Membaca Surat dari Tuhan (37)

Kampung-Kampung yang Ajaib, Satu

Di kampung ini kami mengontrak rumah menjelang Pemilu. Kalau ada regu ronda yang anggota regu berbeda pilihan politiknya kadang hubungannya kaku sedikit tegang. Saya yang mulai berpengalaman hidup di kampung Yogya merasa aneh juga. Biasanya warga kampung dewasa secara politik. Di sini agak kurang dewasa. Tetapi saya diam saja dan ikut ronda sesuai jadwal. Dalam kehidupan beragama di kampung ini, tidak sekental Kauman. Tidak ada masjid, atau surau atau langgar di dalam kampung. Anak saya dan keluarga istri kalau tarawehan di kampung Kauman Pakualaman, di belakang jamu Ginggang, Ada masjid agak jauh, di pinggir jalan, di luar kampung ini. Meski begitu, kalau pas Idul Fitri orang kampung ramai juga datang ke Alun-alun Sewandanan untuk shalat Id, dan meramaikan pasar Id di lapangan itu.

Pasar Lebaran atau Pasar Id ini mirip pasar malam Sekaten. Penjual memenuhi Alun-alun. Kios berjajar. Kebanyakan kios menjual mainan anak-anak. Mainan anak-anak kuno bernama kwalen sampai mainan dari plastik. Jenis mobil-mobilan dan bedil-bedilan paling banyak. Untuk anak perempun, replika alat dapur dari plastik. Yang khas adalah adanya keluarga penjual sate kendal yang disebut sate kere. Sate lemak sapi yang ketika meleleh manis rasanya, kalau sudah dingin lemaknya melekat di mulut. Keluarga isteri saya penggemar sate ini. Kalau saya lebih suka membeli rujak es krim. Dilanjut makan soto atau bakso panas dengan es buah segar. Di arena tengah Alun-alun, biasanya main kelompok jathilan yang sepertinya diundang secara rutin. Anak-anak senang menonton jathilan. Termasuk anak saya. Di Alun-alun Sewandanan ini kemudian hari menjadi tempat warga berebut gunungan grebeg yang dikirim dari Kraton Kasultanan Yogyakarta yang dikenal penduduk Pakualaman sebagai Kraton kulon kali (Code).

Rasa-rasanya tinggal di kampung ini seperti menikmati sambal tapi tidak jadi sambal karena bumbunya tidak berpadu dalam rasa. Tapi saya kok ya kerasan juga. Apalagi di salah satu tembok rumah ada logo Joxzin, JXZ. Jadi rasanya ada jape methe di sini. Yang mengesankan, kalau malam hari pas tidak piket di kantor, perut lapar, saya datang ke warung bakmi di depan Pathok Telu. Bakminya lezat dan pelanggannya unik-unik. Kadang muncul jagoan bertubuh tinggi yang menjadi guru silat dari anak-anak pemilik toko di Malioboro. Dia mengatakan menguasai aliran silat tertentu dengan berbagai cirinya dan saya yang tahu kalau di belakang warung bakmi agak jauh, di barat rumah kakeknya Garin Nugroho ada pendekar besar yang pernah keliling dunia yang kalau mengajar muridnya cukup keras, mirip metode Shaolin. Untuk mengeraskan pukulan, muridnya harus memukul pasir panas. Kalau mau menerima murid harus diuji menerima jurus gempuran. Kalau bisa menangkis atau menghindar atau kena gempuran tetapi tidak gentar, baru anak muda itu diterima menjadi muridnya. Seorang teman saya pernah mau belajar dan langsung diuji dengan jurus gempuran, kena telak, jatuh terpental dan gentar. Dia pun gagal menjadi murid perguruan pencak silat itu. Dan yang saya ingat di dekat warung bakmi ini dulu ada percetakan sederhana yang mencetak buku silat serial Bende Martaram karangan Herman Pratikto, yang sebelumnya dimuat secara bersambung di koran Nasional. Dengan tokohnya Sangaji dan Titisari yang berguru kepada Wirapati, murid Ki Hajar Karangpandan yang punya jurus andalan candra mangsa berbentuk rangkaian huruf Jawa yang ditulis di udara mrnghasilkan tenaga sakti.

Di utara Pathok Telu ada warung es yang unik. Es buahnya segar dan es ronde yang digemari oleh istrii saya. Di utaranya lagi kalau pagi ada penjual kudapan atau penganan khas Jawa dan saya kadang membelinya untuk sarapan. Di pinggir luar sebelah timur kampung ini ada sekolah kuno, SD Islamiyah tempat Garin Nugroho merampungkan sekolah dasarnya bersama anak-anak kampung sekitarnya, termasuk anak-anak dari Kampung Kauman Pakualaman. Dulu kalau siang sekolah ini dipakai kuliah mahasiswa Universitas Cokroaminoto. Setelah kampus Uncok dibangun, sekolah Islamiyah kalau sore dipakai untuk TPA. Anak saya pernah mengaji di TPA ini mengkhatamkan kitab Iqro enam jilid. Wisuda lulusan TPA dilakukan di Gedung Kepatihan Pakualaman yang terletak di utara kampung Kauman Pakualaman. Gedung Kepatihan ini pernah dipergunakan sebagai Kantor Dinas kesehatan tempat Ayah saya mengurus Kartu HI atau asuransi kesehatan, pernah pula dipergunakan sebagai kampus sebuah akademi. Lalu menjadi gedung pertemuan. Bisa disewa untuk resepsi pernikahan.

Yogyakarta, 2 Oktober 2021.

Lainnya