Membaca Surat dari Tuhan (37)

Kampung-Kampung yang Ajaib, Satu

Image by masbebet christianto from Pixabay

Ke luar dari kampung Mergangsan Kidul yang ajaib karena dapat mendewasakan sekian bagian dari diri saya, saya kemudian masuk ke tujuh kampung yang juga ajaib. Ajaib untuk zaman itu, ketika kota Yogyakarta sepeninggal ibukota negara kembali ke Jakarta yang menjadikan Yogyakarta sebagai kota perjuangan kemudian mengalami transformasi menjadi kota pendidikan dan kota kebudayaan. Tahun-akhir 1970-an menuju tahun 1980-an terasa sekali proses transformasi atau perubahan mendasar multilinier terjadi.

Bergeraknya pusat pendidikan dari selatan menuju utara. UII dari jalan Patangpuluhan dan Tamansiswa bergerak ke jalan Cik Ditiro lalu meloncat ke Condongcatur lalu bergerak ke kampus terpadu Jalan Kaliurang kilometer 14. Seiring dengan itu, kampus UGM bergerak meninggalkan kompleks Kraton Yogyakarta, meninggalkan Pagelaran dan beberapa kompleks Dalem para pangeran menuju kampus terpadu di Bulaksumur. Kampus IKIP Muhammadiyah bergerak di dalam kota, dari Jl. Sultan Agung ke Jl. Kapas dan Jl. Pramuka lalu berkembang di Janturan kemudian membangun kampus terpadu di dekat Pasar Giwangan. Kampus Muhammadiyah yang lain, Akademi Tabligh, FIAD di Kauman, lalu muncul UMY di Lapangan ASRI Wirobrajan kemudian meloncat ke luar kota di kampus terpadu di Kasihan Bantul. Kampus Tamansiswa relatif tidak kemana-mana. Di sekitar jalan Tamansiswa, Jl. Batikan, dan Jl. Kusumanegara.

Sebelum kampus-kampus berloncatan ke kawasan Babarsari dan sekitarnya, waktu itu masih banyak kampus yang menghiasi dalam kota. Ada kampus di belakang Jl. Malioboro, di belakang Jl. Solo, di Pingit, di dekat Pasar Ngasem, di sekitar Puro Pakualaman. Di batas kota timur, kampus IAIN Sunan Kalijaga relatif tidak kemana-mana meski kemudian berubah namanya menjadi Univresitas Islam Negeri Sunan Kalijaga yang kini sedang bersiap ‘terbang’ ke Pajangan Bantul membangun kampus terpadu. Demikian juga kampus IKIP Negeri yang pancet tetap berada di Karangmalang. Waktu itu masih era akademi-akademi. APMD, Akprind, Akakom, AMI, AKPER, dan AKBID misalnya. Di selatan Lempuyangan ada kampus akademi manajemen dan sekretaris. Untuk bidang studi seni, waktu itu masih ada ASRI, ASDRAFI, AMI, dan ASTI. Ini periode sebelum akademi mengubah dirinya menjadi Sekolah Tinggi dan menjadi Universitas.

Selain kampus, sekolah menengah, terutama SMA masih banyak yang berada di tengah kota. SMA Muhi masih di jalan Tendean dan belum pindah ke Petinggen. Juga Sekolah Kejuruan pra SMK. Ada Sekolah menengah mendidik calon guru (SPG), mendidik tenaga penyuluh pertanian (SPMA), ada sekolah jurusan ekonomi dan koperasi (SMEA), jurusan perkebunan (SPBMA) dan teknologi (STMA), farmasi (SMF), sekolah jurusan boga dan busana, sekolah jurusan kerajinan ada di dalam kota. Juga ada sekolah Pembangunan (STM Pembangunan). Selain itu yang namanya kursus menjamur. Kursus mengetik, menyopir, administrasi, kursus bertani jamur, kursus tata buku. Kursus komputer waktu itu belum ada, demikian juga bimbingn belajar untuk anak-anak sekolah menengah.

Perubahan dan pergerakan kampus dan sekolah menengah ini erat kaitannya dengan masih adanya kampung untuk kos mahasiswa dan makin sepinya rumah-rumah kos karena mahasiswa pindah ke dekat kampus terpadu di luar kota. Saya pindah-pindah rumah kontrakan ke banyak kampung merasakan betul bagaimana kampung-kampung ini tetap ajaib di mata saya. Sewa rumah, kamar kos, dan harga makanan masih murah. Harga nasi rames atau gudeg sambel tanpa daging ayam dan telur separo masih sekitar seribu rupiah per porsi. Saya dengan istri saya masih leluasa membelanjakan uang gaji dari kantor dan honor dari menulis. Apalagi mall belum ada. Yang ada baru toko serba ada bernama Samijaya di Malioboro. Dan toko kelontong setengah serba ada seperti toko Saerah di utara pasar Kotagede, atau toko di dekat bioskup Permata, atau di dekat pasar Gedongkuning lama.

Setelah menikah, tinggal beberapa bulan di Mergangsan saya dan istri kemudian ngontrak rumah di Kauman Yogyakarta. Ngontrak rumah di Kauman yang pertama, di selatan Mushalla Aisyiyah. Di rumah tua milik Bu Muammal yang anaknya seorang arsitek seangkatan Pak Ahmad Fanani. Kantor Harian Masa Kini di jalan Kolonel Sugiyono dan kantor Shalahuddin Press di Ngadiwinatan. Jadi saya bisa mengelola jarak rumah dan kantor dengan baik. Apalagi waktu itu sudah ada bus kota.

Lainnya