepolisian. Ayah saya akan diciduk dan saya juga ditampung ke kantor “Komisi Perlindungan Anak”.

Saya belum tamat SD (SR waktu itu). Setiap kali selesai berjamaah Subuh di Langgar Etan depan rumah kami, Ayah saya membisiki saya disuruh menuju ke suatu tempat yang ditunjuknya. Di sana ada kuburan darurat orang yang semalam dibunuh. Ketika saya datang ke tempat itu, ternyata kuburannya sangat dangkal. Hanya dengan beberapa cawukan sudah nongol itu mayat. Ada yang masih relatif utuh karena matinya ditusuk pedang. Lain hari mayat itu terpisah badan dengan kepalanya, pasti karena matinya dipenggal lehernya. Lain hari lagi tubuh mayat itu lèdèh, sudah tidak berbentuk jasad manusia lagi, karena sudah hancur lebur luluh lantak. Mungkin dihajar beramai-ramai pakai batu dan benda-benda tumpul lainnya.

Ayah saya pasti terdakwa, menyeret anaknya ke kenyataan yang belum boleh dialami oleh kanak-kanak. Itu melanggar Hak Asasi Anak. Komnasnak pasti juga bertindak kepada orangtua kurang ajar seperti itu. Tetapi seandainya yang dikubur dengan galian tanah dangkal itu Ayah saya, siapa yang akan ditangkap. Bukankah 40 tahun kemudian ada teriakan “Aku Bangga jadi Anak PKI”?

Siapa yang ditangkap dan didakwa untuk musnahnya pesantren-pesantren di sekitar Madiun, Magetan, Ponorogo? Siapa yang ditangkap untuk mempertanggungjawabkan matinya ribuan kiai dan santri?

Saya tahu jawaban orang sekarang: yang harus ditangkap, diadili, dan dihukum seberat-beratnya adalah Soeharto. Sebab Peristiwa G.30.S yang mengerikan itu hanyalah rekayasa Soeharto. PKI menjadi korban utamanya. Sehingga sangat mengherankan kenapa NKRI belum menjadi Negara PKI, Negara Komunis, minimal Negara Sosialis seperti dulu Jerman Timur dan sejumlah Negara lain di Eropa Timur? Kenapa masih berlagak Pancasila sampai hari ini?

Di tahun 1984-1985 setiap dua minggu sekali saya melewati wilayah Republik Demokratik Jerman. Maksudnya Demokratik di situ adalah Komunis-Sosialis. Saya lalu-lalang ulang-alik Amsterdam-Berlin. Berlin terletak di Jerman Timur. Sebagian dari Berlin merupakan bagian dari Jerman Barat, sebagaimana Mushalla di Makam Imogiri Yogya separo milik Kasunanan Solo separo milik Kesultanan Yogya. Jadi untuk sampai ke Berlin Barat, harus melawati separo Negara Jerman Timur serta Berlin Timur.

Saya kost di dekat Tembok Berlin yang memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur. Sesekali saya ke kantor konsulat RI di Berlin Timur dan menyaksikan kehidupan rakyat di sana. Saya bisa datang ke kerumunan di dekat pertokoan atau lainnya, saya memberikan sebungkus rokok Marlboro untuk menerima sepotong celana Jeans.

Saya tidak akan sok tahu menjelaskan apa beda sistem pemerintahan dan mekanisme sosial ekonomi antara Negara Sosialis dengan Kapitalis. Banyak teman-teman eks PKI Indonesia di Berlin Barat dan saya bergaul akrab dengan mereka, sampai ada yang mengkursus privat saya Teori Perekonomian Kiri atau Sosialis-Komunis. Ada orang Jerman yang bertukar kursus dengan saya, ia mengajari saya Bahasa Jerman dan saya mengajari Bahasa Indonesia.

Secara ilmu, pengetahuan dan imajinasi peradaban saya terkadang membayangkan andaikan kita sekarang menjadi dan menjalani sistem Sosialis-Komunis. Pasti akan dahsyat pengalaman rakyatnya. Presidennya tidak perlu cari siapa-siapa, bisa tetap Presiden yang sekarang. Rakyatnya coba minta tolong kepada anak-anak muda milenial untuk mempelajari itu semua, mempetakan, menganalisis, dan mensimulasi apa bedanya dengan yang kita alami sekarang dengan Negara Pancasila.

Yang pasti rakyat tidak perlu berpendapat atau bicara kebenaran. Sebab sekarang pun, dengan sistem yang Pancasilais, kita juga tidak butuh bicara kebenaran. Sebab kebenaran adalah benih yang tidak cocok dengan kondisi tanah Indonesia. Kalau kau tanam benih-benih kebenaran, terutama yang tidak cocok dengan kebenaran yang sedang berlaku dan berkuasa, kau akan celaka. Habis nasibmu oleh medsos dan Polri. Berapa kali saya menulis: Di Timur kau dijamin makan minum rumah gas air dan kendaraan, tapi jangan mbacot apalagi mengkritik Pemerintah. Di Barat kau bebas bicara merdeka mengkritik tapi cari makan rumah listrik air sendiri-sendiri. Di Indonesia kau bebas bicara apa saja asalkan mendukung Presiden dan Pemerintah, dan makan minum penghidupanmu dijamin oleh Allah swt.

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ
وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ

Allah ah yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Dia pula yang memberi makan dan minum kepadaku.

Maka berdasarkan janji Tuhan itu saya pribadi tidak berkeberatan apakah Negara ini mau berlaku kapitalis, komunis, sosialis, pancasialis, kampretis, kadrunis atau cebongis. Silakan. Monggo. Sebab engkau tak akan tahu siapa yang menghidupiku, siapa yang kusyahadati dan yang tidak akan pernah kusyahadati, siapa yang kuakui dan siapa yang ciker bungker matèk ngadek wallahilladzi nafsi biyadiHi tidak akan pernah kuakui.

Beratus-ratus mayat kampul-kampul memenuhi permukaan air Kali Gede di sebelah selatan desa saya. Tengah angon wedus, saya dengan Margin, Kasiyadi, Kasdu, dan teman-teman lain yang menggembalakan kambing dan kerbau, kami berlomba menentukan titik sasaran di antara mayat-mayat itu. Kami bergiliran melempar. Yang menang mendapat hadiah arit, glathi atau pisau atau apapun yang ada.

Di antara kintiran ratusan mayat itu ada karung. Kami berusaha meraihnya dengan gantholan untuk dibawa ke pinggir. Ternyata isinya adalah koleksi kelamin laki-laki.

Saya “ora gumunan, ora kagetan, ora dumeh”. Silakan lakukan apa saja, silahkan menggiring zaman ke mana saja semau kelaminmu. Jangan pikir kau mampu membakar Ibrahim. Jangan sangka kau bisa menakut-nakuti Musa dengan sihir ular-ular se-Nusantara. Jangan kau mengira bisa menahan Yunus tetap terpenjara di perut ikan Hiu sesudah ia mateg aji

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Aku tetap aku, aku tetap melangkah di jalanku. Sebab aku bukan aku. Kalau Engkau menyentuhku, aku bukan aku. Kalau Engkau tidak menyentuhku, akulah aku. Aku hanya dikhalifahkan seakan-akan menjadi aku.

Lainnya