Kebon (50)

Kadal Jahlu An Yakuna Percil

Foto: Adin (Dok. Progress).

Komunitas Dipowinatan, Dinasti, Perdikan, KiaiKanjeng dan Maiyah tidak ada pemimpinnya. Memang ada disepakati seseorang berfungsi ini dan seseorang lain berfungsi itu. Fokusnya pada fungsi, atau tugas amal saleh, bukan pada seorang tokoh atau figur pemimpin. Di KiaiKanjeng, Doni Saputra menjadi pengurus latihan, Sariyanto diberi hak menentukan kostum, Imam Fatawi Sekretaris lengkap. Lainnya, terutama yang senior-senior, hanya anggota biasa.

Yang dilaksanakan adalah kepemimpinan bersama. Kebersamaan dalam kepemimpinan. Masing-masing peka dan menemukan porsinya sendiri-sendiri untuk berkontribusi membangun kreativitas dan langkah-langkah musikal. Zakki di Progress diserahi penuh kapan dan ke mana KiaiKanjeng harus pergi dan naik panggung. Saya bagian saja dari kebersamaan mereka semua.

Warga KiaiKanjeng sangat plural. Tidak hanya ragam latar belakang sosial, kultural, dan religiusitasnya. Tapi juga kemampuan bermusiknya. Karakter dan mentalnya. Ketahanan dan kemanjaannya. Ketekunan dan kesantaiannya. Kerajinan dan kemalasannya. Jangan ceramahi mereka tentang “Diversity in Unity”, Bhinneka Tunggal Ika. KiaiKanjeng sudah puluhan tahun bersama-sama memelihara keutuhan dari ragam-ragam itu, keseimbangan dari macam-macam kecenderungannya, serta stabilitas dalam dinamika liarnya. Tetapi tentu saja tidak fair dan bodoh untuk membandingkan KiaiKanjeng yang secuil dengan Indonesia yang berentang-rentang hampir seperlima dunia.

Tetapi saya tidak akan meremehkan landasan dan spektrum berpikir dari pidato PM Inggris dan Walikota Teramo yang saya singgung dalam tulisan berikutnya. Ditambah ‘ilmulyaqin selama ini bahwa qua wacana dan narasi, kosmos pemikiran hingga kebijaksanaan Maiyah tidaklah berskala Indonesia, melainkan dunia.

Bukankah perspektif rahmatan lil’alamin yang menjadi hujjah utama pengurus NKRI di tengah kebingungan mereka mengidentifikasi kekuatan Islam, yang meskipun tidak sama dengan kekuatan Ummat Islam. Dunia Barat, anak cucu Renaissance abad ke-16 Perancis-Italia-Eropa atap tertinggi bangunan peradabannya adalah humanisme, karena mereka lahir dari ketidakjujuran sejarah tentang Nabi, Agama, dan Tuhan. NKRI sebagai pengikut bahkan penyembah utamanya, meskipun sudah bersombong-sombong dengan Pancasila, tetapi seluruh habitat kemasyarakatan dan prinsip kenegaraannya tetap tidak memahami stratifikasi Manusia, Hamba Tuhan, dan Khalifah Allah. Mereka tidak mengerti ilmunya dan tidak mencari sumber otentiknya. Bahkan NKRI tidak mengenal Khalifah, sehingga dengan penuh keangkuhan yang bodoh dan kegagahan yang dungu menolak mentah-mentah Khilafah. Sedemikian rupa “dhaluman jahula”-nya NKRI sehingga hanya dengan kelengkapan ilmu Maiyah tidaklah kita bisa menolongnya.

Kemudian sehari-hari kelas-kelas pembelajaran peradaban Indonesia berisi orang Barat mengajari pluralisme atau keberagaman, dan semua “murid peradaban” Barat itu bersikap ta’dhim luar biasa. Sampai-sampai sejak merencanakan kemerdekaan sebelum 1945 dulu segala-galanya kita ambil dari Barat. Terutama prinsip dan sistem Demokrasi yang menjadi “Agama NKRI” sampai hari ini.

Entah berapa kali saya menulis komunitas-komunitas tradisional dan kuno bangsa kita dulu spektrum pemahaman demokrasinya sudah jauh lebih luas dibanding cara berpikir Barat. Suku Ammatoa di Sulawesi Selatan setelah penduduk manusia memilih tiga calon pemimpin, mereka menyerahkan calon-calon itu kepada alam. Bisa tawon atau lebah. Bisa kerbau. Atau apapun saja. Sebagaimana ketika Rasulullah mencari sumber air di Madinah, beliau menyerahkannya kepada naluri seekor onta. Sedemikian pekok-nya manusia sekarang ini sehingga menyangka onta, cebong katak, dan kadal gurun adalah lambang kebodohan, sehingga akhirnya mereka benar-benar menjadi cebong dan kadal gurun. “Kadal faqru an yakuna kufron, wa kadal jahlu an yakuna cebong”.

Kerbau dilepas dan secara terbimbing oleh langit ia akan berjalan menuju salah satu rumah calon, sehingga diteguhkan menjadi Kepala Suku. Atau lebah-lebah akan menyerbu tiga calon. Yang kesakitan tidak punya kekuatan dan ketahanan untuk menjadi pemimpin. Yang disengat ratusan lebih tapi tetap tidak terluka serta tidak merasakan apa-apa, bahkan lebah-lebah itu berjatuhan dan mati sesudah menyengat: kesaktian calon yang itu dianggap berbahaya bagi warga. Yang lulus menjadi pemimpin adalah yang disengat lebah bisa menahan sakit dan lebahnya tetap hidup. Ia siap kesakitan tanpa menyakiti.

Dunia Barat memahami demokrasi hanya menyangkut manusia. Tuhan dilibatkan sebagai “Dia” atau orang atau pihak ketiga yang berposisi pelengkap penderita. Sementara bangsa Jawa dan Indonesia menggendong demokrasi dari dan untuk segala makhluk, dari Demit hingga Malaikat, dari serangga hingga Dajjal, dari Kalajengking hingga Iblis, dari Ya’juj Ma’juj hingga Glundung Pringis, Jailangkung, Kaki Tiga, Banaspati, dan Kemamang. Dan utamanya pasti Tuhan sendiri dengan pasukan Malaikat-Nya serta Rasul dan Nabi-Nabi representator-Nya.

Bangsa Indonesia menjadi manusia yang terbalik-balik, meracik hal-hal yang mudlarat kalau diracik, mencampur nilai-nilai yang menghasilkan bius zaman atau racun sejarah, memecah belah sesuatu yang harus dipersatukan dan mempersatukan sesuatu yang seharusnya dibiarkan terpilah-pilah. Salah satu sumber sebabnya adalah karena mereka berguru kepada sumber ilmu dan narasi kehidupan yang penuh bermuatan dilema dan bumerang namun mereka Tuhankan.

Puisi “Nyanyian Gelandangan” 1976-1981 Musik-Puisi Karawitan Dinasti tidak sengaja telah mengucapkan indikatornya: 

Jabang bayi jantan betina!
Inikah yang disebut gelagat jaman yang luwes, warna yang samar, atau pelajaran bagaimana memahami inti nilai yang lebih tersembunyi?!
Hari-hari berputar kita terserimpung dari engsel dalam roda mesin yang lancar
Ketika makin jelas bahwa hidup adalah pentas Barong yang tidak pernah bubar-bubar
Kita terhimpit beku dalam lingkaran setan, karena itu berdoalah semoga malaikat juga sempat bikin-bikin lingkaran

Hei… ini Gereja, ini Masjid, ini Kuil, ini Diamond Night Club, ini Negara itu Agama, ini penari-penari bugil itu akil-wakil rakyat, ini peradaban tinggi itu kehancuran yang dianggap siluman, ini kultur ultra modern itu primitivisme dan ultra-Jahiliyah, ini hak asasi manusia itu daging kehormatan perempuan, dengan dua ribu perak silahkan pesan.

Lainnya