Kampus ITS Gemakan Advancing Humanity

Dok. Komunikasi Publik ITS

Setelah malam sebelumnya Mbah Nun hadir membersamai jamaah Padhangmbulan, tadi malam (22/9) beliau bersama Mbah Ahmad Fuad Effendy dan Dr. KH Ahmad Musta’in Syafi’i, M.Ag, menemani civitas akademika, jamaah masjid dan jamaah Maiyah yang hadir mengkaji Mushaf Tadabbur Maiyah Padhangmbulan di Masjid Manarul Ilmi, komplek kampus Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.

Pengajian yang bertajuk Kajian Mushaf Tadabbur Maiyah ini juga disiarkan langsung melalui kanal youtube Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, atas prakarsa panitia Dies Natalis Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya ke-61, yang bekerja sama dengan Bangbang Wetan.

Berbalut suasana serius tapi santai, kajian Mushaf Tadabbur Maiyah dimulai oleh penampilan grup Banjari remas Masjid Manarul Ilmi ITS. Grup Banjari tersebut memuncaki penampilannya dengan melantunkan Shalawat Badar untuk mengiringi perjalanan narasumber dari transit menuju panggung berlangsungnya pengajian.

Rektor ITS, Prof Dr Ir Mochamad Ashari, MEng, membuka acara, dengan menyampaikan bahwa acara dies natalis kali ini sesungguhnya menjadi waktu kita untuk mengevaluasi diri setiap tahun. Menurut beliau isi acara dies natalis tidak hanya seputar kajian ilmiah dan pertemuan tetapi juga beliau mengharapkan untuk meningkatkan sisi spiritual yang kali ini meminta Mbah Nun, Mbah Fuad dan KH Ahmad Musta’in Syafi’i sebagai narasumber untuk memandunya. Pak Rektor memuncaki sambutan dengan berdoa mudah-mudahan ITS yang berusia 61 tahun memberi manfaat kepada sesama dan masyarakat Indonesia.

Bertemakan “Advancing Humanity”, Prof. Ir. M. Sigit Darmawan selaku ketua panitia, berharap pengajian kali ini dapat memajukan kualitas kemanusiaan kita.

Sejarah Lahirnya Tadabbur Maiyah Padhangmbulan

Bapak Darmaji, salah satu dosen ITS dan jamaah Bangbang Wetan memoderatori acara dengan memberi pengantar, “Ketika yang dari lauhil mahfudz itu diturunkan ke langit dunia, kemudian dari langit dunia berperantara Malaikat Jibril diwahyukan kepada Rasulullah Saw., itu adalah ayat-ayat Al-Qur’an. Kemudian ketika ayat-ayat itu dihimpun dan dijilid itu menjadi mushaf. Terkait mushaf ayat berbahasa Arab yang diartikan dalam bahasa Indonesia itu dinamakan terjemah. Kemudian ada tafsir yang berasal dari ayat yang dikaitkan dengan ayat lain, hadis dan asbabun nuzul ayat tersebut. Dan pada pengajian kali ini kami belajar Mushaf Tadabbur Maiyah Padhangmbulan yang di-pandegani oleh Mbah Nun dan Mbah Fuad, yang berbeda dengan tafsir dan terjemah pada umumnya.”

Pak Darmaji menambahkan bahwa kampus ITS dalam kaitan menyatukan pikiran dan hati, sebagai institusi teknologi dalam kurikulum keseluruhannya selama ini lebih banyak memanjakan pikiran. Kajian-kajian seperti kajian Mushaf Tadabbur Maiyah Padhangmbulan ini, menurut Pak Darmaji, bagian dari usaha memanjakan hati — yang pada ujungnya nanti pikiran dengan hati menjadi bersambung. Sehingga tidak ada dikotomi antara pikiran di satu sisi dan hati di sisi yang lain, tetapi menjadi satu hal yang menyatu.

Mengenai sejarah lahirnya Tadabbur Maiyah Padhangmbulan, menurut Mbah Fuad tidak lepas dari sejarah pengajian Padhangmbulan yang dimulai sejak 1992. Jadi pengajian Padhangmbulan sekarang sudah berusia 29 tahun.

Semula, menurut Mbah Fuad, pengajian Padhangmbulan adalah pengajian keluarga dan para tetangga saja. Tetapi tidak disangka seiring berjalannya waktu, pengajian Padhangmbulan banyak diminati dari ratusan sampai ribuan orang yang datang. Sejak awal pengajian Padhangmbulan diberi judul Pengajian Tafsir Padhangmbulan. Karena memang berangkatnya dari Al-Qur’an.

Pada masa-masa awal, isi pengajian Padhangmbulan itu sempat dibukukan dan didokumentasikan. Pada 1993-1994, ringkasan pengajian Padhangmbulan dimuat di buletin Afwaja. Di samping juga diterbitkan dalam serial tafsir Padhangmbulan. Nama afwaja sendiri diambil dari salah satu ayat iżā jā`a naṣrullāhi wal-fat-h, wa ra`aitan-nāsa yadkhulụna fī dīnillāhi afwājā…(Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah…), karena pada saat itu jamaah yang datang ke pengajian Padhangmbulan berbondong-bondong.

Kemudian pada 1997,menurut Mbah Fuad, jagat politik Indonesia semakin memanas. Jamaah yang datang membludak karena wacana politik mulai masuk dalam pengajian Padhangmbulan. Sehingga banyak tokoh politik dan artis yang tidak diundang tapi datang juga ke Padhangmbulan. Wacana politik mulai dominan pada pengajian Padhangmbulan waktu itu. Kemudian berakhir dengan jatuhnya Pak Harto dan gejala pecah belahnya anak bangsa pasca berhentinya Pak Harto itu sangat mengkhawatirkan.

Lainnya