Kebon (111)

Kaki Anjing Vs. Pendekar Milenial

Foto: Adin (Dok. Progress).

Masalah-masalah berat, kompleks, berkepanjangan dan tak ada jalan untuk menyelesaikan, bisa membuat suatu masyarakat mengalami situasi uring-uringan yang tak menentu, bergerak menuju apatisme atau semacam rasa putus asa kolektif. Dan itu bisa membuat mereka mudah salah paham, gampang salah paham, sering bergesekan paham, bahkan mudah bertentangan dan bertengkar.

Apalagi yang dialaminya adalah frekuensi tinggi kemudlaratan yang mustahil diatasi oleh mereka sendiri, meskipun dengan metode dan sistem secanggih apapun seperti misalnya Negara dengan undang-undangnya. Bahkan mungkin ada yang terjatuh pada asumsi bahwa justru Negara dan berbagai regulasi tata hidup manusia modern justru merupakan bagian signifikan dari kemudlaratan itu.

Apalagi kadar kemerdekaan komunikasi dan keliaran interaksi yang dibuka pintunya lebar-lebar oleh semakin canggih dan efektifnya teknologi komunikasi dan informasi, yang karena itu justru sangat mudah melahirkan dan menyebarkan disinformasi. Misalnya dunia internet dengan aplikasi-aplikasi yang sangat memudahkan silaturahmi, bisa jadi juga sangat mengandung ranjau-ranjau yang sangat mencelakakan manusia.

Kompleksitas dan kecanggihan kemudlaratan yang diciptakan oleh manusia sendiri semacam sekarang ini rasanya hanya bisa diatasi oleh Tuhan. Padahal manusia-manusia yang menanggung beban-beban berat permasalahan itu justru menjadi bertambah masalahnya karena Tuhan tidak benar-benar mereka percayai  keberadaan dan kemaha-canggihan peranan-Nya.

Maka saya sendiri menemukan bahwa jangankan membela dan memperbaiki kehidupan Indonesia dengan seluruh bangsanya. Melindungi diri sendiri saja, jika sudah dicemplungkan ke dalam neraka medsos dan komunikasi keliaran ultra-liberal lainnya, yang bisa dicapai hanya parsial dan sangat relatif. Siapapun saja di sekitar saya, juga Jamaah Maiyah, sangat sulit menemukan bentuk dan strategi untuk menemani atau menjamin “keselamatan”, misalnya saya sendiri, dari perusakan ekspresi, pembiasan ekspresi, hingga penghancuran karakter. Apalagi di medan perang dunia internet. Meskipun sudah ada regulasi yang dipagarkan, tetapi sama sekali tidak mampu menjangkau keluasan dan kompleksitas persoalan yang bisa ditimbulkannya di antara manusia.

Sebenarnya yang lebih mengerikan bukan internetnya, bukan medsosnya, melainkan para penggunanya. Users-nya. Buzzers-nya. Trollers-nya. Mereka adalah pendekar-pendekar gagah perkasa di dunia abad digital. Mereka adalah manusia-manusia yang sangat pemberani. Berarti mereka adalah patriot-patriot milenial yang sakti mandraguna. Mereka berani curang. Berani berbohong. Berani memfitnah, memanipulasi, mengeksploitasi. Berani merusak. Berani menyebarkan kedhaliman dan kemudlaratan. Berani meremehkan dan menganggap enteng pernyataan Maha Pencipta Kehidupan:

فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ
وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.

Mereka adalah “millenial heroes”. Orang-orang gagah perkasa itu berani melakukan sangat banyak hal yang merusak kehidupan, yang kita sedikit pun tidak berani melakukannya meskipun hanya satu dua hal yang tampak kecil dan remeh.

Kita juga tidak berani memastikan, dan sejauh-jauhnya hanya meyakini, bahwa mereka akan “kuwalat”, kena “karma” atau tertimpa “bumerang” perbuatan mereka sendiri. Kita sama sekali tidak berani memastikan itu. Tetapi mereka sangat gagah berani memastikan bahwa mereka tidak “kuwalat”, pasti tidak terkena “karma” dan mustahil tertimpa “bumerang”. Bahkan mereka berani menjamin keselamatan dan keamanan keluarga mereka, istri, dan anak-cucu mereka. Sehingga mereka dengan sangat heroik dan konsisten terus melakukan itu semua.

Apalagi mereka justru mendulang rezeki duniawi dari kedhaliman itu. Juga, dari spektrum lain, terutama karena sejak dari mindset-nya, semua regulasi institusi modernisme, dari Negara hingga internet, itu tidak merupakan kontinuasi, transformasi, pelaksanaan atau manifestasi dari syariat alam dan manusia yang sudah dikonsep oleh Penciptanya. Tidak ada aturan Negara, Perusahaan atau lembaga apapun di dunia modern ini yang diacukan pada Kitab Suci, baik Qur`an, Injil, Zabur, Taurat, apalagi shuhuf Ibrahim.

فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُۖ وَلَا تَتَّبِعۡ
أَهۡوَآءَهُمۡ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡحَقِّۚ لِكُلّٖ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗاۚ
وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۖ فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ
إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعٗا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ

Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.

Ayat itu mustahil dijadikan acuan pada Sidang Menteri, Pertemuan Internasional Kepala Negara-Negara, PBB, WHO, Bank Dunia, IMF, Apple, Microsoft, Facebook atau apapun saja. Maka saya pun tidak berdaya dan tidak menuntut dunia. Kita semua hanya bisa mewiridkan:

اَللهُ الْكَافِى رَبُنَا الْكَاف قَصَدْنَا الْكَافِى
وَجَدْنَا الْكَافِى لِكُلِ كَافٍ كَفَانَا الْكَافِى
وَنِعْمَ الْكَافِى اَلحَمْدُ لِلهِ
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَصِيْرُ

Dan, mohon izin saya loncat perhatian: di situlah letak penghormatan saya kepada Joko Kamto, aktor Dinasti dan penabuh demung KiaiKanjeng.

Ketika memasuki wacana Surat Al-Kahfi, dengan 309 tahun ditidurkan di dalam gua, dijaga oleh anjing Kithmir yang menggelantungkan kakinya di mulut Gua sehingga berabad-abad lamanya tidak ada orang yang berpikir untuk memasuki Gua itu, Joko Kamto merespons: “Saya tidak GR atau berbusung dada membayangkan diri saya adalah bagian dari Ashabul Kahfi. Saya cukup menjadi kaki anjingnya saja…

Joko tahu bahwa tidak hanya dia. Saya pun paling pol hanya kaki anjing. Semua orang di sekitar Kadipiro yang sangat setia mencintai dan menemani saya, juga hanya kaki-kaki anjing.

Mustahil kaki-kaki anjing berperang melawan kumpulan-kumpulan manusia sedunia yang gagah berani, sakti mandraraguna, serta menguasai medan perang, persenjataan serta cuacanya. Nasib kaki-kaki anjing “mustadl’afin” ini semata-mata hanya kasih sayang dan keadilan. Sampai-sampai, kumpulan kaki-kaki anjing di Kadipiro ini mengemis kepada Allah dengan mewiridkan:

نَدِعَالِيًّا مَظْهَرَالْأَجٰائِبْ
تَجِدْهُ عَوْنًا لَكَ بِالنَّوَائِب
كُلُّ هَمٍّ وَغَمٍّ سَيَنْجَلْ
بِوِلَايَتِكّ يَاعَالِ يَاعَالِ يَاعَالِ

Meskipun penderitaan kami tidak sebanding dengan kepiluan hati dan kesengsaraan jiwa Sayidina Ali bin Abi Thalib yang putra sulungnya mati diracun oleh istrinya sendiri. Sementara adiknya dipenggal kepalanya, dan dikuburkan di dua tempat yang sangat berjauhan antara kepalanya dangan tubuhnya.

Lainnya