Membaca Surat dari Tuhan (37)

Kampung-Kampung yang Ajaib, Satu

Ada yang ajaib yang saya temukan di Kauman ini. Misalnya, Pak AR Fahruddin, kalau sampai di depan rumah saya, walau tidak ada orang beliau dipastikan memberi salam. Setelah ini berkali-kali terjadi, saya menduga para kiai sepuh di Kampung ini paham bahwa kampungnya banyak dihuni jin Muslim dan mereka layak diberi salam. Kiai muazdin Masjid Besar seperti juga akrab dengan jamaah masjid dari kalangan yang tidak tampak oleh mata. Kemudian hari, Mas Iman Budhi Santosa pernah memberi kesaksian kepada saya bahwa di Masjid Besar Kauman kalau tengah malam hadir jamaah jin Muslim yang jumlannya memenuhi ruang utama masjid. Mas Iman sendiri pernah memberanikan diri membuktikan itu. Ia minta izin untuk shalat malam kepada sesepuh masjid. Dia dipersilakan masuk ke dalam ruang masjid lalu pintu dikunci dari luar oleh sesepuh masjid itu.

“Nggak usah takut nggih Mas. Saya nanti datang menjelang adzan awal,” katanya.

“Nggih Pak,” jawab Mas Iman mulai berdebar jantungnya.

Lampu di dalam ruang utama masjid dimatikan. Mas Iman shalat sunat. Sebagai anak Magetan yang ketika kecil tinggal di Kauman Magetan ia sudah punya bekal untuk mengalami pengalaman yang unik dan mendebarkan di masjid kuno. Byar! Ada cahaya menerangi ruang dalam masjid. Dan tampak sosok berpakain putih-putih satu persatu masuk ke dalam ruang dalam yang pintu-pintunya terkunci rapat oleh sesepuh takmir tadi. Mas Iman yang semula bersila dan berdoa di depan mihrab mengalah, dan bergeser mundur. Ketika jamaah berpakaian putih-putih makin banyak, Mas Iman bergeser ke belakang sampai punggungnya mentok di tembok. Sosok-sosok itu saling bersalaman, berdoa, dan shalat berjamaah. Lalu dilanjut dengan shalat sendiri-sendiri dan berdoa sendiri-sendiri.

Mas Iman sudah lupa dengan rasa takutnya. Dia menyaksikan semua itu dengan mulut melantunkan doa. Rasanya sunyi tetapi padat dengan aura ruhani. Sampai kemudian terdengar bunyi mak klethek, orang memutar kunci pintu. Pet! Ruang dalam masjid menjadi gelap gulita, semua sosok berpakaian putih-putih menghilang.

“Pripun Mas?” tanya sesepuh masjid sambil menyalakan lampu listrik.

“Nggih sae, Pak,” jawab Mas Iman ditenang-tenangkan.

Sesepuh masjid itu kemudian melantunkan adzan awal.

Ketika sehabis Subuh Mas Iman pamit kepada sesepuh masjid dia ditanya, “kapan lagi Mas mau menikmati suasana dan shalat malam bersama mereka?”

“Cukup sekali mawon Pak.”

Sesepuh masjid tertawa.

“Takut nggih Mas?”

“Nggak, saya tidak takut. Tetapi cukup sekali. Sudah cukup bagi saya.”

Sesepuh masjid menyalami Mas Iman.

“Sampeyan pemberani lho Mas.”

Ganti Mas Iman yang tersenyum malu.

Kalau saya tidak mendengar cerita ini langsung dari Mas Iman saya tidak percaya ada keajaiban seperti itu. Apalagi saya tidak berani meniru dia. Sudah cukup saya dan keluarga mengalami hal yang ajaib di rumah kuno itu. Seperti sosok misterius yang selalu diberi salam oleh Pak AR yang saya belum pernah melihatnya. Atau adik istri saya shalat tiba-tiba ada makmum mengamini atau saya yang tergopoh-gopoh mendatangi gardu ronda yang dari kamar saya terdengar orang mendengkur keras, dan ketika saya datangi gardu itu ternyata pintunya digembok dari luar. Sebagai Cah Kotagede yang akrab dengan pengalaman berhubungan dengan makhluk halus yang kehadirannya diterangkan dalam Surat Jin dalam Al-Qur’an, saya tidak begitu merasa terganggu. Tetapi demi menghormati perasaan istri dan anak pertama saya yang masih bayi kami memutuskan pindah kontrak ke kampung Surengjuritan Pakualaman.

O, ya, hampir lupa. Ada satu keajaiban lagi di kampung Kauman. Warga punya tradisi membaca Al-Qur’an setelah shalat Maghrib. Para tamu tidak diharapkan datang pada jam ini. Para pendatang yang kos atau kontrak di kampung ini diharapkan tidak membunyikan alat musik atau menyetel radio dan televisi pada jam-jam itu. Pernah ada pendatang yang mengontrak rumah di dekat rumah kontrakan saya bermain gitar sehabis Maghrib. Ia dimarahi dan ditegur orang kampung. Rupanya dia belum tahu ada tradisi warga kampung mengaji setelah Maghrib, tidak boleh ada kegiatan lain.

Ketika saya mengontrak rumah di kampung Surengjuritan hawa kuno terasa. Kuno-kuno Jawa. Letak rumah kontrakan saya ada di tengah rumah-rumah yang padat susunannya. Masuknya lewat gang yang disebut Gang Pathok Telu. Gang disemen halus seratus meter lebih ke arah timur lalu berbelok ke utara. Ruang yang saya kontrak ada di bagian depan rumah induk, semacam emper. Di depan rumah ada halaman rumah orang lain yang masih saudara istri. Rumah Mbah Lik dia yang dulu dikenal ahli memijat urat salah letak dengan aliran ilmu sangkal putung. Sayang, sepeninggal Mbah Lik ini tidak ada yang mewarisi ilmunya. Jadi rumah yang dulu ramai dikunjungi oleh pasien yang sakit atau cedera tulang, sekarang sepi. Dihuni oleh keluarga Bude istri saya. Di lokasi halaman rumah ada pohon jambu dan kandang ayam. Isteri dan anak saya merasa aman kalau saya tinggal bekerja. Sebab dekat dengan saudara.

Lainnya