Membaca Surat dari Tuhan (38)

Kampung-Kampung yang Ajaib, Dua

Foto: Adin (Dok. Progress).

Mengontrak rumah di tengah kota, suatu hari jenuh juga. Keluarga saya ingin merasakan hidup di pinggiran kota. Hawa desa yang lebih kental daripada di Mergangsan Kidul. Masih ada upacara adat tradisi masyarakat. Hidup bersama terasa lebih komunal, tidak individual. Sepertinya asyik hidup di lingkungan seperti itu. Mirip dengan suasana masyarakat di Kotagede saat saya kecil dulu. Tahun-tahun 1950-an dan awal 1960-an Kotagede seperti itu. Suasana kultural, komunal, dan ndesa banget. Irama hidup manusia ditentukan oleh kegiatan upacara adat tradisi masyarakatnya.

Lewat informasi wartawan dan redaktur sebuah mingguan, saya memilih ngontrak rumah di Gedongkuning. Persepsi atau kesan saya sebagai Cah Kotagede tentang Gedongkuning tidak membuat hati nyaman. Sebab dalam sejarah yang saya tahu, relasi sosial antara Kotagede (selatan) dengan kampung Gedongkuning Kotagede (Utara) lebih diwarnai relasi antar warrior atau antar jagoan. Ketika ada pertandingan sepakbola antar kampung Kotagede hampir dipastikan muncul pola bentrok antar penonton pendukung kesebelasan kampung tertentu dengan kampung tertentu lain. Antara lain kampung Kotagede selatan dengan pendukung kesebelasan kampung Gedongkuning. Ketika ada pemuda dari Gedongkuning misalnya mnikah dengan perempuan dari kampung Kotagede selatan maka dia diuji nyali lebih dahulu oleh warrior Kotagede selatan.

Mereka saling melontarkan siasat dan jurus untuk saling menggetarkan lawan. Kadang tampak lucu. Misalnya ada jagoan yang terpaksa mengacungkan keris pusaka sungguhan untuk menakuti-nakuti lawan. Adegan tantang-tantangan mirip dalam adegan perkelahian di zaman Majapahit atau Mataram kuno. Warrior dari Gedongkuning bersenjata rantai besi dan kalah perbawa dengan warrior selatan yang bersenjata keris sungguhan itu. Muncul jagoan ketiga yang lebih senior mendamaikan dua warrior yang berhadapan ini. Dia pendekar tangan kosong yang jurusnya teruji. Baru setelah para jagoan itu bisa berkenalan dengan cara baik-baik, dan kehadirannya diterima maka perdamaian pun terjadi.

Ketika saya masuk kampung Gedongkuning kesan negatif seperti itu masih ada. Apalagi baru beberapa hari kusaksikan kejadian ajaib. Gardu ronda yang pagi harinya diresmikan Pak Lurah malam harinya diresmikan anak-anak muda badung untuk pesta minuman. Mereka mabuk dan tertawa-tawa tak terkendali. Ngomongnya ngaco, bernyanyi dengan suara fals dan memetik gitar sekenanya menganggu lingkungan, berisik amat, sampai kemudian datang seorang pendekar sungguhan menggebrak dengan teriakan lantang, merampas gitar dan menghantamkan gitar itu ke tembok sampai remuk. Suara teriakan campur derak patah gitar menyadarkan anak badung itu. Mereka masih punya sisa rasa takut lalu lari terhuyung-huyung meninggalkan gardu dan botol minuman. Juga meninggalkan sandal jepit. Oleh pendekar ini, botol minuman dilempar ke bak sampah.

“Kalau tidak terima, lapor ke kakang kalian. Saya tunggu disini!,” teriak pendekar itu.

Orang-orang kampung keluar rumah mendengar keributan ini.

“Ada apa?”

“Itu anak-anak kurang ajar. Masak gardu ronda yang tadi pagi diresmikan malam ini mereka nodai dengan pesta mabuk-mabukan,” kata pendekar itu menjelaskan duduk perkaranya.

Orang-orang kampung yang ikut kerja bakti membangun gardu ronda itu ikut tersinggung. Mereka marah dan memaki anak badung itu.

“Tapi di antara mereka ada yang adiknya Anu lho,” kata Pak RT mengingatkan.

“Siapapun yang membela anak-anak kurang ajar saya hadapi,” jawab pendekar itu mantap.

Tidak lama kemudian muncul dari selatan pemuda kekar bertato.

“Endi sing ngremuk gitare adiku. Tak remuke wonge!,” sesumbarnya.

“Aku,” kata pendekar itu sambil memasang kuda-kuda perguruannya.

Melihat itu, warrior dari selatan keder dan melunak. Ia tahu betul arti kuda-kuda tempur seperti itu. Dan ia tahu kalau murid perguruan itu ahli memainkan jurus gempuran. Jurus andalan yang sekali terjang lawan terjungkal. Pingsan.

“O, kowe ta, Mas.”

Hooh, arep ngapa sampeyan,” kata pendekar itu dengan bahasa Jawa Timuran.

Pendekar itu memang asli dari Jawa Timur, dari daerah tapal kuda yang anak mudanya lumayan jago gelut dengan menggunakan jurus pencak silat kelas atas. Ia spesialis memainkan jurus clurit dan golok, sampai kemudian menciptakan senjata, golok naga yang indah tapi efektif sebagai senjata beladiri.

“Ini, anu mau ngambil sandale adiku karo gitare sing remuk.”

“Kalau ingin ganti rugi nanti saya siapkan uangnya.”

Ora kok Mas, Ora, Ngapunten.”

Warrior itu mengambil sandal milik para pemabuk dan mengumpulkan serpihan gitar lalu pamit pergi.

Lainnya